Kamis, 20 Januari 2011
Apa Arti Sebuah Keberhasilan Tanpa Kegagalan!
Kata yang sering membuat penulis termotivasi kembali adalah “Do it repeatly” yang sering diucap berkali kali. Penulis tak pernah melihat buah, buah ibarat bonus bagi penulis. Hal terpenting adalah proses menuju kesuksesan. Jangan pernah berhenti pada kegagalan yang ke-1000 kalinya, karena yang ke-1001 kalinya adalah kesuksesan anda. Jika anda berhenti, maka anda akan menyesal selama lamanya. Itulah yang disebut dengan fokus pada mimpi indah, tujuan hidup atau impian anda sendiri. Jangan pernah menyesali apa yang tidak ada pada diri terlebihapa apa yang tidak tercatat pada rincian mimpi anda. Dan jangan meremehkan satu atau dua langkah anda, karena tanpa satu atau dua langkah, takkan pernah ada seribu langkah anda.
Syukurilah apa yang ada, karena hidup adalah anugrah terindah dari Allah SWT. Anda harus yakin bahwa apapun yang diberikan Allah SWT. pada kita adalah yang terbaik bagi kita semua. Anda tidak akan pernah menyadari bahwa yang tadinya ulat berbulu, kini menjadi kupu kupu indah yang terbang leluasa. Anda juga tidak pernah menyadari bahwa kaktus dan pohon mawar yang awalnya berduri kini mengembang bunganya. Bunga yang indah yang dihinggapi kupu kupu cantik. Itulah makna dari sebuah kegagalan dan kesuksesan.
Minggu, 26 Desember 2010
UKM Sukses: Kedai Digital
Sejak masuk kampus UGM pada 1998, Saptuari telah mendambakan memiliki usaha sendiri. Sembari kuliah; beberapa usaha dijalaninya; mulai dari menjadi penjaga koperasi mahasiswa, penjual ayam kampung, penjual stiker, hingga sales dari agen kartu Halo Telkomsel. Lalu, pada 2004, ketika bekerja sebagai event organizer di sebuah perusahaan di Yogyakarta, mantan staf marketing Radio Swaragama FM ini terperanjat melihat antusiasme penonton berebut merchandise berlogo atau bergambar para selebriti. “Heran. Kenapa orang-orang begitu bersemangat mendapatkan kaus, pin, atau apa saja milik artis,” katanya. “Padahal, mereka bisa membuat merchandise apa saja sesuai dengan kemauannya.”
Bermula dari rasa heran itu, pada 2005 Saptuari mengambil langkah berani mendirikan Kedai Digital. Perusahaan itu bertujuan memproduksi barang-barang cendera mata (seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto dan poster keramik, serta banner) dengan hiasan hasil print digital. Waktu itu, ia bermodalkan uang sebanyak Rp28 juta; hasil dari tabungan, menjual motor, dan menggadaikan rumah keluarga.
Butuh waktu enam bulan bagi lelaki kelahiran Yogyakarta itu untuk memulai kegiatan Kedai Digital. Terlebih dahulu, ia mesti mencari mesin digital printing. Ia mendapatkannya (buatan China) di Bandung. Ia juga harus mencari tahu sumber-sumber bahan baku. Kemudian, ia harus mempersiapkan tempat usaha, menyusun konsep produk, dan merekrut para staf. Semuanya dilakukan sendirian.
Bisnisnya berjalan pelan tapi pasti. Ketika usahanya mulai stabil, Saptuari memberanikan diri merekrut desainer dari kampus-kampus seni yang memang tersedia cukup banyak di Yogyakarta. Untuk tenaga marketing, digunakan para mahasiswa dari perguruan tinggi lain yang juga tersebar di kota itu. Target pasar Kedai Digital adalah para mahasiswa. Karenanya, menurut Saptuari, perusahaannya tak boleh main-main soal kualitas. Karena itu, ia mesti menggunakan desainer yang memiliki latar belakang pendidikan formal.
Pada tahun pertama, Kedai Digital telah berhasil meraih penjualan sebesar Rp400 juta. Tahun berikutnya, perolehan bisnis melesat menjadi Rp900 juta. Seiring dengan pertambahan outlet, revenue pada 2007 menembus angka Rp1,5 miliar.
Hingga akhir tahun silam, Kedai Digital telah memiliki delapan gerai di Yogyakarta. Salah satunya adalah Kedai Supply yang menyediakan bahan baku untuk kebutuhan produksi di seluruh outlet lainnya. Sementara itu, gerai Kedai Printing dikhususkan melayani pesanan produk-produk advertising seperti banner. Di luar Yogyakarta, Saptuari telah memiliki lima outlet lain (di Kebumen, Semarang, Tuban, Pekanbaru, dan Solo) melalui sistem waralaba.
Menurut Nur Alfa Agustina, Kepala Departemen MikroBisnis Group Bank Mandiri (penyelenggara Wirausahawan Muda Mandiri), di antara 500 peserta yang mengikuti lomba, Kedai Digital dinilai inovatif karena merupakan pelopor industri merchandise dengan metode digital printing di wilayah Yogyakarta. Untuk penilaian dari sisi bisnis, Saptuari mendapat nilai lebih karena bukan berasal dari keluarga pengusaha. Pendidikannya pun tak terkait dengan ilmu ekonomi. Lalu, karena melibatkan banyak mahasiswa dalam menggerakkan usahanya dan mengajarkan mereka soal entrepreneurship, lelaki bertubuh kekar itu mendapat nilai yang tinggi dalam penilaian aspek sosial.
Soal yang terakhir itu, Saptuari memang mengajak para pegawainya yang berperilaku baik untuk ikut memiliki saham di outlet-outlet Kedai Digital. Kini, telah empat kedai yang sahamnya ikut dimiliki para pekerja. “Saya tak mau mereka terus-terusan hanya menjadi pekerja. Mereka juga harus menjadi owner,” katanya.
Semangat wirausaha telah ikut disebarluaskan.
dikutip dari:
http://www.purdiechandra.net/gara-gara-purdi/2010/02/saptuari-sugiharto-kedai-digital/
Minggu, 17 Oktober 2010
franchise BAKMI MIE-KITA
HANYA: Rp.100 jt
ane mau jual nih usaha ane... kalo ada yang berminat,,
ane sebenarnya ga mau jual usaha ini.. cuma kerna orang tua ane udah meninggal ane harus mengambil alih perusahaan keluarga di SULTENG (palu)
jadi ane jual,, siapa tau ada yg minat
usaha ini sudah berjalan 1 thn.. masi ada 4 thn lagi sesuai dengan perjanjian franchisor itu 5 thn. BAKMI MIE-KITA udah banyak...
jakarta ada lebih dari 3 dan tanggerang,Bogor,cibinong,cirebon,surabaya dan papua
Jenis makanan yg di jual pun buanyak..kira2 ada 120 jenis makanan dan minuman,, harga terjangkau.
bisa di liat di google (BAKMI MIE-KITA JAK-TIM) Utan Kayu atau di klanakuliner.com
ane ga jual sama lokasi yang ada sekarang yaa! krn ane juga ngontrak..
Ane jual brikut ini nih:
Bar lumayan gede = servis seperti baru
4 sofa + 2 meja panjangnya
8 meja 80 x 80
24 buah kursi
Peralatan masak kompor,panci2 pokonya lengkap sama piring dll yg ber logo
Kaos karyawan
dan mungkin ada beberapa bonus yang ane bisa kasi
Senin, 04 Oktober 2010
10 Tips For First-time Entrepreneurs
By Scott Gerber of Entrepreneur.com: There are far too few resources directly addressing the nonacademic trials and tribulations young entrepreneurs face along their journey.
Whenever possible, I encourage up-and-comers and established entrepreneurs to mentor the next generation of dream-seekers, for it is this insight and insider education that will provide the foundation for the entrepreneurs of tomorrow.
With that, here are 10 pieces of advice that I wish someone had given to me before I launched my first venture.
1. Focus. Focus. Focus.
Many first-time entrepreneurs feel the need to jump at every “opportunity” they come across. Opportunities are often wolves in sheep’s clothing. Avoid getting side-tracked. Juggling multiple ventures will spread you thin and limit both your effectiveness and productivity.
Do one thing perfectly, not 10 things poorly. If you feel the need to jump onto another project, that might mean something about your original concept.
2. Know what you do. Do what you know.
Don’t start a business simply because it seems sexy or boasts large hypothetical profit margins and returns. Do what you love. Businesses built around your strengths and talents will have a greater chance of success.
It’s not only important to create a profitable business, it’s also important that you’re happy managing and growing it day in and day out. If your heart isn’t in it, you will not be successful.
3. Say it in 30 seconds or don’t say it at all.
From a chance encounter with an investor to a curious customer, always be ready to pitch your business. State your mission, service and goals in a clear and concise manner. Fit the pitch to the person. Less is always more.
4. Know what you know, what you don’t know and who knows what you don’t.
No one knows everything, so don’t come off as a know-it-all. Surround yourself with advisors and mentors who will nurture you to become a better leader and businessman. Find successful, knowledgeable individuals with whom you share common interests and mutual business goals that see value in working with you for the long-term.
5. Act like a startup.
Forget about fancy offices, fast cars and fat expense accounts. Your wallet is your company’s life-blood. Practice and perfect the art of being frugal. Watch every dollar and triple-check every expense. Maintain a low overhead and manage your cash flow effectively.
6. Learn under fire.
No business book or business plan can predict the future or fully prepare you to become a successful entrepreneur. There is no such thing as the perfect plan. There is no perfect road or one less traveled.
Never jump right into a new business without any thought or planning, but don’t spend months or years waiting to execute. You will become a well-rounded entrepreneur when tested under fire. The most important thing you can do is learn from your mistakes - and never make the same mistake twice.
7. No one will give you money.
There, I said it. No one will invest in you. If you need large sums of capital to launch your venture, go back to the drawing board. Find a starting point instead of an end point. Scale down pricey plans and grandiose expenditures.
Simplify the idea until it's manageable as an early stage venture. Find ways to prove your business model on a shoestring budget. Demonstrate your worth before seeking investment. If your concept is successful, your chances of raising capital from investors will dramatically improve.
8. Be healthy.
No, I'm not your mother. However, I promise that you will be much more productive when you take better care of yourself. Entrepreneurship is a lifestyle, not a 9-to-5 profession. Working to the point of exhaustion will burn you out and make you less productive. Don't make excuses. Eat right, exercise and find time for yourself.
9. Don’t fall victim to your own business bullshit.
Don’t talk the talk unless you can walk the walk. Impress with action not conversation. Endorse your business enthusiastically, yet tastefully. Avoid exaggerating truths and touting far reaching goals as certainties. In short, put up or shut up.
10. Know when to call it quits.
Contrary to popular belief, a smart captain does not go down with the ship. Don’t go on a fool’s errand for the sake of ego. Know when it’s time to walk away.
If your idea doesn’t pan out, reflect on what went wrong and the mistakes that were made. Assess what you would have done differently. Determine how you will utilise these hard-learned lessons to better yourself and your future entrepreneurial endeavors.
Failure is inevitable, but a true entrepreneur will prevail over adversity.
Scott Gerber is Entrepreneur.com's Young Entrepreneur columnist and CEO of Gerber Entertainment, a brand development and venture management company.
How To Find a Freelancer
By OfficeCavalry.com: Office Cavalry is changing the way businesses find and work with freelancers.
They show thier hand by launching a teaser website showing how the portal will ensure freelancers maximise their experience and skills, without reducing their fee potential or quality of service.
The site claims it “will change the way businesses find and work with freelancers”, and provides more information about how the fully deployed site will work.
In the recovering economy, it is predicted that there will be over 10% unemployment in some areas of the UK. One of the ways the government is attempting to reduce these figures is by encouraging self-employment through tax breaks. It is expected that the combination of more demand for flexible workers and these tax breaks will encourage freelancing in the UK.
Andy Turner, co-founder of the site has said, “We really want to demonstrate freelancing as a viable option to more people out of work in the UK, as well as showing current freelancers that there’s an easier way to engage with potential project owners without compromising on value and quality.
"I have considerable experience hiring freelancers, so I understand how complex it can be to source quality individuals. From the other side, I also know how freelancers are desperate not to enter into a Dutch auction, where quality of work is compromised over price."
Turner said, "Freelancers need to know that they will still be acceptably rewarded for their hard work promptly after project completion. Office Cavalry plans to address these issues head-on, providing a new business model that is based on integrity, quality and value”.
The company behind the production and design of the site is the award-winning digital agency Cyber-Duck. Their technical and design team were behind BoonSpace.com - the innovative Web 2.0 service where anyone can send money as a gift, and Hablib.com - the social property portal that allows property owners to manage every element of their property sale online for free.
Sylvain Reiter, development director at Cyber-Duck said, “We were delighted when we won the Office Cavalry project. A problem we come across regularly ourselves is how to find talented freelancers. Office Cavalry has been built from the ground up and is going to utilise an innovative search algorithm and a proprietary review system to ensure the best quality freelancers are found.”
In addition to working on the production and design of the site, Cyber-Duck will be heavily involved in marketing Office Cavalry through Search Engine Optimisation, Facebook advertising, social media marketing and working with a PR agency to support the full launch.
The public BETA version of the site is due to launch in September 2010 and in the build up to the full launch, Office Cavalry will be running a competition where potential freelancers and project owners can win one of 20 prizes, including the innovative iPad and the latest iPhone 4.
Franchise Award Announces Finalists
A shortlist of 16 franchisees from across the UK have been drawn up for the prestigious bfa HSBC Franchisee of the Year Awards 2010.
Operating in sectors as diverse as automotive, fast food, home improvement and lettings, the finalists encapsulate the best qualities in franchising.
They will now pitch to the bfa judging panel of Sir Bernard Ingham, president of the bfa, Brian Smart, general director of the bfa, Cathryn Hayes, HSBC’s head of franchising, Paul Monaghan, director of The Franchise Development Centre and Hannah Poulton, associate of the Franchise Team.
Franchisees shortlisted – in alphabetical order by region - are as follows:
1) London & the South East
Wayne Mearns, Belvoir Lettings, Southend-on-Sea & Basildon
Guy Whittaker, Dairy Crest, Guildford
Peter Sullivan, McDonald’s, London
2) Scotland
George Stewart, Apollo Blinds, Hamilton
Frank Sutherland, Autosmart, Aberdeenshire
Stephen McMurray, Signs Express, Falkirk
3) The Midlands
Chris Bird, Autosmart, Stoke-on-Trent
Peter Morrison, Granite Transformation, Cambridge
Glyn Pashley, McDonald’s, Coventry
4) The North
Pamela Schure & Colin Belton, Belvoir Lettings, West Cumbria
Andy & Vicky Thompson, Card Connection, Gateshead
Catharine & Mike Chalton, Home Instead Senior Care, Wirral
Gerald Thompson, McDonald’s, Manchester & Oldham
5) The South West and South Wales
Nick Bourne, Cash Generator, Weymouth
Andy & Shelley Stewart, Dream Doors, Dorset & Taunton
Claire Lamputt, LighterLife, Bridgend
Once the 16 finalists have presented to the bfa panel the five regional winners will be chosen to compete for the coveted UK bfa HSBC Franchisee of the Year Award 2010.
All the winners will be announced at a gala awards dinner at The NEC Birmingham on 30th September.
Cathryn Hayes, HSBC’s head of franchising, said: “We have seen some truly inspirational franchisees through the nominations again this year and it just goes to show that British entrepreneurialism is most definitely alive and well – despite the recent challenges brought by the economic conditions.
“As a leading bank working with franchisees across the UK, we’ve seen innovation and revolutionary business problem solving as a very positive theme. This has been reflected in the bfa HSBC Franchisee of the Year Award 2010 nominations, and the final fifteen are a real credit to the franchise industry.
“We are very much looking forward to meeting the individuals behind some of the best franchises in the UK as part of the final judging stage.”
Ben Nealon, classified advertising manager from awards support, Express Newspapers, said: “The calibre of franchisees in the UK for this year’s awards is once again tremendous. Many are utilising the brand activity being undertaken by the franchisor, however many are also working hard to build local awareness as part of growing the business through difficult economic conditions.
“It’s very pleasing to see some of these tactics coming through in the finalists, demonstrating how important local awareness is for business success.”
Brian Smart, director general, bfa, concluded: “Having a strong and supportive franchisor is clearly important however it is the drive and entrepreneurial spirit of the franchisee which can be the difference between a good and an exceptional business. This year’s nominations for the bfa HSBC Franchisee of the Year Awards highlight the qualities needed to succeed, demonstrating innovation, creativity and the will to be as good as they possibly can and therefore all should be congratulated.
“We have a very strong finalist line-up going into the face-to-face judging stage and although the decisions will be tough, we’re looking forward to awarding the UK’s best franchisees who really have excelled this year.”
Business Presentation Tips
From Nazir Daud of CityLocal: In business, like in life, presentation is important.
Your customers' perception of your sales staff, your back-office staff and yourbrand help to mould how they perceive your business, and their likelihood of doing business with you.
Here are six tips that you can follow which will entice your customers to sign on the dotted line:
Look smart
As the saying goes, don't judge a book by its cover. Unfortunately, people do and you can use this to your advantage. Make sure you're looking well groomed for the occasion. The consequences are far less severe if you overdress, rather than under-dress, so keep this in mind when deciding on suitable attire.
Don't read from a PowerPoint presentation
Slides are meant to enhance your presentation, not be your presentation. Try to use PowerPoint presentations to show graphs, images and figures that are harder to understand when spoken. You should also try to make slides easy to digest, this means the customer will be focused on you more, and your slides less.
Practise makes perfect
Try to practise doing your presentation as much as possible. Try to focus less on the exact wording used, and more on the overall message. Ask a friend or co-worker to listen in and here what they have to say. While you may not have to follow their feedback word-for-word, it is hard to judge your own presentation when you're the one presenting.
It's even better if you present to someone within your business who you don't know as well.
Don't bury your head in your notes
It's easy to bury your head in your notes when doing a business presentation. Try not to. One of the best ways to avoid this is to ensure that you don't prepare what you'll say word-for-word. Only work on an overall message.
Or, if you must read from notes, only lower your head at the start of each sentence, read what you have to say and then lift your head and address your audience. Retro tip - pick something, or someone, at the back of the room to focus on.
Adopt a conversational tone
When presenting, it is easy to sound like your doing a book reading. This is particularly the case when you have prepared too much. Try to only prepare by creating a list of bullet points, and this will allow you to make your business presentation sound more conversational.
Through making impromptu comments you will be able to address this issue, and allow your prospects to focus on what your business can deliver.
Objection - handle as you go
When you are dealing with a small group, address their issues as you go. Make your prospects feel comfortable to ask questions when they come up and address them before moving onto the next part of your presentation.
This may kill the flow, but when the customer wants to interrupt let them. If something is nagging them, and they cannot get it out of their mind, then it will be harder for them to focus on what it is that you want to say
Overcoming Obstacles in Sales
From Nazir Daud of CityLocal: Being a successful salesperson isn't a talent that you are born with.
Some people may have the right instincts and personality traits to potentially be good salespeople, but success still depends on learning and putting into practice the right selling techniques.
One of the biggest roadblocks to business sales success is customer objections. When you're not prepared to deal with them, your prospects for sales are bleak. If you take the time to learn positive ways of dealing with and overcoming objections, however, you will see obvious financial benefits.
Let's say that you are in the business of selling a certain brand of office furniture. You set up an appointment with and then visit a business owner. Your goal is getting him to replace the office furniture he has with what you are selling. You make your presentation to the customer, laying out in detail the benefits of buying and using your office furniture.
The business owner's first response is that he is happy with the furniture that he has, and none of his employees have ever complained. Almost before he finishes saying this, you jump into how the furniture he has now could actually be physically detrimental to his employees. You tell him that he should replace it with the furniture that you are selling if he cares about the people who work for him.
You walk out of there without a sale.
In a slightly different scenario, you make your sales pitch to the business owner, detailing positive facts about your office furniture and why it would be beneficial to him and his employees. He tells you that he and his employees are happy with the office furniture that they have and don't see any reason to spend money on different furniture.
You listen intently to his objection. You ask him to clarify what it is that he and his employees like about the furniture they are using now. You tell him that you can see why he feels the way he does. You go on to explain that a lot of your customers felt that way at first, but when they bought your furniture they found that there was a significant increase in comfort and decrease in employee injury.
You get the sale.
In the second example of dealing with the customer objection, you show that you are truly listening and not simply thinking about the next thing that you're going to say. You acknowledge his feelings and empathize with them.
You ask him to clarify something to show that you want to make sure that you understand what he's trying to say. You give him examples of others that have felt the same way, and then you go on to show why other customers ended up preferring your office furniture over what they used before. You can see the difference between this kind of positive interaction and respect for the customer's feelings, and the negative approach in the first example.
When overcoming objections, customers should always be treated with respect, and their feelings should be taken into consideration. When you think of your customers as people and not potential sales, you are levelling the playing field and creating a positive atmosphere for successful selling.
Naz Daud is the founder of CityLocal. This Franchise Opportunity is for people who would like to work from home and be their own boss.
The Startups 100 list is announced today, identifying the UK’s most innovative
From Startups 100: The Startups 100 list is announced today, identifying the UK’s most innovative, inspiring and ground-breaking new companies.
Startups 100, selected by the startups.co.uk team, celebrates the 100 most exciting, promising, disruptive new businesses and entrepreneurs shaping the start-up market right now. The list includes BookingBug, RateMyPlacement.co.uk and MyDestinationInfo.com; three enterprising business featured on BusinessWings.
Top of the list is Huddle, one of the most successful tech companies to come out of the UK in years. Founded by Alastair Mitchell and Andy McLouglin, Huddle provides packages of project management and online collaboration software and, while there are many players in this market, has managed to gain a remarkable stronghold both in the UK and the US, securing some impressive blue-chip and public sector clients including Nokia, Panasonic, Kia Motors and the NHS.
Sara Rizk, editor, Startups.co.uk, said: “Huddle was an obvious choice to top this year’s Startups 100 list. In just a few years Alastair and Andy have created a market-leading brand with global reach.
"What these two entrepreneurs have achieved, supported by an enthusiastic, fast-growing team, is proof that world-beating technology companies are not the preserve of Silicon Valley. We’re incredibly proud to have them heading up our list.”
Startups 100 also includes:
• Levi Roots, founder of Reggae, Reggae Sauce
• Bulldog, the male grooming products
• SquidLondon, who developed an umbrella which changes colour in the rain
• tweetdeck, the social networking application
• BrewDog, the independent beer makers
• RentYourRocks.com, which provides online diamond jewellery hire.
“Every single company on our 2010 list has felt the effects of launching during one of the most turbulent economic periods in modern history,” Sara continues.
“For some it has presented unexpected challenges, while others have relished the opportunities the downturn has thrown up. The result is a list of companies and entrepreneurs to be proud of. The Startups 100 is made up of a truly eclectic group of businesses and entrepreneurs."
Sara adds, "On our list, global brands sit alongside one-man bands in what we believe is an accurate reflection of the UK’s colourful, diverse and vibrant start-up community.”
Startups: What MBA Grads Are Missing
Here is a summary of the 10 Things MBA’s Won’t Teach You:
Strategic planning won’t take place of managing your bank statement and cash flow.
There are always more things to do. Start deciding “what not to do”.
Sleep - entrepreneurs work in their sleep.
People are Resources, not the other way around.
Learn to read your market, and put down the book on efficient pricing theories.
Understand all of your costs.
Spend more time on lead generation and sales conversion than on product matrices.
Build a visionary and passionate work culture.
People buy and do business with people they like. Be likeable.
People and markets are not always rational.
Additional reading about start-ups and small business trends:
Five Myths about Financing Start-Ups that Hurt Entrepreneurs
Minggu, 25 Juli 2010
Sedekah itu Gak Nunggu Ikhlas
Lain waktu,
"Pak ada mobil keliling yang suka minta sumbangan tuh di depan rumah", kata anak saya, "Bilangin gak ada ", jawab saya. "Belum tentu dananya juga bener disalurkan jangan2 dipake sendiri, daripada ngasihnya gak ikhlas mendingan gak usah aja" kata hati saya.
Lain waktu lagi,
"Pak nih ada edaran dari Panitia Pembangunan Mesjid di kompleks Bapak diminta jadi donatur untuk pembangunan Mesjid", kata istri saya. "Males ah, nyumbang pake diumumin segala, itu riya namanya nanti gak ikhlas jadinya", jawab saya.
Kata "ikhlas" menjadi senjata pamungkas saya sebagai tameng untuk tidak memberi.
Percuma memberi kalo gak ikhlas, dan sialnya ikhlas itu lama banget datangnya ke diri saya sehingga bertahun tahun saya menjadi orang yang jarang memberi.
Pertemuan saya dengan komunitas TDA di Milad 3 yang menghadirkan Ustad Lihan mengubah pola pikir saya dalam bersedekah. Buku2 dan ceramah Ustad Yusuf Mansur serta tulisan Ippho Santosa banyak memberi wawasan baru mengenai nilai2 sedekah.
Untuk bersedekah sebenarnya gak usah nunggu ikhlas dulu, lakukan aja sesering mungkin. Bisa saja dalam 10 kali kita bersedekah yang 6 tidak ikhlas awalnya tapi masih lumayan ada 4 yang ikhlas. Dan kalo sering bersedekah lama2 akan jadi kebiasaan sehingga Nilai ikhlasnya sudah lebih banyak lagi yang pada akhirnya nanti bersedekah itu sudah menjadi kebiasaan sehari2.
Kalo bersedekah ada unsur riya juga lakukan aja, toh yang rugi diri kita sendiri kalo yang menerima sih masih bisa merasakan kebahagian. Lumayan masih tidak merugikan orang lain.
Semua kegiatan yang baik memang awalnya harus dipaksa dulu sambil jalan diharapkan kesadaran mulai muncul.
Coba simak;
Sholat itu harus khusyu, memang kalo gak khusyu gak usah sholat?
Puasa itu harus bisa menjaga hawa nafsu, memang kalo gak bisa menjaga hawa nafsu gak usah puasa?
Bukannya lebih baik;
Sholat aja dulu nanti juga lama2 bisa khusyu
Puasa aja dulu nanti juga lama2 bisa menahan hawa nafsu
Sedekah aja dulu nanti juga lama2 bisa ikhlas.....
Jadi untuk bersedekah ternyata gak usah nunggu ikhlas dulu yang penting lakukan saja jangan dipikir jangan dihitung....
Saat ini Divisi TDA Peduli sedang menggalang dana untuk acara Santunan Ramadhan TDA Peduli yang dikomandani oleh pak Dewanto dan pak Irwan Subik, Semoga sahabat2, rekan2 TDA Bekasi bisa ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.
Salam berbagi
Ato Sunarto
Faktor Kali Dalam Bisnis
Usaha yang lambat biasanya karena sistimnya masih menggunakan factor penjumlah misalnya 2 + 2 = 4, 4 + 4 = 8, 16 + 16 = 32. Ini juga bisa maju, tapi agak lebih lambat. Tapi bila Anda punya usaha yang memiliki faktor kali akan jadi seperti ini: 2 x 2 = 4, 4 x 4 = 16, 16 x 16 = 256. Jauh lebih besar hasilnya.
Usaha apa contohnya yang memiliki faktor kali? Semua usaha punya factor kali. Cuma jenisnya berbeda-beda. Misalnya usaha rumah makan, salah satu faktor kalinya adalah lokasi yang ramai. Lihat saja restoran McDonalds di Sarinah Thamrin menjadi 10 besar paling ramai di dunia karena faktor kalinya adalah lokasi yang strategis dan ramai.
Usaha eceran faktor kalinya adalah lokasi yang ramai dan banyaknya jumlah cabang. Usaha grosir faktor kalinya adalah pelanggannya yang membeli dalam jumlah banyak dan berulang-ulang.
Hanya itu? Masih banyak lagi. Misalnya publikasi, iklan, promosi, tenaga sales. Berikut ini uraiannya.
*Menggunakan Publikasi*
Ingat dengan ayam bakar Wong Solo? Restoran ini “meledak” omsetnya gara-gara seorang seorang wartawan menulis berita tentang usaha ayam bakar yang saat itu masih di kaki lima di kota Medan dengan judul “Sarjana Menjual Ayam Bakar”. Jadi tulisan di koran itu telah menjadi faktor kali. Memang pemiliknya Puspo Wardoyo pintar sekali memanfaatkan publikasi seperti mengadakan Poligami Awards, membuat menu Jus Poligami.
Contoh lain: jaringan bisnis MQ Corporation milik AA Gym dengan publikasi dari segi spiritual, The Body Shop dengan publikasi dari segi kepedulian lingkungan hidup, Moamar Emka dengan buku Jakarta Undercover, Dewi Lestari dengan buku Supernova.
*Menggunakan Iklan atau Promosi*
Baru-baru ini saya melihat langsung toko roti baru namanya BreadTalk di Mal Taman Anggrek. Saya saksikan pembelinya rela antri sampai hampir sepuluh meter untuk membeli roti yang katanya lebih enak itu. Kenapa bisa begitu ramai sementara toko roti lain di tempat yang sama tidak seramai itu? Karena faktor kali dari iklan dan promosi di Metro TV dengan menggunakan para artis ternama. Iklan tersebut menggugah rasa ingin tahu penonton untuk mencobanya.
Contoh lain: DRTV.
*Menggunakan Tenaga Pemasaran/Sales*
Anda tahu jaringan toko kredit Columbia? Kebetulan saya sendiri kenal dengan pemiliknya, Bapak Leo Chandra. Katanya, tahun lalu omsetnya mencapai Rp. 1,2 trilyun. Apa kiatnya? Dia tidak menggunakan iklan atau membuka outlet di lokasi yang ramai dan strategis. Tapi dia menggunakan 20.000 tenaga sales di seluruh Indonesia.
Toko-toko sepatu di PIK Pulo Gadung juga menerapkan hal serupa, yaitu dengan menggunakan tenaga pemasar lepas (freelance) yang dibekali dengan brosur dan katalog gambar produk. Jadi, para pembeli tinggal memilih melalui katalog tersebut.
Contoh lain: perusahaan network marketing/MLM, kartu kredit Citibank, bahkan partai seperti Partai Keadilan Sejahtera juga menggunakan strategi pemasaran langsung (direct selling). Saat dalam Pemilu 1999 dengan 15.000 kader yang mentargetkan 1 orang menggaet 20 orang pemilih, partai ini berhasil mendapat 1.4 juta suara. Saat ini dengan sistim pendekatan yang sama telah terkumpul 400.000 kader. Berapa nanti perolehan suaranya di tahun 2004 bila 1 orang kader menggaet 20 pemilih?
*Menggunakan Tokoh atau Model*
Baterai ABC menguasai 90% lebih pangsa pasar baterai di Indonesia. Saat saya berkunjung ke pabriknya di Daan Mogot bulan Desember tahun lalu, Ibu Herlili Sumampouw, manajer periklanannya membuka rahasia bahwa salah satu faktor kalinya adalah dengan menggunakan orang-orang cebol dan petinju Evander Holyfield. Mereka menggunakan orang-orang cebol sejak tahun 70-an yang disuruh menari-nari di arena Pekan Raya Jakarta. Hasilnya, omset penjualan baterai ABC naik seperti roket, katanya.
Begitu juga saat memperkenalkan Baterai ABC Alkaline, tadinya ABC tidak dikenal sebagai produsen baterai alkaline sebelum menggunakan model iklan petinju kelas berat Evander Holyfield. Seorang model atau tokoh memiliki banyak penggemar, inilah faktor kalinya.
*Membuka Cabang Sebanyak Mungkin*
Untuk usaha eceran/retail, inilah faktor kalinya. Alfa Mart adala contohnya. alam waktu singkat bisa menyamai jumlah cabang Indomaret yang sudah lebih lama di bisnis ini. Dengan agresif mereka terus membuka cabang dengan cara waralaba yang lebih fleksibel daripada Indomaret. Caranya, bila si calon partner itu hanya punya lahan dan bangunan tanpa modal kerja, Alfamart siap mengisi barang. Faktor kali untuk usaha eceran tidak hanya itu, bisa juga dengan cara menitipkan barang di outlet-outlet.
*Menjual Secara Grosir*
Untuk usaha grosir, faktor kalinya tidak perlu dengan membuka banyak toko. Tapi dengan mencari banyak pedagang yang membeli dalam jumlah banyak secara berulang-ulang. Ini bisa dilihat di toko-toko di Tanah Abang, Pasar Anyar Bogor atau Cipulir. Rata-rata mereka memiliki pelanggan tetap yang secara rutin berbelanja.
Misalnya satu toko memiliki 20 pelanggan yang rata-rata berbelanja Rp. 2 juta per bulan, total per tahun menjadi Rp. 480 juta. Usaha grosir ini akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan usaha para pedagang langganan tersebut dan bertambahnya pelanggan baru. Adakah para pelanggan yang memiliki lebih dari satu toko? Tentunya ada, bahkan ada yang
memiliki 10 toko. Inilah faktor kalinya.
*Menggunakan Internet*
Jeff Bezos adalah salah orang terkaya di Amerika saat ini. Dia meraihnya dalam waktu kurang dari 10 tahun. Dia adalah pendiri situs belanja buku di internet Amazon.com yang menjual buku secara online kepada para pelanggan di seluruh dunia. Dalam waktu singkat Amazon telah mengalahkan toko buku terbesar di Amerika yang sudah berdiri puluhan tahun, Barnes and Noble. Saya pribadi juga telah menggunakan media ini sejak September tahun lalu.
Hasilnya di luar dugaan. Dalam waktu 3 bulan pengunjung yang datang diwebsite sudah hampir 1.000 orang dengan omset yang lumayan. Bahkan telah berhasil mendapatkan agen/distributor di beberapa daerah di Indonesia. Apa faktor kalinya? Karena saya berkawan dengan Mr. Tung Desem Waringin, seorang pembicara seminar yang telah berbicara di hadapan lebih dari 60.000 orang dan siaran talk show di radio Smart FM yang mempunyai jaringan di 7 kota di Indonesia.
Di setiap kesempatan dia selalu menyebutkan alamat situs internet kami. Di samping itu, internet diakses oleh orang di seluruh dunia, tanpa batas wilayah dan waktu. Perkembangan bisnis di internet ini patut kita antisipasi. Peluangnya sangat, sangat, sangat besar.
*Apakah faktor kali hanya untuk bisnis saja?*
Tidak. Penggunaan faktor kali tidak melulu untuk tujuan bisnis saja. Seorang dosen yang biasanya hanya bisa berbicara di depan mahasiswa bisa menggunakan media lain untuk meraih audiens yang lebih besar. Misalnya dengan menulis buku, mengadakan seminar, membuat kaset/CD, membuat situs internet, siaran di TV atau radio. Contohnya adalah Rhenald Kasali, Roy Sembel (dosen, ahli keuangan). Seorang atlit yang sebelumnya adalah atlit lokal bisa meningkatkan faktor kalinya dengan mengikuti pertandingan dengan skala nasional atau internasional. Seorang da’i seperti Aa Gym paling ahli memanfaatkan faktor kali ini. Dia membuat faktor kali melalui tabloid,radio, televisi, internet, buku, VCD dan lain-lain. Inul Daratista menjadi begitu fenomenal setelah tampil di televisi. Padahal sebelumnya dia hanya bernyanyi dari kampung ke kampung.
*Kesimpulan*
Dari beberapa contoh di atas, intinya adalah bagaimana dalam meningkatkan usaha kita selalu mencari faktor kali. Sekali lagi FAKTOR KALI. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi inspirasi bagi anda. Mohon maaf, bukan saya ingin menggurui, tapi ingin berbagi ilmu dan pengalaman yang tentu saja banyak kekurangannya. Mudah-mudahan tulisan ringan ini ada manfaatnya.
--
Wassalam,
Badroni Yuzirman, TDA 0000001-0106
www.manetvision.com
Mencuri Ide Bisnis, Apakah Dibenarkan?
Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, mencuri ide bisnis adalah hal yang paling disukai oleh kita yang baru pertama kali memulai bisnis. Sampai-sampai ada istilah yang populer, ATM (Amati Tiru Modifikasi). Kita bisa mencuri ide bisnis dari orang yang sudah sukses dengan bisnisnya atau orang yang sudah lebih dulu memulai bisnisnya, walaupun dia belum sukses, tetapi sudah terlihat prospek yang bagus dari bisnisnya.
Paling tidak, mencuri ide bisnis menjadi begitu sangat menarik karena lima hal berikut:
1. Tidak perlu repot-repot menentukan bisnis apa yang akan dibangun
2. Tidak perlu susah menentukan target pasar
3. Tidak perlu sulit merumuskan program promosi
4. Tidak perlu menganalisa dari awal tentang kendala-kendala bisnisnya
5. Bahkan, kita bisa “kecipratan” nama besar dari bisnis yang kita curi
Secara umum mencuri ide bisnis terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Sebagian. Maksudnya adalah ide bisnis yang dicuri mungkin jenis bisnisnya saja, program promonya saja, pelayanannya saja, dan lain-lain. Misal: Kita melihat teman kita ada yang punya bisnis toko online produk-produk muslim, dan ternyata sukses. Kemudian kita mengikuti jejaknya dengan membuka toko online yang serupa, yaitu menjual produk-produk muslim. Dan kita lakukan ATM pada bisnis kta, kita modifikasi sedemikian rupa sehingga memiliki citra sara yang berbeda dari toko online teman kita. Ini contoh mencuri ide bisnis dari segi jenisnya.
2. Keseluruhan atau hampir keseluruhan. Nah, tetap dengan contoh yang sama. Apabila kita tidak melakukan ATM pada toko online kita, atau hanya sebagian kecilnya saja, bahkan, kita jiplak kata-kata yang ada di toko online teman kita, maka kita termasuk mencuri ide bisnis secara keseluruhan atau hampir keseluruhan.
Setelah kita mengetahui keuntungan dan jenis mencuri ide bisnis, kita juga harus pahami masalah etika dari mencuri ide bisnis. Tahukah kita bagaimana perasaan orang yang kita curi ide bisnisnya? Saya pribadi, jujur hal itu sangat menjengkelkan! Pasalnya, toko online saya e-Salim.com sudah dicuri idenya oleh beberapa toko online baru. Bagaimana tidak jengkel? Dengan tidak malu-malu mereka menjiplak kata-kata yang ada di e-Salim.com.
Dengan ini maka saya bisa simpulkan, jika mencuri ide bisnis hanya sebagian maka ini bisa ditolerir. Namun, jika sudah secara keseluruhan atau hampir keseluruhan maka ini yang tidak benar. Saran saya, jika ingin mencuri ide bisnis orang, jangan lupa lakukan ATM, Amati Tiru dan Modifikasi. Tunjukan pada dunia kalau kita mampu!
Apakah Anda pernah mencuri ide bisnis? Atau malah ide bisnis Anda pernah dicuri?
Mengubah Prospek Menjadi Pelanggan
Krisis kembali mengadang. Kue pasar mengecil, biaya operasi perusahaan membengkak. Semua hal ini menekan profit margin perusahaan. Banyak perusahaan berjuang, sekedar untuk bertahan hidup. PHK terjadi dimana-mana. Apa yang bisa kita lakukan?
Sebagai business owner, tugas Anda hanya satu; membawa perusahaan Anda selamat dari badai krisis ini!
Pelanggan yang ada sekarang mungkin telah mengurangi jumlah pembeliannya atau bahkan telah berhenti membeli. Kita harus mencari prospek baru dan merubahnya menjadi pelanggan.
Ada beberapa taktik yang dapat Anda gunakan untuk men-convert prospek menjadi pelanggan. Salah satu senjata lama, adalah fokus pada pelanggan yang mau membeli, yang meminta Anda menghubunginya kembali.
Pada saat Anda melakukan wawancara penjualan, baik secara temu muka atau melalui telepon, sering sekali prospek/pelanggan meminta Anda menghubungi mereka kembali. Alasannya mungkin mereka belum siap saat ini, stock masih ada, yang berwewenang tidak ditempat, dana belum ada, perlu diskusi dengan suami/istri dan sebagainya.
Yang pasti, dengan meminta Anda menelpon kembali; prospek Anda sebenarnya BERMINAT membeli! Tetapi tidak pada saat ini!
Kenyataan pahit yang terjadi, kita lupa untuk menghubungi mereka kembali tepat waktu. Ketika kita tiba-tiba teringat, segalanya telah terlambat. Prospek tersebut telah membeli pada pesaing kita.
Kelupaan ini dapat saja terjadi pada semua staf lapangan Anda; salesman Anda, staf Admin Anda, telesales Anda. Bayangkan betapa banyaknya potensi penjualan yang menguap sia-sia.
Sebenarnya, ada tiga langkah mudah untuk mengingat prospek yang berMINAT;
1. Siapkan sebuah Buku Agenda 2009 – Standard, untuk setiap staf Anda.
2. Pada saat wawancara, di kala prospek meminta Anda untuk menghubungi mereka kembali, segera catat nama pelanggan pada tanggal dan jam yang sesuai di buku Agenda Anda.
3. Hubungi prospek/pelanggan Anda pada hari dan jam yang diminati mereka!
Hanya dengan melakukan tiga langkah sederhana ini, Anda dapat menambah banyak pelanggan baru.
Peluang Usaha Toko Online
Tahun 2008, saya yakin pemanfaatan media internet di Indonesia untuk pemasaran produk akan semakin meningkat. Selain karena jumlah mereka yang ‘melek’ internet meningkat, juga karena banyaknya media dan wadah pembelajaran online marketing. Ebook-ebook tentang bisnis internet semakin banyak. Kursus-kursus pemasaran internet bermunculan. Belum lagi liputan media massa terhadap pelaku bisnis berbasis online. Saya sendiri dan tim saya pernah diliput Majalah SWA, Majalah Pengusaha, Majalah DUIT, Majalah Bisnis Kita, Tabloid Kontan, Koran Malang Post, dll.
Peluang usaha Toko Online adalah salah satu peluang usaha yang bisa Anda coba. Toko online yang saya maksud adalah website yang digunakan oleh pelaku bisnis untuk memasarkan produknya. Produk bisa berupa barang atau jasa. Tapi, di tulisan ini saya ingin lebih fokus pada produk barang.
Bagaimana agar sukses di usaha toko online?
Berapa banyak toko online di Indonesia yang pernah Anda lihat? Berapa diantara mereka yang sukses? Tidak semua sukses bukan?
Kunci Sukses Membangun Toko Online
1. Membangun Tim
Ingin seberapa besarkah toko online Anda, bangunlah tim yang sesuai. Jika bermodal kuat, rekrutlah orang-orang yang berkompeten. Jika sudah beristri, Anda bisa menjadikan istri sebagai tim Anda. Orang-orang dekat Anda (saudara) juga bisa menjadi tim Anda. Memberikan pekerjaan kepada orang dekat bisa menjadi kekuatan spiritual yang membuat Anda sukses. Jika tidak memungkinkan membangun tim, mulailah seorang diri. Anda bisa merangkak dari bawah hingga Anda mampu dan siap merekrut tim yang tangguh.
Tanpa tim, usaha kita tidak akan berkembang dan bertahan lama.
2. Membuat Website yang Menjual
Website adalah pilar utama promosi Toko Online. Anda harus punya website sendiri. Bukan web gratisan. Sebaiknya berakhiran .com atau .net, karena ini yang sudah populer di masyarakat. Toh, biaya tahunan domain hosting hanya Rp 200.000. Website Anda harus bisa ‘menjual’. Artinya website Anda tersebut harus bisa mewakili Anda untuk menjadi sales yang memikat bagi pembeli. Website Anda harus bisa meyakinkan pengunjung bahwa Anda layak diajak bertransaksi. Cantumkan alamat jelas dan no telp yang mudah dihubungi. Cantumkan foto-foto produk dan foto-foto lain yang membuat pengunjung semakin percaya dengan Anda.
Website Anda harus terindek di search engine, dan mudah ditemukan untuk keyword yang berhubungan dengan produk Anda. Gunakan script toko online yang search engine friendly. Tidak semua script toko online ramah dengan search engine. Karena itu, saya lebih suka menggunakan blog untuk jualan online daripada script yang tidak ramah dengan mesin pencari. Dan saya rasa blog cocok bagi pemula. Apalagi untuk produk-produk yang harganya mahal dan tidak bisa order online secara langsung. Bisa juga blog menjadi web pendukung bagi toko online Anda.
3. Promosi Tepat
Siapa calon konsumen Anda ? Dimanakah Anda akan menemukan mereka ? Cara cepat dan tepat menemukan konsumen adalah dari search engine (google, yahoo, dll). Disinilah pentingnya SEO (search engine optimization).
Promosi yang lain adalah di iklan baris, iklan di web yang banyak pengunjungnya, PPC ataupun komunitas online. Tentu saja harus kembali lagi “Siapa Calon Konsumen Anda”.
4. Pelayanan
Lakukan pelayanan yang baik. Kecepatan pelayanan salah satu kunci utama. Bermitralah dengan jasa pengiriman barang terpercaya. Garansi produk juga penting. Jika usaha Anda bertambah besar, bentuklah tim yang tangguh.
5. Mental Wirausahawan Sukses
Usaha toko online adalah sama dengan usaha lainnya. Miliki mental wirausahaan yang sukses, antara lain :
- Pantang menyerah. Di bisnis apapun, kendala pasti ada.- Sabar. Produk Anda mungkin laku di hari pertama, mungkin juga di tahun pertama.
- Berani menghadapi resiko. Resiko pasti ada. Tinggal bagaimana kita menghadapinya.
- Selalu mencari peluang. Boleh jadi bisnis pertama Anda gagal. Tapi itu bukan akhir segalanya, kan?
Peluang usaha toko online masih banyak. Silahkan cari peluang yang sesuai dengan Anda.
6. Belajar Seperlunya
Peran seperti apa yang Anda inginkan di toko online Anda? Itulah yang harus Anda pelajari. Anda tidak harus mempelajari semuanya.
Misalnya, Anda ingin memasarkan produk. Yang perlu Anda pelajari internet marketing dan dasar-dasar membuat web/blog (tidak harus ahli html). Bidang-bidang lain, bisa Anda serahkan ke tim Anda (produksi barang,pengiriman,promosi offline, dll).
7. Berbuat Baik dan Beramal
Perbuatan baik dan infaq-shodaqoh-zakat berbanding lurus dengan profit usaha Anda. Hal ini telah ditegaskan di Kitab Suci. Uang yang kita ‘keluarkan’ akan dibalas puluhan, bahkan ratusan kali lipat. Bisa hari itu juga, tahun depan atau minimal di akhirat. Saya sendiri sudah membuktikan hal ini. Dan ini berlaku untuk semua bisnis.
Nah… Itulah tips dari saya. Ini berdasarkan pengalaman pribadi lho.
Al Arif
Menjadi Juragan Kambing
Lucu? tunggu dulu, jangan sepelekan bisnisnya. Boleh dibilang. kini Andrilah pengusaha kambing terbesar di Jabotabek. Saat Idul Adha, setidaknya 2500 ekor kambing bisa dijualnya, dia juga cerdik: sukses menggandeng 15 rumah sakit di Jabotabek (di antaranya Hermina, Sari Asih dan Insani), untuk menyediakan kambing akikah buat pasien yang membutuhkan, juga, memasok beberapa pasar (100 ekor/hari) dan menjadi penyelanggara akikah missal untuk korporat. MInyak Telon Cap Lang sebut saja, pernah menunjukHSM sebagai pelaksana untuk akikah 200 ekor kambing.
Tak ada sesuatu yang datang begitu saja. Andri mulai belajar bisnis ketika kuliah, semasa di ITB. Dia pernah membuka usaha rental komputer dan setelah lulus berjualan buah-buahan di Tanah Tinggi, Jakarta . Mantan manajer pemasaran di perusahaan distribusi komputer ini sejak awal memang tertarik dengan dunia wirausaha. Pada 2004 bersama teman-temannya dia mendirikan lembaga incubator bisnis bersama Lembaga Pengelolahan, Pembinaan dan Pengembangan Wirausaha (LP3W) Harmonia. Kegitatannya: menyelenggarakan seminar kewirausahaan. Lembaga ini sempat juga menjual berbagai produk elekronik seperti digital printing, telepon seluler dan panel lisrik.
Namun, kelahiran Jakarta 1972 ini akhirnya berkesimpulan bahwa berbisnis mesti fokusdan tidak harus dibidang High tech. Dia pun lalu memilih usaha pinggir jalan: bisnis kambing Dengan harapan kami bisa membuat contoh usaha bisnis kambing yang berhasil dan kemudian mengangkat gengsi dan taraf hidup peternak kambing, ujar Andri yang memulai bisnis kambing pada Februari 2006 dengan modal awal Rp 15 juta, dialokasikan untuk menyewa tempat, membangun kandang dan membeli beberapa ekor kambing.
Awalnya Andri mengarap pesanan musiman seprti Idul Adha. Lalu, berlanjut ke momen yang datengnya bisa kapan saja, seperti akikah. Untuk promosi, dia memasang banner mini di pohon-pohon, member voucer diskon akikah sebagai cendramata pernikahaan, hingga mendekati berbagai rumah sakit dan bidan. Waktu itu belum ada yang melakukan pendekatan ke kalangan rumah sakit. Pihak rumah sakit memberi informasi ketika pasien akan membuat akte kelahiran.
Bisnis kambing itu rupanya berjalan baik. Apalagi , setelah dia mendapatkan suntikan modal dari mitra investor, khususnya Muriatno Albaro dan Affendi Arsyad besan pemilik masjid kubah emas Depok, Dian Almahri. Setelah setahun berjalan, Andri pun mendirikan CV Harmonia Adil Mandiri dan belum lama ini diubah menjadi HSM. Omsetnya?
Kini HSM per tahun mencapai Rp 5 miliar dari hasil ternak di dua tempat: Balaraja, Tangerang seluas 7.500 m2 dan Rangkasbitung, Banten, seluas 4 hektar. Untuk mempercepat perkembangan bisnisnya, dia juga mendirikan Kelompok Peternak Saga Makmur diresmikan Wakil Bupati Tangerang H. Rano Karno dan Koperasi Peternak yang diresmikan Menteri Koperasi H. Suryadarma Ali.
Faizal Amry Jalil adalah salah satu pelanggan HSM yang membeli kambing untuk kebutuhan seperti akikah dan Hari Raya Qurban. Saya sudah beberapa kali membeli dari Andri Fajria. Awalnya dia membeli karena tahu dari brosur, tapi kemudian dia selalu membeli di HSM setelah mengetahui kualitas kambingnya.
Bekerja sama dengan PT. Rekayasa Industri, Andri berencana membuka 5 Ha area peternakan di Cibubur, Jakarta Tahun 2009, Andri dkk. juga akan membangun usaha yang mendatangkan nilai tambah, seperti membuat kerajinan kulit, tulang, tanduk dan bulu, serta membuat usaha bakso kambing keliling. Tahun 2010 kami akan dirikan pabrik pengelolahan kambing dan pada 2011 kawasan peternakan kami di Balaraja akan menjadi agrowisata khusus kambing, papar dosen tamu Institut Teknologi Bandung dan Universitas Andalas untuk mata kuliah Kewirausahaan ini.
Afendy Arsyad, Komisaris HSM, menambahkan, Aqiqah Center akan mengelola segala kebutuhan akikah bagi masyarakat Jabotabek Bahkan tak hanya akikah, nantinya diupayakan menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengetahui seluk beluk kambing, bahkan melakukan diversifikasi dengan membuat sosis daging kambing dan restoran dengan masakan berbahan kambing.Kami ingin fokus di sini, ujar mantan Camat Mauk Tangerang ini.