Tampilkan postingan dengan label rahasia bisnis online. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rahasia bisnis online. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2011

Wirausaha 2011

Salah satu warga di kampungwirausaha memiliki produk kesehatan yang benar-benar bagus hasil produksi dalam negeri terbukti khasiatnya, murah, tanpa resiko, dan repeat order produk yang tinggi.

Kini kita semua juga bisa merasakan khasiat dari produk-produk herbal itu melalui Hawa Sabun Herbal milik salah satu warga kampungwirausaha.

Sifat keagenan terbuka luas, bagi siapapun di seluruh tanah air dapat segera mengambil peluang bisnis baru ini. Bahkan kami memberikan garansi untuk Anda semua yang berminat menjadi agen karena memang produk ini tidak memiliki masa berlaku.

Harga User per batang : Rp 8.000,-

Harga agen per batang : Rp 6.500,- minimum pemesanan 100 batang.

Kunjungi www.sabunherbalku.com untuk informasi lebih lengkap.


Indonesia adalah negara yang begitu kaya tanaman obat berkhasiat. Kekayaan ini pun bahkan tersohor hingga pelosok dunia. Dikaji dari sisi historisnya pun, popularitas khasiat obat herbal telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita. Namun meski secara historis telah dimanfaatkan sejak lama, secara umum pengetahuan ilmiah tentang karakteristik obat bahan alam masih relatif terbatas. Keterbatasan terhadap pengetahuan ini membutuhkan upaya penelitian lebih mendalam.

Zaman dahulu, nenek moyang kita sering menggunakan bahan alami untuk menjaga kesehatan dan kecantikannya. Mereka meminum jamu racikan yang alami dari tumbuhan herbal untuk menjaga kesehatan. Menggunakan lulur dan masker dari mangir, kunyit, tepung beras, dan buah-buahan untuk menjaga kecantikan kulit.

Ada 21 khasiat dan aroma yang di ramu dan di racik dari ekstrak tumbuhan dan bahan-bahan herbal membuat sabun ini sangat diminati.

1. Lulur : Menghaluskan dan mengangkat Sel kulit Mati

2. Susu : Memutihkan, mencegah flek dan kaki pecah – pecah

3. Pegagan : Mencegah dan mengurangi selulit.

4. Apel : Mencegah kerut dan komedo pada kulit

5. Bengkoang : Memutihkan kulit

6. Coklat : Mengangkat sel kulit mati

7. Ketimun : Mengencangkan dan mengurangi kadar minyak pada kulit

8. Kopi : Membantu menyembuhkan luka

9. Kunyit : Menghilangkan jamur, gatal dan kutu air

10. Madu : Meremajakan kulit dan menghilangkan flek

11. Sereh : Menghilangkan capek, pegal dan gejala rematik

12. Sirih : Menyegarkan dan menghilangkan bau badan

13. Zaitun : Melembabkan dan menghaluskan kulit

14. Wortel : Mencegah kanker kulit

15. The Hijau : Membuat kulit bersinar

16. Lengkuas : Membasmi jamur dan panu pada kulit

17. Anggur : Membantu melarutkan lemak dan melangsingkan tubuh

18. Strawberry : Mengencangkan otot payudara dan kulit

19. Kemangi : Mengharumkan dan merawat organ vital wanita

20. Alpokat : Melembabkan dan merawat kulit

21. Limau : Menghilangkan jerawat

Sifat keagenan terbuka luas, bagi siapapun di seluruh tanah air dapat segera mengambil peluang bisnis baru ini. Bahkan kami memberikan garansi untuk Anda semua yang berminat menjadi agen karena memang produk ini tidak memiliki masa berlaku.

Harga User per batang : Rp 8.000,-

Harga agen per batang : Rp 6.500,- minimum pemesanan 100 batang.

Kunjungi Websitenya untuk info lebih lengkap : www.sabunherbalku.com

Kamis, 28 April 2011

WIRAUSAHA Resep Kue Kering Lebaran

Kue Kering yang satu ini namanya Kue Kering Janhagel. Udah pada tau kan??? Kue kering ini merupakan salah satu kue warisan Oma-oma kita sedari dulu. Klasik dan rasanya pun sangat gurih. Taburan kenarinya bikin rasanya makin mantappp….
Resep BahanKue Kering Janhagel :

  • Tepung terigu protein rendah 250 gram
  • Gula halus 150 gram
  • Margarine forvita 135 gram
  • Roombutter 15 gram
  • Air es 50 ml
  • Kenari 75 gram, sangrai, cincang
  • Kenari 75 gram, sangrai, iris panjang tipis
  • Gula pasir 3 sendok makan
  • Kuning telur 3 butir, kocok

Cara membuat Kue Kering Janhagel :

  1. Campur margarine forvita, roombutter, terigu dan gula halus. Aduk dengan 2 buah pisau hingga berbutir.
  2. Tambahkan kenari cincang dan air es sedikit demi sedikit hingga adonan dapat dipulung.
  3. Ambil loyang persegi berukuran 20x20x4 cm bersemir margarine forvita dan bertabur terigu. Gilas adonan hingga setebal 3 mm. Masukkan adonan dalam loyang sambil ditekan, ratakan.
  4. Olesi permukaan adonan dengan kuning telur hingga rata.
  5. Taburi bagian atasnya dengan kenari dan gula pasir.
  6. Panggang adonan dalam oven bersuhu 150°C hingga setengah matang selama ±15-20 menit.
  7. Keluarkan kue dari oven, kerat kue dengan ukuran 3×6 cm.
  8. Sajikan.

Untuk 600 gram.

Selamat mencoba…

WIRAUSAHA Resep Aneka Kue Kering Lebaran

waralaba Resep kue nastar, bisnis on line ini saya berikan untuk anda karena kue nastar sangat enak dan bergizi tinggi karena isi dari kue nastar tersebut dari nanas, dan nanas sendiri memang sangat bagus untuk bisnis gratis tubuh karena mempunyai kandungan vitamin c. Untuk anda yang mau download resep kue nastar anda cari duit di internet bisa download resep ini :

Bahan resep Kue Nastar

250 g tepung terigu
30 g tepung maizena
200 g mentega
20 g susu bubuk (B)
60 g gula halus
2 butir kuning telur
1/4 sdt garam halus
Cengkih untuk hiasan

Olesan Kue Nastar , aduk rata :

3 butir kuning telur
1 sdm susu bubuk, larutkan dengan 2 sdm air (I)

Selai Nanas untuk Kue Nastar:

400 gr nanas matang, parut
200 g gula pasir
3 buah cengkih (Y)
1/4 sdt bubuk kayu manis
1/4 sdt garam halus

Cara Membuat Selai Nanas untuk kue nastar

1. Campur parutan nanas, gula pasir, kayu manis, cengkih dan garam, aduk rata.
2. Panaskan campuran adonan selai dan aduk terus sampai berbentuk selai kental. :-)
3. Angkat dan dinginkan

Cara Membuat Nastar Nanas:

1. Campurkan tepung terigu, tepung maizena dan susu bubuk. Aduk rata.
2. Masukkan gula halus, kuning telur, mentega dan garam dalam adonan tepung. Aduk dengan garpu sampai berbentuk adonan yang berbutir-butir.
3. Padatkan adonan tadi dengan tangan sampai bisa dibentuk.
4. Ambil sedikit adonan dan bentuk menjadi bulatan. Pipihkan bulatan tadi dan isi tengahnya dengan 1/2 sendok teh selai nanas. Bulatkan lagi. (H)
5. Letakkan bulatan nastar diatas loyang yang udah diolesi mentega. Olesi permukaan dengan bahan olesan. Letakkan satu buah cengkih diatas bulatan nastar.
6. Panggang kue dalam oven bersuhu 150°C selama 20 menit atau hingga kue berwarna kuning kecokelatan. Angkat, dinginkan.
7. Simpan dalam stoples kedap udara.

Selamat mencoba
online bisnis untuk resep kue nastar nanas, moga-moga saja postingan ini membantu anda untuk bisnis online membuat resep kue oke.

Senin, 18 April 2011

Resep Kue Donat Siram Cokelat

Untuk tahap pertama ini aku ulas mengenai apa yg sebaiknya dilakukan untuk memulainya, namun sekali lagi tidak setiap orang dapat memahami cara yg aku lakukan, semoga tulisan ini dapat bermanfaat.

Hal utama dalam setiap kegiatan akan lebih baik bila dimulai dari sesuatu yang kita sukai/hobi, karena hal itu sudah merupakan suatu modal untuk melakukan seuatu kegiatan yg bisa dijadikan usaha yang serius.

Contohnya : aku punya teman hobi sekali mancing sejak kecil, pulang sekolah mancing, liburan mancing, pkoknya ada waktu luang mancing. Semua orang udah mikir nich anak nggak ada kerjaan amat ya. Sampai mulai remaja dan tamat SMA hobi itu nggak berkurang tapi semakin menjadi-jadi. Dg gelar sarjana ekonomi yang dia sandang, apakah dia kerja dikantor, ternyata tidak. Lalu apa yang dia kerjakan, apakah dia bisa hidup, ternyata sekarang dia sudah kaya raya, punya 3 toko alat mancing, punya 2 tempat pemancingan yang menghasilkan cukup banyak uang, dia punya 2 tambak ikan bandeng dan dia pun punya home industry ikan asin.

Apakah teman-teman yg dulu suka membicarakan hobi dia itu tetap bilang dia nggak ada kerjaan. Waktu aku ketemu dan tanya kerja dimana sekarang, dia bilang : ya nggak jauh-jauh dari mancing lah des. Nah saat dia tanya juga, kamu sekarang kerja dimana, aku juga bilang : ya nggak jauh2 dari pasar dan dapur lah. Kami akhirnya ketawa sama-sama waktu cerita tentang kehidupan masing2 dan akhirnya kita bilang, untuk anak2 kita kelak biarkan mereka memilih hidup sesuai keinginan, kita support saja dengan baik, jangan memaksakan kehendak ke mereka.

Kalo ada yang bilang, wah aku tidak hobi buat kue. Sebenarnya hobi itu setara dengan senang, senang setara dengan keberhasilan, sementara keberhasilan setara dengan usaha. Jadi intinya jika kita tidak hobi, coba kita senangi dulu, jika sudah kita senangi kemudian kita jadi ingin mencoba tentu saja namanya mencoba adalah berusaha untuk berhasil dan saat mencoba ternyata berhasil akan menjadi suatu kesenangan lagi, kesenangan itu akan menjadi lebih senang jika ada nilai ekonominya walaupun di tingkat paling rendah, misal cukup untuk cemilan keluarga, ini tidak sekedar cukup tapi punya nilai ekonomi, jika kita beli cemilan sore untuk keluarga keluar dana Rp.20.000,- ternyata waktu kita buat hanya perlu modal Rp.10.000,- berarti kita sudah hemat Rp.10.000,- kan?

Nah berarti langkah pertama kita adalah : mencoba. Ambil salah satu resep kue kering, coba buat ½ resep dulu. Jangan pernah terpaku pada resep apapun, jadi kalo kira2 hasil resep pada saat kita coba koq rasanya kurang manis ya, ya kita harus menambah gula, mungkin saja timbangan pembuat resep beda dgn kita atau jenis gulanya beda.

Setelah jadi, coba berikan kepada keluarga dekat atau tetangga dulu, tunggu respon mereka. Saat itu sebenarnya sudah mulai jualan, kita sudah mesti bisa memberikan harga. Kemudian coba lagi resep yg lain dengan cara yang sama, buat beberapa pilihan kue kering. Setiap kenalan yg datang ke rumah atau kita pergi kemana saja, usahan bawa sample kue. Aku juga dulu begitu, mulai tetangga, saudara, teman di sekolah anak, teman suami di kantor. Dari sana kita bisa mulai mempelajari jenis mana yang disukai oleh pembeli.

Jika ada yang bilang lagi : mesti beli alat-alat ya. Tentu saja, kita mau usaha apapun itu memang membutuhkan alat namun bisa kita minimalis. Misal beli oven yg kaleng dulu yang ukuran kecil, atau oven listrik yg sekala rumah tangga, beli mixer yang hand saja dulu.

Bisnis Kue Donat Resep Kue Kering

Peluang Usaha Bisnis Kue Kering | Ini adalah usaha atau bisnis yang selalu propsektif menjelang hari raya baik itu Lebaran, Natal atau hari raya dan perayaan agama lainnya. Untuk saat ini tentunya menyambut hari raya lebaran idul fitri 2010 . Kue kering salah satu makanan favorit sebagai suguhan dan banyak peminatnya menjelang lebaran. Orang cenderung pengin yang tidak ribet dalam menyambut hari raya atau juga karena keterbatasan waktu dan kurangnya pemahaman tentang pembuatan kue kering.

Jadi tidak semua orang bisa meluangkan waktunya untuk membuat kue kering sendiri . Inilah peluang yang harus di manfaatkan untuk memulai bisnis kue kering bagi anda yang punya waktu luang dan bisa membuat kue. Peluang lain yang terbuka adalah menjadi reseller kue lebaran . Berikut strategi dan Tips untuk memulai usaha kue kering :

Anggaplah sebagai Hobby . Bagi Anda yang sudah hobbi atau Anda yang sudah memiliki keahlian dalam membuat kue kering itu merupakan salah satu modal untuk memulai bisnis ini. Bagi Anda yang masih baru dibidang ini modal utamanya adalah kemauan dan Anda menyenangi pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Cari Banyak Informasi . Anda yang belum memiliki keahlian dalam membuat kue kering carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang pembuatan kue kering yang praktis dan murah salah satunya dengan membeli tabloid yang berisi aneka tips dan resep-resep seputar kue kering, mengumpulkan resep-resep kue kering dari beberapa sumber seperti dari koran, majalah dan televisi atau Anda bisa belajar langsung membuat kue kering dari teman atau saudara buatlah catatan kecil untuk mencatat resep tips dan langkah-langkah dalam pembuatannya.

Buatlah TESTER .Tester atau contoh kue kering yang akan Anda pasarkan pada kerabat, tetangga dan teman kantor baik teman kantor suami atau teman kantor teman lain. Ini cukup menetukan , biasanya orang cenderung melihat rasa baru harga . Lampirkan juga brosur yang berisi daftar nama kue kering yang Anda tawarkan lengkap dengan satuannya perkilo atau pertoples dengan harganya dan alamat serta nomor telepon yang bisa dihubungi untuk pemesanan. Sebaiknya tester atau contoh kue kering dan brosurnya Anda bagi-bagikan satu bulan sebelum hari raya agar penawarannya bisa maksimal. Lakukan juga promosi via internet baik di facebook , tweeter atau membikin website .

Effisien mengeluarkan modal awal. Untuk tahap awal kurangi biaya-biaya yang kurang penting agar Anda tidak terlalu berat dalam mengeluarkan modal di awal-awal usaha, misalnya untuk membeli oven listrik atau mesin-mesin lainnya. Maksimalkan penggunaan alat dapur atau alat-alat dalam pembuatan kue yang sudah Anda miliki, bila alat-alat yang Anda miliki kurang Anda bisa meminjamnya dari teman atau saudara yang sementara tidak menggunakan alat-alat tersebut.

Lakukan Survey Pasar .Sebelum memulai bisnis ini, sebaiknya lakukan survey pasar untuk mengetahui daya beli mereka, target pasar atau pemasaran kue kering Anda segmennya pada siapa saja, untuk tahap awal pemasaran bisa Anda lakukan pada tetangga, teman kantor, atau mencoba menitipkannya pada toko-toko makanan. Lalu mencoba memproduksi kue kering dengan biaya produksi yang lebih rendah dari harga jual. Agar harga jual kue kering Anda bisa bersaing.

Perhatikan Kualitas Bahan . Anda harus yakin bahwa produk Anda aman untuk dikonsumsi serta mendatangkan keuntungan. Maka Anda harus menggunakan bahan-bahan yang berkualitas atau gunakan bahan-bahan yang masa kadaluarsanya masih lama jangan menggunakan bahan-bahan yang sudah kadaluarsa untuk mendapatkan untung yang banyak tetapi bisa membahayakan kesehatan.

Bikin Inovasi Kue Baru . Buatlah kue kering yang belum ada di pasar atau buat kue kering Anda memiliki ciri khas sehingga memiliki perbedaan dari yang lain. Ciri khas bisa kita peroleh dengan mencari ide-ide baru baik dengan penambahan bahan, bentuk yang lucu, dan rasa yang lezat untuk menghasilkan produk yang lebih variatif. Lakukan kontrol dengan ketat terhadap resep dan penggunaan bahan-bahan baku yang Anda gunakan untuk rasa produk yang konsisten.

Perhatikan Kemasan Kue . Jika Anda memulai menjalankan usaha kue kering ada hal lain yang penting Anda pikirkan yaitu kemasan yang menarik untuk memberi nilai lebih pada kue kering produksi Anda. Kemasan yang cocok untuk kue kering adalah toples kedap udara atau toples mika dengan penambahan selotip agar toplesnya rapat. Disain atau dengan sedikit penambahan ornament lainnya sehingga bisa lebih terlihat menarik sehingga meningkatkan penjualan.

Perhatikan Skala Produksi.Tahap awal memulai usaha kue kering, Anda perlu memikirkan skala produksi dan modal usaha yang diperoleh. Untuk menekan resiko, pada awalnya buatlah kue dalam jumlah yang sekiranya dapat kita jual. Kalaupun tidak terjual, kita bisa manfaatkan sebagai oleh-oleh pulang kampung dan dibagikan kepada sanak saudara. Bukankah ini lebih baik? Sambil meyelam minum air, sambil belajar kita juga bisa bersedekah dan dijamin lebih irit karena kalau kita membeli pasti akan lebih mahal dibandingkan membuat sendiri. Jadi potensi besar, resiko kecil bukan?

PD . Percaya diri merupakan hal terpenting dalam memulai suatu usaha, jangan khawatir dan berkecil hati dengan persaingan yang banyak, karena setiap usaha memiliki pasar yang berbeda dan segmen pasar yang luas sehingga usaha kue kering ini masih bisa prospek dan berkembang mengikuti trend yang ada.Bila bisnis ini berkembang dan mendapatkan keuntungan yang lebih, tidak ada salahnya usaha ini bisa Anda lanjutkan dan teruskan tidak hanya berhenti setelah hari raya saja, melainkan bisa lebih berkembang dan berkelanjutan.

Selain strategi kita juga harus melakukan analisa usaha, diantaranya sebagai berikut:

Buatlah daftar bahan-bahan yang diperlukan untuk produksi dan kemasan untuk kue kering. Buatlah perincian serinci mungkin bahan yang diperlukan, lalu lakukan survey harga dipasar untuk saat ini untuk mendapatkan perhitungan harganya tepat dan akurat.

Rincilah peralatan yang diperlukan dalam pengelolaan kue kering. Setiap tahapan yang dilakukan perlu di rinci barang yang diperlukan. Hitung biaya yang diperlukan dalam melakukan promosi atau pemasaran, termasuk biaya tester kue kering, transportasi untuk menyebarkan contoh dan brosur.

Menetapkan harga jual yang bersaing. Dalam menentukan harga jual perlu diperhitungkan biaya bahan baku pembuatan, dan biaya tenaga kerja untuk tingkat keterampilan yang digunakan dalam membuat aneka kue kering.

Memperkirakan berapa keuntungan yang diperoleh. Besarnya keuntungan dihitung dari selisih besarnya penerimaan dan biaya operasional tiap periode.

Kamis, 31 Maret 2011

Resep Kue akar Kelapa Keju

Kue akar kelapa biasanya cuma kita temui pas lebaran saja. Seperti halnya kue nastar, putri salju, kue akar kelapa pada umumnya di buat manis. Nah, karena bosen dengan yang “manis-manis” sekarang kita coba yuk buat kue akar kelapa yang gurih renyah. Resep kue akar kelapa Keju, demikian nama kue asli Indonesia ini, saya dapat dari Buku Koleksi resep hidangan Muslim oleh Mbak Badiatul Muchlisin Asti. Baik dari bahan hingga cara pembuatan kue Akar kelapa keju ini asli praktis banget dan wajib jadi pokoknya. Gak percaya, yuk kita tengok resep kue akar kelapa keju berikut ini,
Bahan kue akar kelapa keju

150 gr kelapa setengah tua
75 gr keju cheddar panas
220 gr tepung ketan
25 gr tepung kanji
5 telur
1 1/2 sdt garam
1 liter minyak goreng
Cara membuat kue akar kelapa keju

Kelapa diparut kasar terlebih dahulu, lalu disangrai. Kocok telur sampai menyatu, masukan garam dan keju aduk sampai rata. Tambahkan tepung ketan dan tepung kanji Aduk lagi sampai rata. Setelah adonan jadi, masukkan adonan kedalam plastik yang diberi cetakan bintang. Cetak kedalam minyak dingin sepanjang kira-kira 7 – 10 cm (tergantung selera). Goreng adonan hingga mengembang, dinginkan api sehingga matang merata.

Sumber gambar:
[1] http://us.images.detik.com/content/2008/09/24/482/akarkelapacontent.jpg

Minggu, 26 Desember 2010

UKM Sukses: Kedai Digital

Berbeda dengan generasi akhir 1990-an dan awal 2000-an yang umumnya terjun menjadi wirausahawan karena sulit mencari kerja akibat krisis ekonomi yang tengah melanda, generasi pengusaha muda berumur 20-an tahun saat ini tampak memiliki keyakinan diri yang lebih besar. Mereka sejak semula bersungguh-sungguh ingin menjalani hidup sebagai entrepreneur. Salah satu di antaranya adalah Saptuari Sugiharto. Lelaki berusia 29 tahun itu telah mulai berbisnis kecil-kecilan sejak kuliah di Jurusan Geografi Universitas Gadjah Mada. Tahun ini, ia terpilih sebagai runner-up Wirausahawan Muda Mandiri 2007.

Sejak masuk kampus UGM pada 1998, Saptuari telah mendambakan memiliki usaha sendiri. Sembari kuliah; beberapa usaha dijalaninya; mulai dari menjadi penjaga koperasi mahasiswa, penjual ayam kampung, penjual stiker, hingga sales dari agen kartu Halo Telkomsel. Lalu, pada 2004, ketika bekerja sebagai event organizer di sebuah perusahaan di Yogyakarta, mantan staf marketing Radio Swaragama FM ini terperanjat melihat antusiasme penonton berebut merchandise berlogo atau bergambar para selebriti. “Heran. Kenapa orang-orang begitu bersemangat mendapatkan kaus, pin, atau apa saja milik artis,” katanya. “Padahal, mereka bisa membuat merchandise apa saja sesuai dengan kemauannya.”

Bermula dari rasa heran itu, pada 2005 Saptuari mengambil langkah berani mendirikan Kedai Digital. Perusahaan itu bertujuan memproduksi barang-barang cendera mata (seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto dan poster keramik, serta banner) dengan hiasan hasil print digital. Waktu itu, ia bermodalkan uang sebanyak Rp28 juta; hasil dari tabungan, menjual motor, dan menggadaikan rumah keluarga.

Butuh waktu enam bulan bagi lelaki kelahiran Yogyakarta itu untuk memulai kegiatan Kedai Digital. Terlebih dahulu, ia mesti mencari mesin digital printing. Ia mendapatkannya (buatan China) di Bandung. Ia juga harus mencari tahu sumber-sumber bahan baku. Kemudian, ia harus mempersiapkan tempat usaha, menyusun konsep produk, dan merekrut para staf. Semuanya dilakukan sendirian.

Bisnisnya berjalan pelan tapi pasti. Ketika usahanya mulai stabil, Saptuari memberanikan diri merekrut desainer dari kampus-kampus seni yang memang tersedia cukup banyak di Yogyakarta. Untuk tenaga marketing, digunakan para mahasiswa dari perguruan tinggi lain yang juga tersebar di kota itu. Target pasar Kedai Digital adalah para mahasiswa. Karenanya, menurut Saptuari, perusahaannya tak boleh main-main soal kualitas. Karena itu, ia mesti menggunakan desainer yang memiliki latar belakang pendidikan formal.

Pada tahun pertama, Kedai Digital telah berhasil meraih penjualan sebesar Rp400 juta. Tahun berikutnya, perolehan bisnis melesat menjadi Rp900 juta. Seiring dengan pertambahan outlet, revenue pada 2007 menembus angka Rp1,5 miliar.

Hingga akhir tahun silam, Kedai Digital telah memiliki delapan gerai di Yogyakarta. Salah satunya adalah Kedai Supply yang menyediakan bahan baku untuk kebutuhan produksi di seluruh outlet lainnya. Sementara itu, gerai Kedai Printing dikhususkan melayani pesanan produk-produk advertising seperti banner. Di luar Yogyakarta, Saptuari telah memiliki lima outlet lain (di Kebumen, Semarang, Tuban, Pekanbaru, dan Solo) melalui sistem waralaba.

Menurut Nur Alfa Agustina, Kepala Departemen MikroBisnis Group Bank Mandiri (penyelenggara Wirausahawan Muda Mandiri), di antara 500 peserta yang mengikuti lomba, Kedai Digital dinilai inovatif karena merupakan pelopor industri merchandise dengan metode digital printing di wilayah Yogyakarta. Untuk penilaian dari sisi bisnis, Saptuari mendapat nilai lebih karena bukan berasal dari keluarga pengusaha. Pendidikannya pun tak terkait dengan ilmu ekonomi. Lalu, karena melibatkan banyak mahasiswa dalam menggerakkan usahanya dan mengajarkan mereka soal entrepreneurship, lelaki bertubuh kekar itu mendapat nilai yang tinggi dalam penilaian aspek sosial.

Soal yang terakhir itu, Saptuari memang mengajak para pegawainya yang berperilaku baik untuk ikut memiliki saham di outlet-outlet Kedai Digital. Kini, telah empat kedai yang sahamnya ikut dimiliki para pekerja. “Saya tak mau mereka terus-terusan hanya menjadi pekerja. Mereka juga harus menjadi owner,” katanya.

Semangat wirausaha telah ikut disebarluaskan.

dikutip dari:

http://www.purdiechandra.net/gara-gara-purdi/2010/02/saptuari-sugiharto-kedai-digital/

Minggu, 28 November 2010

wirausaha tentang Pembuatan Kerajinan Tembaga dan Kuningan


Membuat Barang-Barang Kerajinan memang tidak instant dan tidak mudah, terutama kerajinan kuningan dan kerajinan tembaga. Proses pembuatan kerajinan kuningan terbilang cukup panjang dan melalui beberapa tahapan proses yang panjang pula. Semua dilakukan agar produk kerajinan tembaga yang dihasilkan juga maksimal dan bernilai seni tinggi.

Pembuatan Kerajinan dimulai bukan dari membentuk suatu kreasi menjadi sebuah produk seni namun dimulai dari membuat ide, menyiapkan copper atau tembaga dan kuningan atau brass yang berupa plat tembaga dan kuningan. Setelah bahan baku sudah terkumpul, mulailah tahap produksi yaitu menyalurkan ide kedalam copper plate atau brass plate.

Proses pemahatan dan pengukiran tembaga tidak seperti memahat atau mengukir kayu, jelas sekali bahwa tembaga memiliki tingkat kekerasan yang jauh berbeda dibandingkan dengan kayu. Namun dengan keahlian dan kesabaran, copper craftmen dapat menghasilkan karya seni yang bernilai artistik tinggi.

Setelah brass and copper selesai dipahat dan diukir, tahap selanjutnya adalah melakukan finishing. Finishing disini bukan berarti memberi warna saja, namun juga mengamplas dan memperhalus tekstur dari produk kerajinan tersebut. Proses pengamplasan dimaksudkan juga agar nantinya saat pengecatan, cat dapat menempel sempurna pada plat tembaga.

Setelah semua proses diatas selesai, tahap terakhir adalah penjemuran. Sampai disini produk kerajinan sudah selesai dan siap untuk dipesan ataupun dikirim ke pelanggan. Bagaimana ingin mencoba?

Minggu, 17 Oktober 2010

PELUANG WIRAUSAHA BARU Usaha Bumbu Masakan


Bumbu masakan menjadi satu bukti baru bahwa segala sesuatu bisa jadi peluang usaha, jika kita jeli dalam melihat kebutuhan masyarakat sekitar. Banyak para ibu serta pelaku bisnis makanan yang selalu menggunakan bumbu masakan dalam setiap menu yang mereka sajikan. Namun tidak semua konsumen ternyata bisa membuat bumbu masakan untuk resep yang ingin mereka masak, selain itu banyak pula konsumen yang tidak memiliki banyak waktu untuk memasak dengan membuat bumbu secara manual menggunakan ulek maupun di blender.

Keadaaan ini ternyata dijadikan beberapa orang sebagai peluang usaha dengan prospek yang sangat besar. Saat ini membuka usaha bumbu masakan yang langsung bisa dipakai untuk memasak atau yang sering disebut dengan beumbu instan, memang berpeluang besar untuk meraup keuntungan. Banyaknya minat konsumen baik dari konsumen individu maupun konsumen industri yang menggunakan bumbu masakan instan menjadi keuntungan besar bagi usaha ini.

Konsumen

Penjual bumbu masakan instan banyak dicari para ibu rumah tangga, remaja putri, serta para pelaku usaha makanan yang membutuhkan bumbu instan untuk mempermudah proses produksi usahanya. Kemudahan yang diperoleh dengan adanya produk bumbu masakan instan ternyata disambut positif oleh para masyarakat, baik masyarakat kalangan menengah maupun masyarakat kalangan atas tertarik dengan penawaran bumbu masakan tersebut.

Info Produk

Produk bumbu masakan instan terbagi menjadi dua jenis yaitu jenis bumbu basah dan jenis bumbu kering. Jenis bumbu bahas biasanya tidak seawet bumbu jenis kering. Contoh bumbu basah antara lain bumbu opor, bumbu soto, bumbu rendang, lombok halus, dan bawang halus, yang sering digunakan para ibu rumah tangga maupun para pelaku usaha catering, rumah makan, dan restoran. Sedangkan bumbu kering biasanya lebih mengarah ke bumbu perasa atau penambah aroma, contohnya saja bumbu aroma barbeque, aroma daging ayam, aroma daging sapi, aroma jagung bakar, serta bumbu perasa lainnya yang lebih sering digunakan untuk memberi tambahan rasa dan aroma untuk makanan ringan atau camilan.

Untuk produk bumbu, dapat dikemas dengan kemasan yang beragam. Dari mulai kemasan plastik, hingga kemasan botol yang menarik para konsumen. Selain itu kemasan juga bisa disesuaikan, dengan memasarkan berbagai ukuran agar konsumen dapat menyesuaikan daya beli mereka sesuai dengan kebutuhan mereka.

Keuntungan usaha

Peluang pasar usaha bumbu masakan masih sangat luas, banyaknya pelaku usaha yang terjun pada bisnis makanan menjadi target pasar empuk bagi pelaku bisnis bumbu masakan. Karena semakin banyak pelaku bisnis makanan, maka semakin banyak pula permintaan bumbu masakan instan yang diminta pasar. Selain itu untuk memulai bisnis ini juga tidak diperlukan modal yang terlalu besar, namun mampu menghasilkan keuntungan hingga 50 % dari omset.

Kekurangan usaha

Setiap usaha memiliki resiko yang menjadi kekurangan dari usaha tersebut, salah satu kekurangan usaha ni yaitu harga bahan baku yang tidak stabil dan cenderung lebih sering harganya naik. Selain itu jika harganya naik, biasanya bahan baku tersebut susah untuk dicari jika ada pun kualitasnya tidak terlalu bagus. Di samping itu, terkadang produk bumbu yang dibuat kadaluarsa sebelum waktunya. Biasanya disebabkan proses produksi yang kurang steril, maupun bahan baku yang kurang bagus.

Pemasaran

Untuk pemasaran bumbu masakan bisa dilakukan dengan menitipkan di toko – toko yang ada di kota Anda, untuk menjangkau konsumen akhir yang biasanya dari konsumen rumahan. Sedangkan untuk menjangkau konsumen industri, dapat dicoba bekerjasama dengan beberapa pelaku usaha makanan seperti usaha restoran, katering, serta produsen camilan yang membutuhkan bumbu perasa untuk produknya.

Selain itu promosi juga bisa dilakukan dengan memasang iklan di media cetak, media elektronik, samapi media online untuk memperluas jangkauan pasar.

Kunci Sukses

Agar usaha Anda dapat berkembang, sebaiknya untuk produksi pilihlah bahan baku yang masih segar. Sehingga cita rasa bumbu yang dihasilkan sama dengan bumbu yang baru saja dihaluskan. Selain itu jaga proses produksi untuk selalu dalam keadaan higienis, sehingga keawetan bumbu bisa lebih lama. Untuk kemasan, pilihlah kemasan yang menarik namun juga sehat bagi para konsumen.

Analisa Usaha Contoh usaha membuat bumbu nasi goreng : Modal awal Blender 1 buah                Rp 400.000,00 Baskom 2 buah @ 20.000,00     Rp  40.000,00 Timbangan digital 1 buah      Rp 400.000,00 Stapler                       Rp  30.000,00+ Total                         Rp 870.000,00 ( Penyusutan alat selama pemakaian 1 tahun  = 1/12 x Rp 870.000,00 = Rp 72.500,00 )  Biaya Operasional Bahan baku bumbu nasi goreng untuk 900 kemasan : Bawang merah dan putih 5 kg x 15.000,00  Rp   75.000,00 Ketumbar ½ kg x Rp 20.000,00             Rp   10.000,00 Garam 1 kg x 8.000,00                    Rp    8.000,00 Cabe merah 5 kg x 20.000,00              Rp  100.000,00 Merica halus ½ kg x 60.000,00            Rp   30.000,00 Tomat 3kg x @ 7.000,00                   Rp   21.000,00 Minyak goreng 10 kg x @ Rp 10.000,00     Rp 100.000,00+ Total                                    Rp 344.000,00  Keperluan operasional Plastik                            Rp  50.000,00 Stiker / brand                     Rp  50.000,00 Transportasi                       Rp 100.000,00 Listrik                            Rp 100.000,00 Biaya penyusutan alat              Rp  72.500,00+ Total                              Rp 372.500,00 Total biaya operasional Rp 344.000,00 + Rp 372.500,00  =   Rp 716.500,00 Omset per bulan 30 bungkus / hari x Rp 1.800,00 x 30 hari = Rp 1.620.000,00 Laba bersih Rp 1.620.000,00 - Rp 716.500,00    =   Rp 903.500,00

Sistem Waralaba Bakmi Mie-Kita - Bakmi

Tahun 2009 bakal diwarnai dengan tindakan pemutusan hubungan kerja, terutama di kalangan pekerja industri dan perdagangan, sektor usaha yang justru banyak menyerap tenaga kerja padat karya. Situasi yang menantang ini malah jadi peluang emas yang menjanjikan di mata Petrus Puspo Sutopo, owner Bakmi Mie Kita yang melebarkan sayapnya melalui program franchise PT Sistem Waralaba Bakmi Mie Kita bersama Kadafi Yahya dan Madna Yahya.

Bagaimana kiat usaha Petrus yang berobsesi membangun 165 outlet baru pada tahun Kerbau 2009, berikut petikannya :


Bagaimana Anda memulai terjun ke bisnis bakmi lewat jalur wirausaha ini?

Awalnya, saya ini kan orang broken home, ikut mama sendiri, yang sejak saya SD sudah jualan bakmi, saya aduk-aduk bahan mie itu hingga menjadi peluang emas yang menjanjikan. Dasar saya hobi makan mie ayam, akhirnya dari hobi itu saya kembangkan menjadi bisnis yang sifatnya komersial. Mulanya kecil-kecilan saja, setelah saya keluar dari Inti Salim Group gara-gara bos saya bilang bahwa yang ngasih makan saya adalah dia. Wah, terus terang saya tersinggung, karena sesungguhnya yang ngasih makan saya adalah Tuhan, bukan dia. Tuhan beri saya makan lewat dia, itu yang betul. Tapi, saya nggak mau debat, langsung saja keluar dari perusahaan itu.

Dari situ, Anda dapat modal dari mana?

Karena wirausaha ini saya mulai dari hobi, modalnya memang modal dengkul. Namun, dalam perjalanannya saya dapat modal dari H Firman Rp 200 juta. Saya bikin rumah produksi mie di Tangerang, berjalan sekitar 1999 sampai 2003. Di rumah produksi itu saya bikin aneka makanan yang bebas formalin, bebas bahan pengawet. Legalitas usaha itu saya buat pada April 1993, biar mudah mengingat, karena pas dengan ultah saya. Selain legalitas, saya juga mendapat sertifikasi halal food, tapi PT itu baru berdiri sejak tahun 2003.

Siapa saja pemegang saham perusahaan itu?

Awalnya, pak Firman masuk jadi pemegang saham. Tapi karena dia menyimpang dari aturan bersama, akhirnya sahamnya saya beli Rp 200 juta. Waktu itu, saya langsung beriklan di media massa, dan ternyata ada yang berminat membeli saham saya, yaitu Djaja Hendrawan. Maka, pemegang sahamnya sekarang adalah saya 60 persen, pak Djaja 40 persen. Jadi, dalam waktu relatif cepat, asetnya jadi 1 miliar. Itu terjadi pada tahun 2000, kini sudah ada yang berminat mau beli lebih dari 8 miliar, tapi saya berkeinginan untuk mengembangkan saja supaya bisnis Mie Kita ini kian berkibar dimana-mana. Obsesi saya umur 55 tahun, sama dengan pegawai negeri sipil, saya harus pensiun dan jadi passive income, tinggal menikmati hidup.

Bagaimana nilai saham itu bisa meningkat, sementara outlet Mie Kita baru 25, setelah buka di kota Bogor, Tebet, dan RS MH Tamrin Jakarta?

Saya jualan skills, ini yang mahal dan bisa mencapai 60 persen. Kalau rumah produksi sih cuma bangunan tipe 21, tapi dua lantai, luasnya sekitar 120 meter persegi. Tapi skills, itu yang berharga bagi seorang wirausahawan.

Bagaimana Anda membangun skills itu sehingga bernilai tinggi?

Untuk tahu masakan mie yang berkualitas, saya tak segan-segan membayar jago-jago pembuat mie yang tangguh dan kesohor lebih dulu. Misalnya, Mie Alok, Mie Aheng. Mereka saya minta demo masak, dan saya bayar waktu itu Rp 1,5 juta, kalau uang sekarang bisa 15 juta sekali demo. Demikian pula ketika saya ingin tahu bagaimana bikin Es Doger yang enak, saya panggil pembuatnya yang handal, lalu saya suruh demo seharian, dan saya ganti biaya produksi dia sehari itu, karena saya suruh demo. Untuk tahu soal toxin, higienitas makanan, packaging, dan enzyme, saya belajar khusus di IPB. Perlunya supaya skills saya meningkat dan langsung bisa saya praktekkan lewat dagang mie.

Selain itu, anda juga berdagang aneka juice dan minuman kesehatan, serta packaging aneka buah. Bagaimana ide itu bisa muncul?

Saya suka baca-baca buku Prof Hembing, ahli herbal dan kesehatan alternatif lewat tumbuh-tumbuhan. Setelah saya cermati buku Prof Hembing, saya lalu berdagang juice anti diabetes, dengan komposisi bahan herbal yang saya pelajari dari bukunya. Juga ada juice anti kanker, juice anti kolesterol, juice anti darah rendah, juice anti hipertensi, juice anti ginjal, anti asam urat, anti batuk, TBC, sariawan, dan juice pelangsing. Itu semua saya lakukan dengan menyerap selera pasar, yang di satu sisi pasar menghendaki minuman segar, tapi juga menyehatkan. Bahannya dari aneka buah-buahan, sekarang juga saya paket, sehingga tinggal dibikinkan juice.

Apa menu unggulan yang anda jual untuk memenuhi selera pehobi kuliner?

Sebagai spesialis Chinese Food Modern, saya juga memasarkan Chicken Kungpao, Cumi Lada Garam, Udang Goreng Gandum dan lainnya yang saya kemas lewat program franchise, yaitu paket mini resto seharga Rp 90 juta, paket foodcourt Rp 58 juta, dan paket resto Rp 125 juta. Rata-rata outlet yang ada balik modalnya 6-12 bulan, paling lama tiga tahun.

Apa yang melatarbelakangi optimisme Anda?

Pertama, harganya pantas, serba sepuluh ribu. Tapi yang lebih penting lagi ialah seleranya yang mengikuti selera kelas atas, sehingga semua kalangan bisa menikmati masakan kami. Tujuan utama saya adalah mengembangkan Bakmi Mie Kita sebagai trademark di kota-kota seluruh Indonesia dan juga membantu orang susah, biar nggak susah seperti saya dulu, yang hidup di panti asuhan. Cara bantu saya ya dengan berwirausaha, karena di Indonesia masih sedikit orang yag mau terjun dan berjuang demi kesuksesan berwirausaha. Setelah umur 55 tahun, saya pensiun biar bisnis ini diteruskan oleh masyarakat luas dimana pun berada.

Di tengah kesibukan Anda membina hubungan baik dengan mitra kerja untuk mengembangkan sayap usaha itu, bagaimana anda membagi waktu buat keluarga, istri dan anak-anak serta kerabat lain?

Anak-anak sih saya arahkan untuk bisa berwirausaha, seperti ayahnya, juga setangguh neneknya. Juga istri saya, mereka semua saya kira mendukung dan bahu membahu berwirausaha untuk mencapai target itu. Dengan karyawan saya sering membina dan mengarahkan mereka. Maklum, kebanyakan karyawan saya adalah mantan tukang becak yang nggak bisa baca-tulis, mantan kondektur, anak-anak jalanan, mantan pedagang kaki-lima, yang semuanya punya karakter sendiri-sendiri. Seperti bekas tukang becak, kebiasannya molor, tidur melulu. Tapi, karena saya memang sudah komit merekrut mereka, ya saya sendiri yang menempanya, bahkan ada yang sampai dua tahun baru bisa mengikuti ritme usaha saya. Selebihnya waktu senggang saya gunakan untuk baca-baca buku guna menambah wawasan yang bisa mendukung usaha saya.



Biodata :

Nama : Petrus Puspo Sutopo

Tempat/Tanggal Lahir : Malang, 27 April 1967

Pekerjaan : Pemilik PT Sistem Waralaba Bakmi Mie Kita

Alamat : Jl. Pajajaran 26 Kota Bogor

Istri : Digna Winarti

Anak : Shoteby Anthony Winsen, Michelle Levine dan Nikola Tesla

Pendidikan :

SD sampai STM di Jakarta di bawah asuhan Panti Asuhan Vincentius, Kramat Raya Jakarta
Teknik Sipil Politeknik Pasar Minggu Jakarta
Kursus Log Grader di Fakultas Kehutanan IPB
Kursus Ilmu Toxin, Herbal, Enzyme, Higienitas dan Packaging dari IPB

Pekerjaan :

Inti Salim Group
Wirausaha sendiri

Warna favorit : Hijau

Masakan favorit : Mie ayam

Moto : Jadi garam dunia

Obsesi : Membantu orang susah

Senin, 04 Oktober 2010

Event; Starting an Ethical Business


Clothes storeEcoChic Collection invites entreprenuers to their Ethical Fashion Network, in Hove, East Sussex.

A love of style and a passion for ethical business has driven the creative director of EcoChic Collection, Deborah Miarkowska to launch the first Ethical Fashion Network for the South East.

The first network will be held Monday 20th September 2010, 7.30pm-10pm, hosted by La Fourchette Patisserie, purveyors of fine dining.

The event is open to all ethical businesses and friends to network, collaborate and share creativity.

The evening includes live music, a specialist guest speaker, a chance to appear on local radio and to enjoy a gorgeous venue.

Five lucky ethical businesses who attend will be featured on EcoChic Magazine.

Graduate Entrepreneurship Boosts Economy

Young entrepreneursThe National Council for Graduate Entrepreneurship (NCGE) newly formed University Enterprise Network is on target to create 204 new businesses.

NCGE was set up in 2004 to cultivate entrepreneurship in higher education. It does this by helping graduates to start a business through a number of programmes and by helping universities embed entrepreneurship.

The NCGE recently announced the results of extensive independent evaluation into the impact of its programmes. The programme is currently mentoring and supporting 3,550 graduate businesses and the evaluators estimated that 71% of these graduates either wouldn’t be starting a business or have started the process earlier than anticipated.

Ninety universities are now benefiting from the NCGE and support from the private sector has reached over £2M. The NCGE Board includes Barclays Bank, BAe Systems and Microsoft, with HSBC supporting the delivery of the Flying Start and Make it Happen programmes.

Ian Robertson, CEO of NCGE says “I’m absolutely delighted to be able to demonstrate our impact in such a tangible way. Over 80% of new, growth companies are set up by graduates.

“At this critical time for our economy we need to improve the environment for wealth creation and build a closer, more productive relationship between business and universities. This evaluation shows the critical role that NCGE plays in achieving both those objectives.”

Claire Hookham Williams, Enterprise Champion at the University of Liverpool explains the difference NCGE had made: “We’ve been involved in a number programmes that NCGE have organised including Flying Start, the International Entrepreneurship Educators Programme and the HE Enterprise Champions Project in the North West Region.

“Teaching entrepreneurship needs to be interactive and the funding that we received has enabled us to purchase new interactive teaching tools, organise special three-day events and create business societies for the students.

“It has also helped us to build contacts with other universities so that we can exchange ideas and give each other advice. The staff and students have loved all the programmes we’ve introduced and it’s helped to drive through an entrepreneurial spirit throughout the university.”

Jonathan Lloyd started Falling Pixel while studying at Portsmouth University in 2006. Since launching, his turnover has doubled each year and he is hoping to do the same again this year. He explains the difference that NCGE made to him, “I first found out about NCGE’s Flying Start Programme when I went along to a rally they were organising in Reading.

“There I got some fantastic start up advice and help on developing a business plan to help get me going. After I received a £1,000 grant to start up my business I went to America for six months as part of the NCGE-Kauffman Flying Start Global Fellowship.”

Before doing a three month internship at a leading post-production company in Kansas, Jonathan visited Harvard and Stamford Universities but he says the highlight was meeting the CEO of Google, Eric Schmidt.

Lloyd comments, “Seeing one of the most influential, important guys of our time giving us a lecture on the pitfalls of starting up a business was surreal, but an experience I’ll never forget. When I came back from America I was so inspired and the Flying Start Programme gave me so much more confidence that I wouldn’t have had before.”

David Frost of the British Chambers of Commerce commented, “The impact figures and testimonials from graduates and universities speak for themselves - NCGE is a real success story.”

10 Tips For First-time Entrepreneurs

Young entrepreneursBy Scott Gerber of Entrepreneur.com: There are far too few resources directly addressing the nonacademic trials and tribulations young entrepreneurs face along their journey.

Whenever possible, I encourage up-and-comers and established entrepreneurs to mentor the next generation of dream-seekers, for it is this insight and insider education that will provide the foundation for the entrepreneurs of tomorrow.

With that, here are 10 pieces of advice that I wish someone had given to me before I launched my first venture.

1. Focus. Focus. Focus.

Many first-time entrepreneurs feel the need to jump at every “opportunity” they come across. Opportunities are often wolves in sheep’s clothing. Avoid getting side-tracked. Juggling multiple ventures will spread you thin and limit both your effectiveness and productivity.

Do one thing perfectly, not 10 things poorly. If you feel the need to jump onto another project, that might mean something about your original concept.

2. Know what you do. Do what you know.

Don’t start a business simply because it seems sexy or boasts large hypothetical profit margins and returns. Do what you love. Businesses built around your strengths and talents will have a greater chance of success.

It’s not only important to create a profitable business, it’s also important that you’re happy managing and growing it day in and day out. If your heart isn’t in it, you will not be successful.

3. Say it in 30 seconds or don’t say it at all.

From a chance encounter with an investor to a curious customer, always be ready to pitch your business. State your mission, service and goals in a clear and concise manner. Fit the pitch to the person. Less is always more.

4. Know what you know, what you don’t know and who knows what you don’t.

No one knows everything, so don’t come off as a know-it-all. Surround yourself with advisors and mentors who will nurture you to become a better leader and businessman. Find successful, knowledgeable individuals with whom you share common interests and mutual business goals that see value in working with you for the long-term.

5. Act like a startup.

Forget about fancy offices, fast cars and fat expense accounts. Your wallet is your company’s life-blood. Practice and perfect the art of being frugal. Watch every dollar and triple-check every expense. Maintain a low overhead and manage your cash flow effectively.

6. Learn under fire.

No business book or business plan can predict the future or fully prepare you to become a successful entrepreneur. There is no such thing as the perfect plan. There is no perfect road or one less traveled.

Never jump right into a new business without any thought or planning, but don’t spend months or years waiting to execute. You will become a well-rounded entrepreneur when tested under fire. The most important thing you can do is learn from your mistakes - and never make the same mistake twice.

7. No one will give you money.

There, I said it. No one will invest in you. If you need large sums of capital to launch your venture, go back to the drawing board. Find a starting point instead of an end point. Scale down pricey plans and grandiose expenditures.

Simplify the idea until it's manageable as an early stage venture. Find ways to prove your business model on a shoestring budget. Demonstrate your worth before seeking investment. If your concept is successful, your chances of raising capital from investors will dramatically improve.

8. Be healthy.

No, I'm not your mother. However, I promise that you will be much more productive when you take better care of yourself. Entrepreneurship is a lifestyle, not a 9-to-5 profession. Working to the point of exhaustion will burn you out and make you less productive. Don't make excuses. Eat right, exercise and find time for yourself.

9. Don’t fall victim to your own business bullshit.

Don’t talk the talk unless you can walk the walk. Impress with action not conversation. Endorse your business enthusiastically, yet tastefully. Avoid exaggerating truths and touting far reaching goals as certainties. In short, put up or shut up.

10. Know when to call it quits.

Contrary to popular belief, a smart captain does not go down with the ship. Don’t go on a fool’s errand for the sake of ego. Know when it’s time to walk away.

If your idea doesn’t pan out, reflect on what went wrong and the mistakes that were made. Assess what you would have done differently. Determine how you will utilise these hard-learned lessons to better yourself and your future entrepreneurial endeavors.

Failure is inevitable, but a true entrepreneur will prevail over adversity.

Scott Gerber is Entrepreneur.com's Young Entrepreneur columnist and CEO of Gerber Entertainment, a brand development and venture management company.

How To Find a Freelancer

Freelancers help business marketingBy OfficeCavalry.com: Office Cavalry is changing the way businesses find and work with freelancers.

They show thier hand by launching a teaser website showing how the portal will ensure freelancers maximise their experience and skills, without reducing their fee potential or quality of service.

The site claims it “will change the way businesses find and work with freelancers”, and provides more information about how the fully deployed site will work.

In the recovering economy, it is predicted that there will be over 10% unemployment in some areas of the UK. One of the ways the government is attempting to reduce these figures is by encouraging self-employment through tax breaks. It is expected that the combination of more demand for flexible workers and these tax breaks will encourage freelancing in the UK.

Andy Turner, co-founder of the site has said, “We really want to demonstrate freelancing as a viable option to more people out of work in the UK, as well as showing current freelancers that there’s an easier way to engage with potential project owners without compromising on value and quality.

"I have considerable experience hiring freelancers, so I understand how complex it can be to source quality individuals. From the other side, I also know how freelancers are desperate not to enter into a Dutch auction, where quality of work is compromised over price."

Turner said, "Freelancers need to know that they will still be acceptably rewarded for their hard work promptly after project completion. Office Cavalry plans to address these issues head-on, providing a new business model that is based on integrity, quality and value”.

The company behind the production and design of the site is the award-winning digital agency Cyber-Duck. Their technical and design team were behind BoonSpace.com - the innovative Web 2.0 service where anyone can send money as a gift, and Hablib.com - the social property portal that allows property owners to manage every element of their property sale online for free.

Sylvain Reiter, development director at Cyber-Duck said, “We were delighted when we won the Office Cavalry project. A problem we come across regularly ourselves is how to find talented freelancers. Office Cavalry has been built from the ground up and is going to utilise an innovative search algorithm and a proprietary review system to ensure the best quality freelancers are found.”

In addition to working on the production and design of the site, Cyber-Duck will be heavily involved in marketing Office Cavalry through Search Engine Optimisation, Facebook advertising, social media marketing and working with a PR agency to support the full launch.

The public BETA version of the site is due to launch in September 2010 and in the build up to the full launch, Office Cavalry will be running a competition where potential freelancers and project owners can win one of 20 prizes, including the innovative iPad and the latest iPhone 4.

Franchise Award Announces Finalists

Clapping, franchisee awardsA shortlist of 16 franchisees from across the UK have been drawn up for the prestigious bfa HSBC Franchisee of the Year Awards 2010.

Operating in sectors as diverse as automotive, fast food, home improvement and lettings, the finalists encapsulate the best qualities in franchising.

They will now pitch to the bfa judging panel of Sir Bernard Ingham, president of the bfa, Brian Smart, general director of the bfa, Cathryn Hayes, HSBC’s head of franchising, Paul Monaghan, director of The Franchise Development Centre and Hannah Poulton, associate of the Franchise Team.

Franchisees shortlisted – in alphabetical order by region - are as follows:

1) London & the South East

Wayne Mearns, Belvoir Lettings, Southend-on-Sea & Basildon
Guy Whittaker, Dairy Crest, Guildford
Peter Sullivan, McDonald’s, London


2) Scotland

George Stewart, Apollo Blinds, Hamilton
Frank Sutherland, Autosmart, Aberdeenshire
Stephen McMurray, Signs Express, Falkirk


3) The Midlands

Chris Bird, Autosmart, Stoke-on-Trent
Peter Morrison, Granite Transformation, Cambridge
Glyn Pashley, McDonald’s, Coventry


4) The North

Pamela Schure & Colin Belton, Belvoir Lettings, West Cumbria
Andy & Vicky Thompson, Card Connection, Gateshead
Catharine & Mike Chalton, Home Instead Senior Care, Wirral
Gerald Thompson, McDonald’s, Manchester & Oldham


5) The South West and South Wales

Nick Bourne, Cash Generator, Weymouth
Andy & Shelley Stewart, Dream Doors, Dorset & Taunton
Claire Lamputt, LighterLife, Bridgend


Once the 16 finalists have presented to the bfa panel the five regional winners will be chosen to compete for the coveted UK bfa HSBC Franchisee of the Year Award 2010.

All the winners will be announced at a gala awards dinner at The NEC Birmingham on 30th September.
Cathryn Hayes, HSBC’s head of franchising, said: “We have seen some truly inspirational franchisees through the nominations again this year and it just goes to show that British entrepreneurialism is most definitely alive and well – despite the recent challenges brought by the economic conditions.

“As a leading bank working with franchisees across the UK, we’ve seen innovation and revolutionary business problem solving as a very positive theme. This has been reflected in the bfa HSBC Franchisee of the Year Award 2010 nominations, and the final fifteen are a real credit to the franchise industry.
“We are very much looking forward to meeting the individuals behind some of the best franchises in the UK as part of the final judging stage.”

Ben Nealon, classified advertising manager from awards support, Express Newspapers, said: “The calibre of franchisees in the UK for this year’s awards is once again tremendous. Many are utilising the brand activity being undertaken by the franchisor, however many are also working hard to build local awareness as part of growing the business through difficult economic conditions.

“It’s very pleasing to see some of these tactics coming through in the finalists, demonstrating how important local awareness is for business success.”

Brian Smart, director general, bfa, concluded: “Having a strong and supportive franchisor is clearly important however it is the drive and entrepreneurial spirit of the franchisee which can be the difference between a good and an exceptional business. This year’s nominations for the bfa HSBC Franchisee of the Year Awards highlight the qualities needed to succeed, demonstrating innovation, creativity and the will to be as good as they possibly can and therefore all should be congratulated.

“We have a very strong finalist line-up going into the face-to-face judging stage and although the decisions will be tough, we’re looking forward to awarding the UK’s best franchisees who really have excelled this year.”

PELUANG WIRAUSAHA BARU : Apprenticeships; The Do’s and Don’ts

ApprenticesBy the National Apprenticeship Service (NAS): Summer holiday's may see some chilling on a beach, but for those who’ve just left school and are stepping into the world of work as an apprentice, this time of year is anything but relaxing.

In fact, while incredibly exciting it can also be very nerve racking.

Getting something wrong in the classroom may result in a bad grade or detention. But for new apprentices getting it wrong at work could impact on your customers, your boss, and your organisation.

The transition is a big one. So to help all those new apprentices just about to start work, our young Apprenticeship ambassadors have teamed up to create some top tips on how to get the very best start - and on wowing the boss.

First day

Your first day at work doesn’t have to be daunting, it’s a great experience, enjoy it! Plan your journey making sure you arrive on time. Ask lots of questions, the more you ask the more you’ll find out about your new employer. Be enthusiastic. Showing willingness to learn will set a positive first impression.

The apprentices also firmly believe first impressions count. Looking the part and being smart will show that you are confident and people will take you more seriously.

Impressing your boss

Enthusiasm is amazing, is shows you’re committed and passionate! It’s a great way to show off your strengths and capabilities. Offer lots of ideas. Putting your mark on something will show initiative which your employer will love!

Prioritising your workload is an effective way of making sure you stay on top of things. Make a list of everything you have to do, give your tasks a timeline and complete urgent things first. And remember, if it all starts to get a bit much just speak to your manager, they are there to help and will want to know about problems straight away. But if you also have a possible solution ready they’ll be really impressed.

Moving up

And last but not least, being motivated will help you to remain focused and keep that job, suggest our expert apprentices. Having a goal to work towards encourages you to keep going. Always think about what it is you will achieve. Ask your employer for objectives and development opportunities, learn new things and take pride in what you do, feeling proud of a job well done!

Mohamed Mohsen, one of the Young Apprenticeships Ambassadors, says his Apprenticeship was the best thing he ever did: “There was lots of peer pressure to go to college, as it was what all my friends were doing, but instead I took up an Apprenticeship in admin and it was the best decision I ever made. My Apprenticeship has filled me with confidence, it changed my life and I’d do it again!”

10 Tips for Starting a Business That Will Succeed

Happy business womanBy About.com: Small business expert, Susan Ward, offers some great advice on starting a business and how to ensure it's a success.

Following the advice below will make starting a business a smoother, less stressful process and go a long way towards ensuring the business you start lasts and thrives.

1) Do what you love

You're going to devote a lot of time and energy to starting a business and building it into a successful enterprise, so it's really important that you truly enjoy what you do, whether it be running fishing charters, creating pottery or providing financial advice.

2) Start your business while you're still employed

How long can most people live without money? Not long. And it may be a long time before your new business actually makes any profits. Being employed while you're starting a business means money in your pocket while you're going through the starting a business process.

3) Don't do it alone

You need a support system while you're starting a business - and afterwards. A family member or friend that you can bounce ideas off and who will listen sympathetically to the latest business start up crisis is invaluable.

Even better, find a mentor or, if you qualify, apply for a business start up programme. When you're starting a business experienced guidance is the best support system of all.

4) Get clients or customers first

Don't wait until you've officially started your business to line these up, because your business can't survive without them. Do the networking. Make the contacts. Sell or even give away your products or services. You can't start marketing too soon.

5) Write a business plan

The main reason for doing a business plan first when you're thinking of starting a business is that it can help you avoid sinking your time and money into starting a business that will not succeed.

Remember, you don't have to work through a full scale business plan for each new business idea you come up with.

6) Do the research

You'll do a lot of research writing a business plaun, but that's jst a start. When you're starting a business, you need to become an expert on your industry, products and services, if you're not already. Joining related industry or professional associations before you start your business is a great idea.

7) Get professional help

On the other hand, just because you're starting a business, doesn't mean you have to be an expert on everything. If you're not an accountant or bookkeeper, hire one or both! If you need to write up a contract and you're not a lawyer, hire one. You will waste more time and possibly money in the long run trying to do things yourself that you are not qualifed to do.

8) Get the money lined up

Save up if you have to. Approach potential investors and lenders. Figure our your financial fall-back plan. Don't expect to start a business and then walk into a bank and get money. Traditional lenders don't like new ideas and don't like businesses without proven track records.

9) Be professional from the get-go

Everything about you and the way you do business needs to let people know that you are a professional running a serious business. That means getting all the accoutrements such as professional business cards, a business phone and a business email address, and treating people in a professional, courteous manner.

10) Get the legal and tax issues right the first time

It's more difficult and expensive to unsnarl a mess afterwards. Does your business need to be registered? Will you have to charge GST or PST? Will you have to have Workers' Compensation Insurance or deal with payroll taxes? How will the form of business you choose affect your income tax situation? Learn what your legal and tax responsibilities are before you start your business and operate accordingly.

Duncan Bannatyne Works with Dragons’ Den Entrepreneur

Duncan Bannatyne with Razzamataz childrenNow in its fifth year, the business brains from Dragons’ Den have not forgotten past entrepreneurs as Duncan Bannatyne proved with his recent trip to Razzamataz Theatre School.

Founder and director of Razzamataz in Carlisle, Denise Hutton-Gosney, first appeared on the show in 2007 and after her dynamic pitch, caught the attention of Bannatyne who went on to offer her the full investment.

Since the Den, Hutton-Gosney has been busy building up the Razzamataz brand. There are now almost 40 schools up and down the country and Razzmataz has established a further collaboration with Bannatyne with the launch of Razz Xpress within the Bannatyne’s health clubs.

Nurturing young talent, be it in a theatre school environment or new entrepreneurs, is high on Bannatyne’s agenda and during his recent visit to meet the students, he was incredibly impressed with their commitment and enthusiasm.

Hutton-Gosney said: “Building up a child’s confidence and self-esteem is a big part of what we do at Razzamataz. Very early on we decided that the best ways to nurture young talent is by bringing in top professionals in their field to work with our students and inspire them to be the very best they can be.”

Over the last few months, Razzamataz children up and down the country have enjoyed workshops led by Tim Noble, choreographer to Kylie Minogue.

“We all know the benefits of keeping fit but staying motivated is the hard part,” said Hutton-Gosney. “By working with performers such as Tim Noble, Razzamataz students are getting the positive benefits of exercise but having lots of fun in the process.

“Theatre schools need to keep their students motivated, it is far too easy these days for youngsters to become distracted with television or computers and with our country’s growing obesity problem and it is up to theatre schools such as Razzamataz to help solve the problem.”

As well as improving health and fitness, participation in theatre arts has been shown to benefit children in many different areas as they acquire life and performance skills. Theatre trained individuals are identified as having transferable skills such as good interviewing technique – massively important for older children in the job market which additionally teaches self-discipline and the ability to work as a team.

“Working with Duncan Bannatyne and appearing on Dragons’ Den has been an incredible opportunity,” said Hutton-Gosney. “I’ve really appreciated the chance I have had and I’m delighted to say that Razzamataz is now able to invest in today’s youth with the launch of our Future Fund, which will sponsor the career training of a young performer.”

Many talented artists leave school or college with no means of taking their performance skills to a professional level because of lack of funding. Razzamataz students in their final year of school looking to progress their performing ambitions will be able to apply and audition for the funding.

“It is an incredible opportunity for our students and shows our commitment to facilitating them to continue training after they leave Razzamataz,” said Lynn Brownridge, a Razzamataz principal who was the inspiration behind the Future Fund. “It is a privilege to be able to give a young talented performer this opportunity and help them to fulfil their dreams.”

Future Fund will be officially launched on Sunday 28th November 2010 at Her Majesty’s, the West End theatre that is home to the phenomenally successful musical Phantom of the Opera. On the night, Razzamataz students will perform a special one-off performance.

Students from Razzamataz Theatre Schools all over the country will come together to perform at the West End theatre during a special tribute show to celebrate the 10th anniversary of the founding of Razzamataz.

Business Presentation Tips

Businesswoman, business presentationFrom Nazir Daud of CityLocal: In business, like in life, presentation is important.

Your customers' perception of your sales staff, your back-office staff and yourbrand help to mould how they perceive your business, and their likelihood of doing business with you.

Here are six tips that you can follow which will entice your customers to sign on the dotted line:

Look smart

As the saying goes, don't judge a book by its cover. Unfortunately, people do and you can use this to your advantage. Make sure you're looking well groomed for the occasion. The consequences are far less severe if you overdress, rather than under-dress, so keep this in mind when deciding on suitable attire.

Don't read from a PowerPoint presentation

Slides are meant to enhance your presentation, not be your presentation. Try to use PowerPoint presentations to show graphs, images and figures that are harder to understand when spoken. You should also try to make slides easy to digest, this means the customer will be focused on you more, and your slides less.

Practise makes perfect

Try to practise doing your presentation as much as possible. Try to focus less on the exact wording used, and more on the overall message. Ask a friend or co-worker to listen in and here what they have to say. While you may not have to follow their feedback word-for-word, it is hard to judge your own presentation when you're the one presenting.

It's even better if you present to someone within your business who you don't know as well.

Don't bury your head in your notes

It's easy to bury your head in your notes when doing a business presentation. Try not to. One of the best ways to avoid this is to ensure that you don't prepare what you'll say word-for-word. Only work on an overall message.

Or, if you must read from notes, only lower your head at the start of each sentence, read what you have to say and then lift your head and address your audience. Retro tip - pick something, or someone, at the back of the room to focus on.

Adopt a conversational tone

When presenting, it is easy to sound like your doing a book reading. This is particularly the case when you have prepared too much. Try to only prepare by creating a list of bullet points, and this will allow you to make your business presentation sound more conversational.

Through making impromptu comments you will be able to address this issue, and allow your prospects to focus on what your business can deliver.

Objection - handle as you go

When you are dealing with a small group, address their issues as you go. Make your prospects feel comfortable to ask questions when they come up and address them before moving onto the next part of your presentation.

This may kill the flow, but when the customer wants to interrupt let them. If something is nagging them, and they cannot get it out of their mind, then it will be harder for them to focus on what it is that you want to say

Overcoming Obstacles in Sales

SalesmanFrom Nazir Daud of CityLocal: Being a successful salesperson isn't a talent that you are born with.

Some people may have the right instincts and personality traits to potentially be good salespeople, but success still depends on learning and putting into practice the right selling techniques.

One of the biggest roadblocks to business sales success is customer objections. When you're not prepared to deal with them, your prospects for sales are bleak. If you take the time to learn positive ways of dealing with and overcoming objections, however, you will see obvious financial benefits.

Let's say that you are in the business of selling a certain brand of office furniture. You set up an appointment with and then visit a business owner. Your goal is getting him to replace the office furniture he has with what you are selling. You make your presentation to the customer, laying out in detail the benefits of buying and using your office furniture.

The business owner's first response is that he is happy with the furniture that he has, and none of his employees have ever complained. Almost before he finishes saying this, you jump into how the furniture he has now could actually be physically detrimental to his employees. You tell him that he should replace it with the furniture that you are selling if he cares about the people who work for him.

You walk out of there without a sale.

In a slightly different scenario, you make your sales pitch to the business owner, detailing positive facts about your office furniture and why it would be beneficial to him and his employees. He tells you that he and his employees are happy with the office furniture that they have and don't see any reason to spend money on different furniture.

You listen intently to his objection. You ask him to clarify what it is that he and his employees like about the furniture they are using now. You tell him that you can see why he feels the way he does. You go on to explain that a lot of your customers felt that way at first, but when they bought your furniture they found that there was a significant increase in comfort and decrease in employee injury.

You get the sale.

In the second example of dealing with the customer objection, you show that you are truly listening and not simply thinking about the next thing that you're going to say. You acknowledge his feelings and empathize with them.

You ask him to clarify something to show that you want to make sure that you understand what he's trying to say. You give him examples of others that have felt the same way, and then you go on to show why other customers ended up preferring your office furniture over what they used before. You can see the difference between this kind of positive interaction and respect for the customer's feelings, and the negative approach in the first example.

When overcoming objections, customers should always be treated with respect, and their feelings should be taken into consideration. When you think of your customers as people and not potential sales, you are levelling the playing field and creating a positive atmosphere for successful selling.

Naz Daud is the founder of CityLocal. This Franchise Opportunity is for people who would like to work from home and be their own boss.

Design by infinityskins.blogspot.com 2007-2008