Tampilkan postingan dengan label bisnis waralaba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis waralaba. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2011

WIRAUSAHA Aneka Resep Kue Kering





cari duit Resep kue kering lebaran yang memang sangat mengguga selera siapa saja yang melihat tampilan yang cantik yang bisa menjadi ciri kas anda di mana kue kering ini sangat enak dan bisa di sajikan dengan minuman yang segar, rasa nikmat kue kering untuk lebaran ini menjadi suatu citra rasa yang bisa di nikmati semua keluarga anda, mungkin dengan menyajikan kue lebaran tersebut bisa membuat anda terpesoda dengan banyaknya pujian yang menyatakan kue lebaran anda sangat enak dan nikmat sekali kata ibu atau kelurga anda.

bisnis 2011 Mungkin dengan resep kue kering lebaran ini membuat anda langsung memberikan sms lebaran dan ramadhan, kepada keluarga terjau anda dengan memberikan rahasia resep kue kering tersebut.

Dari pada basa-basi anda bisa melihat resep kue kering di bawah ini :

Berikut ini : video cara membuat kue kering
Kue kering putri salju

Bahan :

100 gr Margarin

50 gr Tepung gula

1 bt Kuning telur

125 gr Tepung terigu

100 gr Kcang mede sangria, haluskan

1/8 sdt Garam

100 gr Tepung gula khusus taburan



Cara membuat :

- Kocok margarine dan tepung gula 30 detik. Tambahkan kuning telur, kocok rata.

- Masukkan tepung terigu sambil diayak dam diaduk rata.

- Tambahkan kacang mede halus dan garam, aduk rata.

- Ambil 1 sendok the adonan. Lalu bentuk bulan sabit.

- Oven 20 menit dengan suhu 160 derajat celcius. Angkat. Panas-panas gulingkan pada tepung gula.

bisnis online gratis
ide bisnis

Senin, 18 April 2011

Tips dan Strategi Memulai Bisnis Kue Kering

Biasanya kue kering menjadi makanan favorit dan banyak dicari para konsumen pada saat perayaan hari raya seperti pada saat lebaran. Tradisi makanan wajib yang biasa dihidangkan pada saat lebaran, selain ketupat opor biasanya juga dihidangkan berbagai macam kue kering seperti nastar, kastengel, putri salju, kue sagu, kue lidah kucing, serta aneka macam kue lainnya.

Kebiasaan masyarakat tersebut menyebabkan permintaan akan kue kering mampu meningkat tajam, bahkan hingga 200% dari permintaan pasar pada hari – hari biasa. Tingginya permintaan pasar akan kue kering biasanya dijadikan sebagai peluang untuk meraih untung dari usaha musiman tersebut.

Konsumen

Dengan tingginya permintaan konsumen akan kue kering menjelang lebaran, pelaku usaha kue kering tidak perlu susah – susah mencari konsumen. Karena hampir semua kalangan membutuhkan kue kering, dan tidak semua orang memiliki waktu ataupun kemampuan dalam membuat kue kering. Sehingga mereka lebih memilih membeli kue kering yang banyak ditemukan di pasaran, daripada harus membuatnya sendiri. Disamping konsumen rumahan, permintaan akan kue kering juga datang dari berbagai kantor yang menggunakan kue kering sebagai parsel untuk para karyawannya.

Produk

Walaupun permintaan pasar akan kue kering sangatlah tinggi, namun sebagai pelaku usaha Anda harus tetap memperhatikan kualitas produk kue kering yang Anda produksi. Jika ingin menggunakan bahan tambahan seperti bahan pengawet, bahan pewarna serta bahan pemanis pilihlah bahan yang khusus untuk makanan. Sedangkan untuk pemilihan bahan baku, gunakan bahan – bahan yang berkualitas,dan jangan lupa perhatikan masa kadaluarsa bahan baku yang akan digunakan. Sehingga kue kering yang kita hasilkan aman untuk dikonsumsi dan tidak membahayakan kesehatan para konsumen.

Selain kualitas produk, yang harus dipikirkan adalah kemasan produk yang menarik untuk menguatkan minat pada konsumen pada produk yang kita produksi. Karena biasanya hal pertama yang dilihat konsumen adalah tampilan luar atau kemasan produknya. Untuk mempercantik penampilan kue kering yang Anda pasarkan, dapat menggunakan berbagai macam bentuk toples kedap udara atau bisa juga menggunakan toples mika yang ditutup rapat dengan plester transparan. Untuk menambah nilai jual, Anda dapat menambahkan hiasan ataupun mencantumkan merek kue kering yang Anda produksi pada kemasan.

Pemasaran

Tawarkan produk kue kering yang Anda produksi pada rekan kantor ataupun tetangga sekitar rumah Anda. Biasanya mereka akan lebih senang jika ditawari dengan cara memesan, sehingga mereka tidak perlu tenaga dan waktu untuk mencari kue kering di supermarket ataupun toko – toko roti.
Cara yang kedua yaitu tawarkan produk Anda ke toko – toko roti, supermarket, ataupun tempat jasa pembuatan parsel. Pada saat menjelang lebaran, banyak toko dan tempat pembuatan parsel yang menerima stock kue kering dalam jumlah yang cukup besar.
Cara yang ketiga yaitu menggunakan brosur dan katalog untuk menawarkan produk Anda melalui para agen, dengan memberikan imbalan tertentu untuk tiap penjualan.
Cara yang keempat yaitu dengan menggunakan bantuan internet dalam memasarkan produk Anda. Sehingga dapat menjangkau pemasaran yang lebih luas, hingga ke berbagai daerah.
Gunakan merek pada produk Anda, sehingga dapat mengenalkan dan menanamkan citra produk kue kering yang Anda produksi pada pasar.

Analisa Ekonomi

Misal sekali produksi, menghasilkan 200 toples dengan harga jual @ Rp 30.000,00

Modal awal
Oven Rp 3.000.000,00
Mixer Rp 2.000.000,00
10 Loyang @ Rp 30.000,00 Rp 300.000,00
5 Baskom @ 20.000,00 Rp 100.000,00
Kompor gas 1 tungku Rp 200.000,00
Bahan baku Rp 2.000.000,00
Kemasan Rp 1.000.000,00+
Total Rp.8.600.000,00

Pengeluaran
Bahan baku Rp 2.000.000,00
Kemasan Rp 1.000.000,00
Tenaga kerja 2 orang Rp 1.000.000,00
Listrik Rp 100.000,00
Gas elpiji Rp 14.000,00
Transport Rp 150.000,00
Promosi Rp 150.000,00+
Total Rp 4.414.000,00

Omset / produksi
( @ Rp 30.000,00 x 200 toples ) = Rp 6.000.000,00

Laba bersih / produksi
( Rp 6.000.000,00 – Rp 4.414.000,00 ) = Rp 1.586.000,00

Kamis, 31 Maret 2011

Cara Membuat Fried Chicken Crispy

RENYAHNYA CHICKEN CRISPY UNTUK USAHA DALAM PELATIHAN KULINER DI TRISTAR HOME INDUSTRY COURSE

Aneka hidangan yang berbahan daging ayam memang masih menjadi pilihan sebagian besar masyarakat kita. Beragam makanan berbahan ayam pun kini semakin bervariasi. Salah satu makanan dari ayam yang populer adalah ayam crispy atau sering disebut fried chicken crispy. Makanan yang satu ini makin digemari karena rasanya yang gurih serta lapisan luarnya yang renyah. Namun untuk membuat chicken crispy yang mempunyai kerenyahan lapisan luar bisa awet hingga 3 jam tentu bukan hal yang mudah bila kita belum mengetahui rahasia pembuatannya. Banyaknya penggemar chicken crispy ini juga menjadikan makanan ini mempunyai nilai jual yang cukup menjanjikan. Dengan alasan itulah maka Tristar Home Industry Course yang beralamatkan di Jl. Rungkut Mapan Utara Blok CA no.24 Surabaya mengadakan pelatihan atau kursus dengan materi Fried Chicken Crispy, Chicken Karage, Chicken Katsu, Chicken Strip dan saus sambal botolan. Adapun pelatihan ataupun kursus kali ini diadakan pada hari Rabu (20/10) pada pukul 13.00 WIB. Materi kursus kali ini disampaikan oleh Endang selaku pengajar.
Endang Sri Rahajoe
Sebelum mempraktikkan cara membuat olahan ayam dan saus sambal ini, terlebih dahulu para peserta dijelaskan seputar bahan dan cara pembuatannya. Bahkan berbagai tips-tips seputar proses pengolahan juga diberikan oleh Endang. Para peserta kursus yang berjumlah 10 orang kali ini tampak serius mendengarkan penjelasan dari Endang. Tak hanya diberikan penjelasan saja, para peserta kursus juga bisa bertanya apa saja seputar materi yang disampaikan. Setelah penjelasan materi disampaikan, Endang langsung mempraktikkan cara mengolah ayam. Terlebih dulu, ayam dipotong sesuai dengan ukuran masing-masing. Kemudian beberapa ayam direndam dengan bumbu-bumbu yang telah dihaluskan sebelumnya dan dibiarkan selama beberapa waktu. Proses perendaman ayam dengan bumbu ini dimaksudkan agar bumbu meresap ke dalam ayam sehingga ketika diberi balutan tepung, rasa ayamnya tidak akan hambar.



Sebelum ayam diproses lebih lanjut serta menunggu bumbu meresap ke dalam ayam, maka Endang meneruskan materi selanjutnya yaitu proses pembuatan saus sambal botolan. Bahan utama pembuatan saus sambal tak lain adalah cabai. Terlebih dahulu cabai direbus hingga matang dan kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender. Sambal yang sudah halus ini kemudian ditambahkan bahan lainnya dan dipanaskan sambil diaduk hingga mendidih. Sambil mempraktikkan pembuatan saus sambal, Endang juga memberikan sedikit tambahan seputar pembuatan saus tomat. “Bila ibu-ibu atau bapak-bapak ingin membuat saus tomat dalam botol, sebaiknya jangan menggunakan tomat segar tapi gunakan tomat pasta. Karena tomat segar mengandung enzim-enzim yang akan menimbulkan reaksi kimia. Sehingga tomat segar tidak boleh dipergunakan untuk pembuatan saus tomat.” jelas Endang di sela-sela praktik. Setelah proses pembuatan saus sambal selesai diberikan, maka saus sambal segera dimasukkan dalam botol plastik dan dikemas.



SAMBAL BOTOL

Materi kursus kemudian berlanjut dengan proses pengolahan ayam. Proses pengolahan ayam yang pertama kali dipraktikkan adalah pembuatan Fried Chicken Crispy. Dalam pembuatan Fried Chicken Crispy yang renyahnya bertahan hingga 3 jam ini memang terdapat rahasia khusus. Dan rahasianya terdapat dalam komposisi bahan tepungnya. Tak sekedar cara membuat ayam yang lapisannya keriting dan renyah saja, para peserta juga diajarkan cara membuat dan meracik tepung crispy yang sering digunakan untuk membalut ayam. Selesai tepung crispy dibuat, Endang kemudian mengajarkan cara melapis ayam agar hasilnya keriting. Para peserta pun kemudian satu per satu mempraktikkan membuat ayam crispy hingga diperoleh lapisan yang keriting. Ayam yang sudah dibalut tepung ini kemudian langsung digoreng dalam minyak yang panas dan banyak hingga matang dan berwarna kuning kecokelatan. Usai dengan pembuatan Fried Chicken Crispy, materi dilanjutkan dengan pembuatan Chicken Karage dan Chicken Strip yang cara membuatnya hampir sama dengan Fried Chicken Crispy. Materi yang terakhir dipraktikkan adalah Chicken Katsu yang bahan balutannya menggunakan tepung roti atau yang biasa disebut dengan tepung pangko. Ayam yang sudah dibalut tepung pangko tersebut kemudian digoreng hingga matang.
Seluruh materi usai sudah diajarkan, para peserta kursus bisa langsung mencicipi makanan hasil praktiknya dan juga membawanya pulang. Berbagai alasan mengikuti kursus ini pun juga disampaikan para peserta mulai dari sekedar ingin tahu hingga untuk membuka usaha. Dan mereka mengaku belajar di Tristar Home Industry Course merupakan pilihan yang tepat untuk menimba ilmu kuliner. Hal ini juga disampaikan oleh seorang peserta bernama Lely, peserta asal Sidoarjo ini memang baru pertama kali mengikuti di Tristar tapi ia merasa puas mengikuti jalannya kursus ini. “Walaupun baru pertama kali mengikuti kursus, tapi saya merasa banyak hal baru yang saya pelajari. Jadi kemungkinan saya akan mengikuti kursus di Tristar kembali” jelas Lely. Sebagai lembaga pelatihan wirausaha, Tristar Home Industry Course memang berbeda dengan tempat pelatihan lain yang serupa. Para peserta tidak hanya akan melihat dan menerima materi saja melainkan juga didukung dengan praktik secara manual dan menggunakan alat atau mesin yang bisa didapatkan di Tristar Machinery. Tak hanya itu saja, peserta juga bisa bertanya langsung dan bahkan setelah selesai kursus para peserta juga tetap bisa berkonsultasi bila mengalami kendala ketika praktik di rumah. Hal ini tentu menjadi nilai lebih bagi peserta agar nantinya mempunyai gambaran yang jelas tentang usaha yang akan dirintis.

CHICKEN CRISPY
CHICKEN KARAGE
CHICKEN KATZU
CHICKEN STRIP
Jadi bagi Anda yang ingin mengikuti kursus, silahkan hubungi:
Tristar Home Industry Course
Jl. Rungkut Mapan Utara Blok CA no.24 Surabaya
Telp. (031) 8707808-8794764-8794765-71933131,085731051010

Selasa, 08 Maret 2011

IKM Cetak 20.000 Wirausaha Baru

Jakarta (Citra Indonesia): Salah satu pilar Indonesia dalam mensiasati pasar tunggal ASEAN khusus IKM. Ditjen IKM siap mencetak 20 ribu wirausahawan baru melalui program pemberdayaan yang terstruktur.

“Bukan hanya memberikan modal lalu dilepas begitu saja. Para IKM harus dimajukan usahanya,” jelas Dirjen IKM Kemenperin, Euis Saedah, di Jakarta (4/3/2011).

“Saya melihatnya tidak sederhana dulu. Indonesia (Perindustrian pada tahun awal 90-an) puny acv tapi kenapa tidak jalan, adalagi pelatihan untuk kewirausahaan ada MT (Motivation Training) koperasi juga mengeluarkan sertifikat kewirausahaan, setelah saya lihat beberapa program kewirausahaan dan berbicara dengan perguruan tinggi, tenyata mereka memiliki incubator sendiri-sendiri dan model kewirausahaan. Saya melihat kewirausahaan itu harus by disain, tambahnya.

Berikut langkah-langkah yang harus di tempuh dalam menciptakan wirausahwan yang tangguh. Kewirausahaan itu harus selektif seperti di Jepang, tidak bisa untuk siapa saja, oleh karena itu kewirausahaan itu yang bener, harus dimulai dari rekruitment dan penyaringan, harus di bedakan program untuk lulusan SLTA dan Perguruan Tinggi (PT),” jelasnya.

Rekrument, berikan pelatihan, setelah dikasih ilmu kemudian mereka magang sebulan atau dua bulan, setelah itu kasih ilmu lagi, ilmu lanjutan setelah tahapan tersebut barulah masuk ke tahapan incubator. Rata-rata di beberapa tempat selama 6 bulan diseleksi, misalnya yang tadi 30 mungkin yang terseleksi 10 orang yang sungguh berminat. Makanya setelah melalui tahapan ini di seleksi lagi masih dalam incubator bisa di perguruan tinggi, bisa dibalai-balai besar yang memiliki incubator kita titipkan disana.

Lalu mereka membuat bisnis plan (on desk- mencari peluang secara detail apa saja yang diperlukan dalam usahanya). Dalam proses in tetap ada pengawalan memalui bagi tugas karena kita akan mengandeng UKM, Perdagangan, dan BPPT idealnya.

Setelah minatnya bulat baru start up bisnis, betul-betul bottel neck. Lalu diambil 5 terbaik yang akan mengarah kepada wirausaha yang beneran.

“Dari 4 tadi akan tercipta 20 wirausahawan dan kita kawal dengan meminta bantuan ahlinya. Nanti jika seperti itu kita juga PD minta lembaga keuangan,”.

“Tolong dibantu biayanya, baru diberikan modal untuk membuka usaha. Ini juga dalam perjalanannya harus dikawal tidak bisa dilepas begitu saja, pengawalan bisa oleh tim tadi atau oleh sindan atau UPL memiliki 460 sindan mengawal incubator ini. Biaya konsultan di tanggung IKM. Itu baru relativ, jadi lah ketimbang kita lepas begitu saja,” imbuhnya.

Itu untuk kewirausahaan yang terstruktur. Yang karier. Jadi dia (IKM) juga memiliki sertifikat kewirausahaan industri. Dan jangan lupa harus ada lembaga yang mengkontrol ini. “Baru lah target 20 ribu wirausahawan dapat terlaksanan,” Euis Mengakhiri perbincangan. (iskandar)

Rabu, 09 Februari 2011

Pelatihan & Kursus Fried Chicken Crispy

Jualan Fried Chicken Crispy & Keriting.
Image

Peluang Usaha ini ternyata diminati masyarakat Indonesia. Meskipun acara seperti ini sudah digelar berkali kali diberbagai kota di Indonesia ternyata masih banyak juga peminatnya. Berikut Liputan Acara Kursus Singkat Cara membuat Tepung Fried Chicken & Teknik Mengeriting Ayam sehingga Keriting & Crispy yang digelar di Universitas Narotama.

Ibu Ernawati, Instruktur dari Tristar Kursus Home Industry sedang menyampaikan teory cara membuat tepung Fried Chicken. Tepung Fried Chicken yang di produksi bisa juga dikemas & dijual langsung.

Teknik Mengeriting ayam, tujuannya agar ayam kelihatan lebih besar dengan balutan tepung yang Crispy. Apabila salah teknik, Fried Chicken akan menjadi bantat/alot.

Menggoreng dengan menggunakan deepfryer otomatis, kerja menjadi lebih Mudah & Cepat. Minyak Lebih Irit & lebih tahan lama, bisa berkali kali digunakan, karena suhu terkontrol sehingga minyak tidak mudah rusak. Selain itu, makanan yang digoreng dengan deep friyer otomatic hasilnya lebih cerah & sehat, karena tidak Over Heating.

Peserta praktek bersama belajar cara menggoreng Fried Chicken Criapy & Keriting menggunakan deepfriyer ekonomis.

Peserta Kursus Fried Chicken yang diadakan di Universitas Narotama menunjukkan hasil praktek bersama mengeriting Fried Chicken.

Apabila anda ingin berbisnis Fried Chicken, bisa mengikuti pelatihan aneka Food Industry yang diadakan KURSUSTRISTAR.COM

TRISTAR MACHINERY menjual aneka peralatan & mesin mesin Home Industry.

Bahan Bahan Tambahan Pangan, yang dipakai untuk Food Industry bisa diperoleh di:
CV. Tristar Chemical.
Jln. Raya Rungkut Mapan Blok FA3. Telp 031-8704937, 031-8721242
Fax 031- 8794768. Hp: 08123040593.

Senin, 13 Desember 2010

Jajan Pasar Kroket


Walaupun banyak bakery bermunculan, kue jajan pasar tak lekang dimakan jaman. Citarasanya yang khas dengan sederet nostalgia di dalamnya menjadikan makanan kecil ini tetap disuka. Seperti kue carabikang ini, rasanya yang legit terasa pas sebagai penyerta minum teh di sore hari.

Dengan sedikit ketelatenan, Anda pasti bisa membuat kue carabikang. Ikuti petunjuk resep dan cara membuatnya dengan benar. Anda pasti akan terkesima melihat hasil kue cantik dan lezat buatan Anda sendiri. Selamat Mencoba

Resep/Dapur Uji/Food Stylist: Budi Sutomo

CARABIKANG
Bahan:
350 gr tepung beras
2 sdm tepung terigu
850 ml santan kental dari dua butir kelapa
130 g gula pasir
1/4 sdt garam halus
1/2 sdt pasta pandan/pewarna hijau
1/2 sdt pasta cokelat/pewarna cokelat
minyak goreng untuk olesan

Cara Membuat:
1. Larutkan 3 sdm tepung beras dengan 200 ml santan. Didihkan sambil diaduk hingga mendidih dan mengental. Angkat.
2. Masukkan gula, garam, tepung terigu dan sisa tepung beras ke dalam rebusan tepung. Aduk rata.
3. Uleni adonan sambil dituangi sisa santan sedikit demi sedikit. Tepuk-tepuk (pukul-pukul) adonan dengan telapak tangan selama 40 menit atau hingga adonan terasa ringan. Diamkan selama 1 jam.
4. Ambil sedikit adonan, tempatkan di dua mangkuk berbeda, tambahkan pasta pandan dan pasta cokelat. Aduk rata.
5. Panaskan cetakan carabikang, olesi sedikit miyak. Tuang adonan hingga setengah dari tinggi cetakan. Beri motif dengan adonan berwarna hijau atau cokelat di atasnya. Panggang tanpa ditutup hingga matang.
6. Cungkil bagian sisinya hingga kue merekah, angkat. Hidangkan hangat.

Untuk 20 buah

Tip:
Untuk variasi kue cara bikang bisa disajikan hangat dengan parutan keju atau susu kental manis.

Minggu, 21 November 2010

PELUANG USAHA KECIL PALING PROSPEKTIF

Dari hasil survey sebenernya sudah sedikit memberikan gambaran tentang bisnis apa yang menjadi fokus cukup banyak. baik kita akan bahas secara singkat bisnis apa yang patut kita coba

Peluang usaha makanan dan minuman

Usaha makanan akan tetap menjadi primadona di tahun 2010, eskalasi kesibukan yang terus meningkat membuat kebutuhan makanan terutam yang berkonsep cepat saji akan terus berkebang. Selain itu minuman juga tidak kalah prospek, kenaikan suhu udara akibat pemanasan global akan menjadikan tingkat konsumsi air meningkat.

Peluang usaha rumahan modal kecil dengan bisnis online
Yang satu ini menjadi fokus saya, alasamya simple penetrasi pengguna internet di Indonesia yang semakin meningkat apalagi didukung harag akses yang semakin murah menjadikan pasar bisnis online terus meningkat. Diprediksi pada tahun 2010 akan terjadi peningkatan belanja iklan online. Bisnis onle tidak melulu bermain ppc, paid review, jual link atau afiliasi anda juga bisa menggunakn media online untuk membuat toko online, solusi murah hasil melimpah

Peluang usaha agroindustri
Masih ingat istilah back to nature? kesadaran akan pentingnya kesehatan dengan mengkonsumsi produk agro yang nirkimia menjadi prospek tersendiri. Saya sendiri sangat tertarik dengan usaha jamur

Peluang usaha ritel
Penetrasi ritel akan semakin meningkat pada tahun 2010, fenomena ini akan terjadi mengigta tingkat konsumsi kebutuhan daily need masyarakat indonesia semakin meningkat, memang pemain2 besar banyak yang bersaing tetapi bukan berarti kita tidak bisa ikut menikmati lezatnya bisnis ritel. Kita bisa mengabil segmen ritel yang gak bisa diambil oleh peritel besar seperti agen aqua dan gas keliling dengan konsep modern.Sebuah survey dari Nielsen menyebutkan bahwa penetrasi gerai ritel modern bisnis makanan di Indonesia sebanyak 52 unit untuk satu juta penduduk tempat teratas di duduki Korea Selatan dengan penetrasi 504 unit untuk satu juta penduduk. Negeri Tiongkok masih berada satu tingkat di atas Indonesia dengan penetrasi gerai sebanyak 74 unit untuk satu juta penduduk.

Peluang usaha toko produk tradisional
Khusus untuk segmen ini saya memilih batik sebagai andalan. Pengakuan Dunia bahwa batik adalah produk asli indonesia menyebabkan tingkat penggunaan baju berbahan batik meningkat. Ketertarikan konsemen modern kepada hal2 yang berbau tradisi juga memberikan pasar yang besar

Ada beberapa peluang bisnis lain yang kita bisa coba diantaranya peluang bisnis yang terkait dengan teknologi inovasi dari yang paling sederhana sampai yang canggih seperti usaha pengaman gas atau kemasan sampai pada internet, hp dll, ada yang ingin menambahkan?Selamat dan mari menjadi pengusah indonesia

Minggu, 17 Oktober 2010

franchise BAKMI MIE-KITA

BAKMI MIE-KITA......

HANYA: Rp.100 jt

ane mau jual nih usaha ane... kalo ada yang berminat,,
ane sebenarnya ga mau jual usaha ini.. cuma kerna orang tua ane udah meninggal ane harus mengambil alih perusahaan keluarga di SULTENG (palu)
jadi ane jual,, siapa tau ada yg minat
usaha ini sudah berjalan 1 thn.. masi ada 4 thn lagi sesuai dengan perjanjian franchisor itu 5 thn. BAKMI MIE-KITA udah banyak...
jakarta ada lebih dari 3 dan tanggerang,Bogor,cibinong,cirebon,surabaya dan papua
Jenis makanan yg di jual pun buanyak..kira2 ada 120 jenis makanan dan minuman,, harga terjangkau.
bisa di liat di google (BAKMI MIE-KITA JAK-TIM) Utan Kayu atau di klanakuliner.com
ane ga jual sama lokasi yang ada sekarang yaa! krn ane juga ngontrak..

Ane jual brikut ini nih:
Bar lumayan gede = servis seperti baru
4 sofa + 2 meja panjangnya
8 meja 80 x 80
24 buah kursi
Peralatan masak kompor,panci2 pokonya lengkap sama piring dll yg ber logo
Kaos karyawan
dan mungkin ada beberapa bonus yang ane bisa kasi

Sistem Waralaba Bakmi Mie-Kita - Bakmi

Tahun 2009 bakal diwarnai dengan tindakan pemutusan hubungan kerja, terutama di kalangan pekerja industri dan perdagangan, sektor usaha yang justru banyak menyerap tenaga kerja padat karya. Situasi yang menantang ini malah jadi peluang emas yang menjanjikan di mata Petrus Puspo Sutopo, owner Bakmi Mie Kita yang melebarkan sayapnya melalui program franchise PT Sistem Waralaba Bakmi Mie Kita bersama Kadafi Yahya dan Madna Yahya.

Bagaimana kiat usaha Petrus yang berobsesi membangun 165 outlet baru pada tahun Kerbau 2009, berikut petikannya :


Bagaimana Anda memulai terjun ke bisnis bakmi lewat jalur wirausaha ini?

Awalnya, saya ini kan orang broken home, ikut mama sendiri, yang sejak saya SD sudah jualan bakmi, saya aduk-aduk bahan mie itu hingga menjadi peluang emas yang menjanjikan. Dasar saya hobi makan mie ayam, akhirnya dari hobi itu saya kembangkan menjadi bisnis yang sifatnya komersial. Mulanya kecil-kecilan saja, setelah saya keluar dari Inti Salim Group gara-gara bos saya bilang bahwa yang ngasih makan saya adalah dia. Wah, terus terang saya tersinggung, karena sesungguhnya yang ngasih makan saya adalah Tuhan, bukan dia. Tuhan beri saya makan lewat dia, itu yang betul. Tapi, saya nggak mau debat, langsung saja keluar dari perusahaan itu.

Dari situ, Anda dapat modal dari mana?

Karena wirausaha ini saya mulai dari hobi, modalnya memang modal dengkul. Namun, dalam perjalanannya saya dapat modal dari H Firman Rp 200 juta. Saya bikin rumah produksi mie di Tangerang, berjalan sekitar 1999 sampai 2003. Di rumah produksi itu saya bikin aneka makanan yang bebas formalin, bebas bahan pengawet. Legalitas usaha itu saya buat pada April 1993, biar mudah mengingat, karena pas dengan ultah saya. Selain legalitas, saya juga mendapat sertifikasi halal food, tapi PT itu baru berdiri sejak tahun 2003.

Siapa saja pemegang saham perusahaan itu?

Awalnya, pak Firman masuk jadi pemegang saham. Tapi karena dia menyimpang dari aturan bersama, akhirnya sahamnya saya beli Rp 200 juta. Waktu itu, saya langsung beriklan di media massa, dan ternyata ada yang berminat membeli saham saya, yaitu Djaja Hendrawan. Maka, pemegang sahamnya sekarang adalah saya 60 persen, pak Djaja 40 persen. Jadi, dalam waktu relatif cepat, asetnya jadi 1 miliar. Itu terjadi pada tahun 2000, kini sudah ada yang berminat mau beli lebih dari 8 miliar, tapi saya berkeinginan untuk mengembangkan saja supaya bisnis Mie Kita ini kian berkibar dimana-mana. Obsesi saya umur 55 tahun, sama dengan pegawai negeri sipil, saya harus pensiun dan jadi passive income, tinggal menikmati hidup.

Bagaimana nilai saham itu bisa meningkat, sementara outlet Mie Kita baru 25, setelah buka di kota Bogor, Tebet, dan RS MH Tamrin Jakarta?

Saya jualan skills, ini yang mahal dan bisa mencapai 60 persen. Kalau rumah produksi sih cuma bangunan tipe 21, tapi dua lantai, luasnya sekitar 120 meter persegi. Tapi skills, itu yang berharga bagi seorang wirausahawan.

Bagaimana Anda membangun skills itu sehingga bernilai tinggi?

Untuk tahu masakan mie yang berkualitas, saya tak segan-segan membayar jago-jago pembuat mie yang tangguh dan kesohor lebih dulu. Misalnya, Mie Alok, Mie Aheng. Mereka saya minta demo masak, dan saya bayar waktu itu Rp 1,5 juta, kalau uang sekarang bisa 15 juta sekali demo. Demikian pula ketika saya ingin tahu bagaimana bikin Es Doger yang enak, saya panggil pembuatnya yang handal, lalu saya suruh demo seharian, dan saya ganti biaya produksi dia sehari itu, karena saya suruh demo. Untuk tahu soal toxin, higienitas makanan, packaging, dan enzyme, saya belajar khusus di IPB. Perlunya supaya skills saya meningkat dan langsung bisa saya praktekkan lewat dagang mie.

Selain itu, anda juga berdagang aneka juice dan minuman kesehatan, serta packaging aneka buah. Bagaimana ide itu bisa muncul?

Saya suka baca-baca buku Prof Hembing, ahli herbal dan kesehatan alternatif lewat tumbuh-tumbuhan. Setelah saya cermati buku Prof Hembing, saya lalu berdagang juice anti diabetes, dengan komposisi bahan herbal yang saya pelajari dari bukunya. Juga ada juice anti kanker, juice anti kolesterol, juice anti darah rendah, juice anti hipertensi, juice anti ginjal, anti asam urat, anti batuk, TBC, sariawan, dan juice pelangsing. Itu semua saya lakukan dengan menyerap selera pasar, yang di satu sisi pasar menghendaki minuman segar, tapi juga menyehatkan. Bahannya dari aneka buah-buahan, sekarang juga saya paket, sehingga tinggal dibikinkan juice.

Apa menu unggulan yang anda jual untuk memenuhi selera pehobi kuliner?

Sebagai spesialis Chinese Food Modern, saya juga memasarkan Chicken Kungpao, Cumi Lada Garam, Udang Goreng Gandum dan lainnya yang saya kemas lewat program franchise, yaitu paket mini resto seharga Rp 90 juta, paket foodcourt Rp 58 juta, dan paket resto Rp 125 juta. Rata-rata outlet yang ada balik modalnya 6-12 bulan, paling lama tiga tahun.

Apa yang melatarbelakangi optimisme Anda?

Pertama, harganya pantas, serba sepuluh ribu. Tapi yang lebih penting lagi ialah seleranya yang mengikuti selera kelas atas, sehingga semua kalangan bisa menikmati masakan kami. Tujuan utama saya adalah mengembangkan Bakmi Mie Kita sebagai trademark di kota-kota seluruh Indonesia dan juga membantu orang susah, biar nggak susah seperti saya dulu, yang hidup di panti asuhan. Cara bantu saya ya dengan berwirausaha, karena di Indonesia masih sedikit orang yag mau terjun dan berjuang demi kesuksesan berwirausaha. Setelah umur 55 tahun, saya pensiun biar bisnis ini diteruskan oleh masyarakat luas dimana pun berada.

Di tengah kesibukan Anda membina hubungan baik dengan mitra kerja untuk mengembangkan sayap usaha itu, bagaimana anda membagi waktu buat keluarga, istri dan anak-anak serta kerabat lain?

Anak-anak sih saya arahkan untuk bisa berwirausaha, seperti ayahnya, juga setangguh neneknya. Juga istri saya, mereka semua saya kira mendukung dan bahu membahu berwirausaha untuk mencapai target itu. Dengan karyawan saya sering membina dan mengarahkan mereka. Maklum, kebanyakan karyawan saya adalah mantan tukang becak yang nggak bisa baca-tulis, mantan kondektur, anak-anak jalanan, mantan pedagang kaki-lima, yang semuanya punya karakter sendiri-sendiri. Seperti bekas tukang becak, kebiasannya molor, tidur melulu. Tapi, karena saya memang sudah komit merekrut mereka, ya saya sendiri yang menempanya, bahkan ada yang sampai dua tahun baru bisa mengikuti ritme usaha saya. Selebihnya waktu senggang saya gunakan untuk baca-baca buku guna menambah wawasan yang bisa mendukung usaha saya.



Biodata :

Nama : Petrus Puspo Sutopo

Tempat/Tanggal Lahir : Malang, 27 April 1967

Pekerjaan : Pemilik PT Sistem Waralaba Bakmi Mie Kita

Alamat : Jl. Pajajaran 26 Kota Bogor

Istri : Digna Winarti

Anak : Shoteby Anthony Winsen, Michelle Levine dan Nikola Tesla

Pendidikan :

SD sampai STM di Jakarta di bawah asuhan Panti Asuhan Vincentius, Kramat Raya Jakarta
Teknik Sipil Politeknik Pasar Minggu Jakarta
Kursus Log Grader di Fakultas Kehutanan IPB
Kursus Ilmu Toxin, Herbal, Enzyme, Higienitas dan Packaging dari IPB

Pekerjaan :

Inti Salim Group
Wirausaha sendiri

Warna favorit : Hijau

Masakan favorit : Mie ayam

Moto : Jadi garam dunia

Obsesi : Membantu orang susah

Senin, 04 Oktober 2010

10 Tips For First-time Entrepreneurs

Young entrepreneursBy Scott Gerber of Entrepreneur.com: There are far too few resources directly addressing the nonacademic trials and tribulations young entrepreneurs face along their journey.

Whenever possible, I encourage up-and-comers and established entrepreneurs to mentor the next generation of dream-seekers, for it is this insight and insider education that will provide the foundation for the entrepreneurs of tomorrow.

With that, here are 10 pieces of advice that I wish someone had given to me before I launched my first venture.

1. Focus. Focus. Focus.

Many first-time entrepreneurs feel the need to jump at every “opportunity” they come across. Opportunities are often wolves in sheep’s clothing. Avoid getting side-tracked. Juggling multiple ventures will spread you thin and limit both your effectiveness and productivity.

Do one thing perfectly, not 10 things poorly. If you feel the need to jump onto another project, that might mean something about your original concept.

2. Know what you do. Do what you know.

Don’t start a business simply because it seems sexy or boasts large hypothetical profit margins and returns. Do what you love. Businesses built around your strengths and talents will have a greater chance of success.

It’s not only important to create a profitable business, it’s also important that you’re happy managing and growing it day in and day out. If your heart isn’t in it, you will not be successful.

3. Say it in 30 seconds or don’t say it at all.

From a chance encounter with an investor to a curious customer, always be ready to pitch your business. State your mission, service and goals in a clear and concise manner. Fit the pitch to the person. Less is always more.

4. Know what you know, what you don’t know and who knows what you don’t.

No one knows everything, so don’t come off as a know-it-all. Surround yourself with advisors and mentors who will nurture you to become a better leader and businessman. Find successful, knowledgeable individuals with whom you share common interests and mutual business goals that see value in working with you for the long-term.

5. Act like a startup.

Forget about fancy offices, fast cars and fat expense accounts. Your wallet is your company’s life-blood. Practice and perfect the art of being frugal. Watch every dollar and triple-check every expense. Maintain a low overhead and manage your cash flow effectively.

6. Learn under fire.

No business book or business plan can predict the future or fully prepare you to become a successful entrepreneur. There is no such thing as the perfect plan. There is no perfect road or one less traveled.

Never jump right into a new business without any thought or planning, but don’t spend months or years waiting to execute. You will become a well-rounded entrepreneur when tested under fire. The most important thing you can do is learn from your mistakes - and never make the same mistake twice.

7. No one will give you money.

There, I said it. No one will invest in you. If you need large sums of capital to launch your venture, go back to the drawing board. Find a starting point instead of an end point. Scale down pricey plans and grandiose expenditures.

Simplify the idea until it's manageable as an early stage venture. Find ways to prove your business model on a shoestring budget. Demonstrate your worth before seeking investment. If your concept is successful, your chances of raising capital from investors will dramatically improve.

8. Be healthy.

No, I'm not your mother. However, I promise that you will be much more productive when you take better care of yourself. Entrepreneurship is a lifestyle, not a 9-to-5 profession. Working to the point of exhaustion will burn you out and make you less productive. Don't make excuses. Eat right, exercise and find time for yourself.

9. Don’t fall victim to your own business bullshit.

Don’t talk the talk unless you can walk the walk. Impress with action not conversation. Endorse your business enthusiastically, yet tastefully. Avoid exaggerating truths and touting far reaching goals as certainties. In short, put up or shut up.

10. Know when to call it quits.

Contrary to popular belief, a smart captain does not go down with the ship. Don’t go on a fool’s errand for the sake of ego. Know when it’s time to walk away.

If your idea doesn’t pan out, reflect on what went wrong and the mistakes that were made. Assess what you would have done differently. Determine how you will utilise these hard-learned lessons to better yourself and your future entrepreneurial endeavors.

Failure is inevitable, but a true entrepreneur will prevail over adversity.

Scott Gerber is Entrepreneur.com's Young Entrepreneur columnist and CEO of Gerber Entertainment, a brand development and venture management company.

How To Find a Freelancer

Freelancers help business marketingBy OfficeCavalry.com: Office Cavalry is changing the way businesses find and work with freelancers.

They show thier hand by launching a teaser website showing how the portal will ensure freelancers maximise their experience and skills, without reducing their fee potential or quality of service.

The site claims it “will change the way businesses find and work with freelancers”, and provides more information about how the fully deployed site will work.

In the recovering economy, it is predicted that there will be over 10% unemployment in some areas of the UK. One of the ways the government is attempting to reduce these figures is by encouraging self-employment through tax breaks. It is expected that the combination of more demand for flexible workers and these tax breaks will encourage freelancing in the UK.

Andy Turner, co-founder of the site has said, “We really want to demonstrate freelancing as a viable option to more people out of work in the UK, as well as showing current freelancers that there’s an easier way to engage with potential project owners without compromising on value and quality.

"I have considerable experience hiring freelancers, so I understand how complex it can be to source quality individuals. From the other side, I also know how freelancers are desperate not to enter into a Dutch auction, where quality of work is compromised over price."

Turner said, "Freelancers need to know that they will still be acceptably rewarded for their hard work promptly after project completion. Office Cavalry plans to address these issues head-on, providing a new business model that is based on integrity, quality and value”.

The company behind the production and design of the site is the award-winning digital agency Cyber-Duck. Their technical and design team were behind BoonSpace.com - the innovative Web 2.0 service where anyone can send money as a gift, and Hablib.com - the social property portal that allows property owners to manage every element of their property sale online for free.

Sylvain Reiter, development director at Cyber-Duck said, “We were delighted when we won the Office Cavalry project. A problem we come across regularly ourselves is how to find talented freelancers. Office Cavalry has been built from the ground up and is going to utilise an innovative search algorithm and a proprietary review system to ensure the best quality freelancers are found.”

In addition to working on the production and design of the site, Cyber-Duck will be heavily involved in marketing Office Cavalry through Search Engine Optimisation, Facebook advertising, social media marketing and working with a PR agency to support the full launch.

The public BETA version of the site is due to launch in September 2010 and in the build up to the full launch, Office Cavalry will be running a competition where potential freelancers and project owners can win one of 20 prizes, including the innovative iPad and the latest iPhone 4.

Franchise Award Announces Finalists

Clapping, franchisee awardsA shortlist of 16 franchisees from across the UK have been drawn up for the prestigious bfa HSBC Franchisee of the Year Awards 2010.

Operating in sectors as diverse as automotive, fast food, home improvement and lettings, the finalists encapsulate the best qualities in franchising.

They will now pitch to the bfa judging panel of Sir Bernard Ingham, president of the bfa, Brian Smart, general director of the bfa, Cathryn Hayes, HSBC’s head of franchising, Paul Monaghan, director of The Franchise Development Centre and Hannah Poulton, associate of the Franchise Team.

Franchisees shortlisted – in alphabetical order by region - are as follows:

1) London & the South East

Wayne Mearns, Belvoir Lettings, Southend-on-Sea & Basildon
Guy Whittaker, Dairy Crest, Guildford
Peter Sullivan, McDonald’s, London


2) Scotland

George Stewart, Apollo Blinds, Hamilton
Frank Sutherland, Autosmart, Aberdeenshire
Stephen McMurray, Signs Express, Falkirk


3) The Midlands

Chris Bird, Autosmart, Stoke-on-Trent
Peter Morrison, Granite Transformation, Cambridge
Glyn Pashley, McDonald’s, Coventry


4) The North

Pamela Schure & Colin Belton, Belvoir Lettings, West Cumbria
Andy & Vicky Thompson, Card Connection, Gateshead
Catharine & Mike Chalton, Home Instead Senior Care, Wirral
Gerald Thompson, McDonald’s, Manchester & Oldham


5) The South West and South Wales

Nick Bourne, Cash Generator, Weymouth
Andy & Shelley Stewart, Dream Doors, Dorset & Taunton
Claire Lamputt, LighterLife, Bridgend


Once the 16 finalists have presented to the bfa panel the five regional winners will be chosen to compete for the coveted UK bfa HSBC Franchisee of the Year Award 2010.

All the winners will be announced at a gala awards dinner at The NEC Birmingham on 30th September.
Cathryn Hayes, HSBC’s head of franchising, said: “We have seen some truly inspirational franchisees through the nominations again this year and it just goes to show that British entrepreneurialism is most definitely alive and well – despite the recent challenges brought by the economic conditions.

“As a leading bank working with franchisees across the UK, we’ve seen innovation and revolutionary business problem solving as a very positive theme. This has been reflected in the bfa HSBC Franchisee of the Year Award 2010 nominations, and the final fifteen are a real credit to the franchise industry.
“We are very much looking forward to meeting the individuals behind some of the best franchises in the UK as part of the final judging stage.”

Ben Nealon, classified advertising manager from awards support, Express Newspapers, said: “The calibre of franchisees in the UK for this year’s awards is once again tremendous. Many are utilising the brand activity being undertaken by the franchisor, however many are also working hard to build local awareness as part of growing the business through difficult economic conditions.

“It’s very pleasing to see some of these tactics coming through in the finalists, demonstrating how important local awareness is for business success.”

Brian Smart, director general, bfa, concluded: “Having a strong and supportive franchisor is clearly important however it is the drive and entrepreneurial spirit of the franchisee which can be the difference between a good and an exceptional business. This year’s nominations for the bfa HSBC Franchisee of the Year Awards highlight the qualities needed to succeed, demonstrating innovation, creativity and the will to be as good as they possibly can and therefore all should be congratulated.

“We have a very strong finalist line-up going into the face-to-face judging stage and although the decisions will be tough, we’re looking forward to awarding the UK’s best franchisees who really have excelled this year.”

Duncan Bannatyne Works with Dragons’ Den Entrepreneur

Duncan Bannatyne with Razzamataz childrenNow in its fifth year, the business brains from Dragons’ Den have not forgotten past entrepreneurs as Duncan Bannatyne proved with his recent trip to Razzamataz Theatre School.

Founder and director of Razzamataz in Carlisle, Denise Hutton-Gosney, first appeared on the show in 2007 and after her dynamic pitch, caught the attention of Bannatyne who went on to offer her the full investment.

Since the Den, Hutton-Gosney has been busy building up the Razzamataz brand. There are now almost 40 schools up and down the country and Razzmataz has established a further collaboration with Bannatyne with the launch of Razz Xpress within the Bannatyne’s health clubs.

Nurturing young talent, be it in a theatre school environment or new entrepreneurs, is high on Bannatyne’s agenda and during his recent visit to meet the students, he was incredibly impressed with their commitment and enthusiasm.

Hutton-Gosney said: “Building up a child’s confidence and self-esteem is a big part of what we do at Razzamataz. Very early on we decided that the best ways to nurture young talent is by bringing in top professionals in their field to work with our students and inspire them to be the very best they can be.”

Over the last few months, Razzamataz children up and down the country have enjoyed workshops led by Tim Noble, choreographer to Kylie Minogue.

“We all know the benefits of keeping fit but staying motivated is the hard part,” said Hutton-Gosney. “By working with performers such as Tim Noble, Razzamataz students are getting the positive benefits of exercise but having lots of fun in the process.

“Theatre schools need to keep their students motivated, it is far too easy these days for youngsters to become distracted with television or computers and with our country’s growing obesity problem and it is up to theatre schools such as Razzamataz to help solve the problem.”

As well as improving health and fitness, participation in theatre arts has been shown to benefit children in many different areas as they acquire life and performance skills. Theatre trained individuals are identified as having transferable skills such as good interviewing technique – massively important for older children in the job market which additionally teaches self-discipline and the ability to work as a team.

“Working with Duncan Bannatyne and appearing on Dragons’ Den has been an incredible opportunity,” said Hutton-Gosney. “I’ve really appreciated the chance I have had and I’m delighted to say that Razzamataz is now able to invest in today’s youth with the launch of our Future Fund, which will sponsor the career training of a young performer.”

Many talented artists leave school or college with no means of taking their performance skills to a professional level because of lack of funding. Razzamataz students in their final year of school looking to progress their performing ambitions will be able to apply and audition for the funding.

“It is an incredible opportunity for our students and shows our commitment to facilitating them to continue training after they leave Razzamataz,” said Lynn Brownridge, a Razzamataz principal who was the inspiration behind the Future Fund. “It is a privilege to be able to give a young talented performer this opportunity and help them to fulfil their dreams.”

Future Fund will be officially launched on Sunday 28th November 2010 at Her Majesty’s, the West End theatre that is home to the phenomenally successful musical Phantom of the Opera. On the night, Razzamataz students will perform a special one-off performance.

Students from Razzamataz Theatre Schools all over the country will come together to perform at the West End theatre during a special tribute show to celebrate the 10th anniversary of the founding of Razzamataz.

Business Presentation Tips

Businesswoman, business presentationFrom Nazir Daud of CityLocal: In business, like in life, presentation is important.

Your customers' perception of your sales staff, your back-office staff and yourbrand help to mould how they perceive your business, and their likelihood of doing business with you.

Here are six tips that you can follow which will entice your customers to sign on the dotted line:

Look smart

As the saying goes, don't judge a book by its cover. Unfortunately, people do and you can use this to your advantage. Make sure you're looking well groomed for the occasion. The consequences are far less severe if you overdress, rather than under-dress, so keep this in mind when deciding on suitable attire.

Don't read from a PowerPoint presentation

Slides are meant to enhance your presentation, not be your presentation. Try to use PowerPoint presentations to show graphs, images and figures that are harder to understand when spoken. You should also try to make slides easy to digest, this means the customer will be focused on you more, and your slides less.

Practise makes perfect

Try to practise doing your presentation as much as possible. Try to focus less on the exact wording used, and more on the overall message. Ask a friend or co-worker to listen in and here what they have to say. While you may not have to follow their feedback word-for-word, it is hard to judge your own presentation when you're the one presenting.

It's even better if you present to someone within your business who you don't know as well.

Don't bury your head in your notes

It's easy to bury your head in your notes when doing a business presentation. Try not to. One of the best ways to avoid this is to ensure that you don't prepare what you'll say word-for-word. Only work on an overall message.

Or, if you must read from notes, only lower your head at the start of each sentence, read what you have to say and then lift your head and address your audience. Retro tip - pick something, or someone, at the back of the room to focus on.

Adopt a conversational tone

When presenting, it is easy to sound like your doing a book reading. This is particularly the case when you have prepared too much. Try to only prepare by creating a list of bullet points, and this will allow you to make your business presentation sound more conversational.

Through making impromptu comments you will be able to address this issue, and allow your prospects to focus on what your business can deliver.

Objection - handle as you go

When you are dealing with a small group, address their issues as you go. Make your prospects feel comfortable to ask questions when they come up and address them before moving onto the next part of your presentation.

This may kill the flow, but when the customer wants to interrupt let them. If something is nagging them, and they cannot get it out of their mind, then it will be harder for them to focus on what it is that you want to say

The Startups 100 list is announced today, identifying the UK’s most innovative

Founders of RateMyPlacement.co.ukFrom Startups 100: The Startups 100 list is announced today, identifying the UK’s most innovative, inspiring and ground-breaking new companies.

Startups 100, selected by the startups.co.uk team, celebrates the 100 most exciting, promising, disruptive new businesses and entrepreneurs shaping the start-up market right now. The list includes BookingBug, RateMyPlacement.co.uk and MyDestinationInfo.com; three enterprising business featured on BusinessWings.

Top of the list is Huddle, one of the most successful tech companies to come out of the UK in years. Founded by Alastair Mitchell and Andy McLouglin, Huddle provides packages of project management and online collaboration software and, while there are many players in this market, has managed to gain a remarkable stronghold both in the UK and the US, securing some impressive blue-chip and public sector clients including Nokia, Panasonic, Kia Motors and the NHS.

Sara Rizk, editor, Startups.co.uk, said: “Huddle was an obvious choice to top this year’s Startups 100 list. In just a few years Alastair and Andy have created a market-leading brand with global reach.

"What these two entrepreneurs have achieved, supported by an enthusiastic, fast-growing team, is proof that world-beating technology companies are not the preserve of Silicon Valley. We’re incredibly proud to have them heading up our list.”

Startups 100 also includes:

• Levi Roots, founder of Reggae, Reggae Sauce
• Bulldog, the male grooming products
• SquidLondon, who developed an umbrella which changes colour in the rain
• tweetdeck, the social networking application
• BrewDog, the independent beer makers
• RentYourRocks.com, which provides online diamond jewellery hire.

“Every single company on our 2010 list has felt the effects of launching during one of the most turbulent economic periods in modern history,” Sara continues.

“For some it has presented unexpected challenges, while others have relished the opportunities the downturn has thrown up. The result is a list of companies and entrepreneurs to be proud of. The Startups 100 is made up of a truly eclectic group of businesses and entrepreneurs."

Sara adds, "On our list, global brands sit alongside one-man bands in what we believe is an accurate reflection of the UK’s colourful, diverse and vibrant start-up community.”

Startups: What MBA Grads Are Missing

A great post today can be found over at onstartups.com - post is titled: Startups: 10 Things MBA Schools Won’t Teach You. Not only is the post full of great information - the comments are even better.

Here is a summary of the 10 Things MBA’s Won’t Teach You:

Strategic planning won’t take place of managing your bank statement and cash flow.
There are always more things to do. Start deciding “what not to do”.
Sleep - entrepreneurs work in their sleep.
People are Resources, not the other way around.
Learn to read your market, and put down the book on efficient pricing theories.
Understand all of your costs.
Spend more time on lead generation and sales conversion than on product matrices.
Build a visionary and passionate work culture.
People buy and do business with people they like. Be likeable.
People and markets are not always rational.

Additional reading about start-ups and small business trends:
Five Myths about Financing Start-Ups that Hurt Entrepreneurs

Senin, 30 Agustus 2010

The Perks of a Woman-Owned Business

Women use unique benefits to show employee appreciation--and help their employees find a balance between work and their families.
October 26, 2005
By Aliza Pilar Sherman
Do women business owners bring more perks to the workplace than men? Maybe not, but the perks they offer employees often have a decidedly feminine touch.

Hillary Kelbick, 49, president of MKP Communications Inc., a $5 million marketing and consulting firm based in New York City, offers perks that have become common in today's companies, including flexible work schedules and telecommuting. Less typical is her policy that staff can bring their young children to work when day care is an immediate issue. Kelbick also encourages staff to purchase new outfits and expense them for important client meetings. "This has worked wonders over the years in helping my [employees] feel better about themselves and therefore represent MKP in the best possible light."

Teri Rogers, 49, president of TakeTwo, LLC, a film and video production company in Kansas City, Missouri, focuses benefits on balance. "We have a 'family first' policy, which means we'll adjust work schedules to accommodate an employee's family obligations or give them time off to take their kids to the doctor or dentist," says Rogers of her $5 million-plus company. She also hires massage therapists, caters lunches and creates themed after-hours events to show employees her appreciation.

But the perks don't stop there. "We pay for parking and flu shots and provide breakfast and an afternoon snack daily," Rogers says. "We buy dinner for an employee and spouse or provide a day at the spa for special occasions or just to say thanks for working hard on a project."
"The great challenge [with perks] is to create an organizational culture that effectively balances what the business must do to thrive with the individual needs of the employees," says Aya Fubara Eneli, author of Live Your Abundant Life. "Happy and supported employees tend to be more productive and loyal employees." Fubara Eneli cautions that business owners and employees should be wary of one-size-fits-all solutions and instead carefully come up with strategies that promote family and individual growth without jeopardizing the company's primary mission.

Wellness lifestyle expert Terra Wellington says women business owners must consider two things before implementing perks: First, don't lose sight of the fact that you aren't your employees' mother. Second, remember that you are still running a business, first and foremost.
Says Wellington, "I have seen some women business owners who are naturally maternal focus so much on people's problems and social elements that they lose sight of necessary business management, including marketing, managing the bottom line, staying results-oriented and focusing on employee performance."

What should you spend for perks? Kelbick says she has refined the perks and processes so individuals' needs are fulfilled with minimal impact on the budget--about $50,000 per year.
Perks work. "They have always enabled me to compete with other companies [that] might be larger, more established and have more credibility--on the surface--than my company," explains Kelbick. "They've given me an advantage in successfully hiring the right people."
Rogers believes that while women employees are "programmed to want more than work in their lives," men are learning to want the same. "Men appreciate balance in their lives as much as women do. And who would turn down a good massage, anyway?"

Aliza Pilar Sherman is an author, freelance writer and speaker specializing in women's issues.

Minggu, 25 Juli 2010

Sedekah itu Gak Nunggu Ikhlas

"Sedekah itu seikhlasnya" kalimat itu biasanya yang saya gunakan kalo diminta sumbangan. "Maksudnya seikhlasnya apa sih pak" tanya temen saya, "kalo ada uang ya ngasih kalo gak ada uang ya jangan dipaksakan", jawab saya. " sering sedekah?" tanya temen saya, " ya karena jarang punya uang ya jarang", jawab saya. " Lagian juga kalo punya uang kalo ngasihnya gak ikhlas percuma aja gak ada pahalanya", saya nambahin.

Lain waktu,
"Pak ada mobil keliling yang suka minta sumbangan tuh di depan rumah", kata anak saya, "Bilangin gak ada ", jawab saya. "Belum tentu dananya juga bener disalurkan jangan2 dipake sendiri, daripada ngasihnya gak ikhlas mendingan gak usah aja" kata hati saya.

Lain waktu lagi,
"Pak nih ada edaran dari Panitia Pembangunan Mesjid di kompleks Bapak diminta jadi donatur untuk pembangunan Mesjid", kata istri saya. "Males ah, nyumbang pake diumumin segala, itu riya namanya nanti gak ikhlas jadinya", jawab saya.

Kata "ikhlas" menjadi senjata pamungkas saya sebagai tameng untuk tidak memberi.
Percuma memberi kalo gak ikhlas, dan sialnya ikhlas itu lama banget datangnya ke diri saya sehingga bertahun tahun saya menjadi orang yang jarang memberi.

Pertemuan saya dengan komunitas TDA di Milad 3 yang menghadirkan Ustad Lihan mengubah pola pikir saya dalam bersedekah. Buku2 dan ceramah Ustad Yusuf Mansur serta tulisan Ippho Santosa banyak memberi wawasan baru mengenai nilai2 sedekah.

Untuk bersedekah sebenarnya gak usah nunggu ikhlas dulu, lakukan aja sesering mungkin. Bisa saja dalam 10 kali kita bersedekah yang 6 tidak ikhlas awalnya tapi masih lumayan ada 4 yang ikhlas. Dan kalo sering bersedekah lama2 akan jadi kebiasaan sehingga Nilai ikhlasnya sudah lebih banyak lagi yang pada akhirnya nanti bersedekah itu sudah menjadi kebiasaan sehari2.

Kalo bersedekah ada unsur riya juga lakukan aja, toh yang rugi diri kita sendiri kalo yang menerima sih masih bisa merasakan kebahagian. Lumayan masih tidak merugikan orang lain.

Semua kegiatan yang baik memang awalnya harus dipaksa dulu sambil jalan diharapkan kesadaran mulai muncul.

Coba simak;
Sholat itu harus khusyu, memang kalo gak khusyu gak usah sholat?
Puasa itu harus bisa menjaga hawa nafsu, memang kalo gak bisa menjaga hawa nafsu gak usah puasa?

Bukannya lebih baik;
Sholat aja dulu nanti juga lama2 bisa khusyu
Puasa aja dulu nanti juga lama2 bisa menahan hawa nafsu
Sedekah aja dulu nanti juga lama2 bisa ikhlas.....

Jadi untuk bersedekah ternyata gak usah nunggu ikhlas dulu yang penting lakukan saja jangan dipikir jangan dihitung....

..Just Action !!!

Saat ini Divisi TDA Peduli sedang menggalang dana untuk acara Santunan Ramadhan TDA Peduli yang dikomandani oleh pak Dewanto dan pak Irwan Subik, Semoga sahabat2, rekan2 TDA Bekasi bisa ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.

Salam berbagi

Ato Sunarto

Faktor Kali Dalam Bisnis

Mungkin anda sering bertanya-tanya, mengapa si A dalam waktu singkat usahanya berkembang begitu pesat? Atau si B dalam waktu singkat punya cabang begitu banyak? Jawabannya adalah karena faktor kali (multiplier effect).

Usaha yang lambat biasanya karena sistimnya masih menggunakan factor penjumlah misalnya 2 + 2 = 4, 4 + 4 = 8, 16 + 16 = 32. Ini juga bisa maju, tapi agak lebih lambat. Tapi bila Anda punya usaha yang memiliki faktor kali akan jadi seperti ini: 2 x 2 = 4, 4 x 4 = 16, 16 x 16 = 256. Jauh lebih besar hasilnya.

Usaha apa contohnya yang memiliki faktor kali? Semua usaha punya factor kali. Cuma jenisnya berbeda-beda. Misalnya usaha rumah makan, salah satu faktor kalinya adalah lokasi yang ramai. Lihat saja restoran McDonalds di Sarinah Thamrin menjadi 10 besar paling ramai di dunia karena faktor kalinya adalah lokasi yang strategis dan ramai.

Usaha eceran faktor kalinya adalah lokasi yang ramai dan banyaknya jumlah cabang. Usaha grosir faktor kalinya adalah pelanggannya yang membeli dalam jumlah banyak dan berulang-ulang.

Hanya itu? Masih banyak lagi. Misalnya publikasi, iklan, promosi, tenaga sales. Berikut ini uraiannya.

*Menggunakan Publikasi*

Ingat dengan ayam bakar Wong Solo? Restoran ini “meledak” omsetnya gara-gara seorang seorang wartawan menulis berita tentang usaha ayam bakar yang saat itu masih di kaki lima di kota Medan dengan judul “Sarjana Menjual Ayam Bakar”. Jadi tulisan di koran itu telah menjadi faktor kali. Memang pemiliknya Puspo Wardoyo pintar sekali memanfaatkan publikasi seperti mengadakan Poligami Awards, membuat menu Jus Poligami.

Contoh lain: jaringan bisnis MQ Corporation milik AA Gym dengan publikasi dari segi spiritual, The Body Shop dengan publikasi dari segi kepedulian lingkungan hidup, Moamar Emka dengan buku Jakarta Undercover, Dewi Lestari dengan buku Supernova.

*Menggunakan Iklan atau Promosi*

Baru-baru ini saya melihat langsung toko roti baru namanya BreadTalk di Mal Taman Anggrek. Saya saksikan pembelinya rela antri sampai hampir sepuluh meter untuk membeli roti yang katanya lebih enak itu. Kenapa bisa begitu ramai sementara toko roti lain di tempat yang sama tidak seramai itu? Karena faktor kali dari iklan dan promosi di Metro TV dengan menggunakan para artis ternama. Iklan tersebut menggugah rasa ingin tahu penonton untuk mencobanya.

Contoh lain: DRTV.

*Menggunakan Tenaga Pemasaran/Sales*

Anda tahu jaringan toko kredit Columbia? Kebetulan saya sendiri kenal dengan pemiliknya, Bapak Leo Chandra. Katanya, tahun lalu omsetnya mencapai Rp. 1,2 trilyun. Apa kiatnya? Dia tidak menggunakan iklan atau membuka outlet di lokasi yang ramai dan strategis. Tapi dia menggunakan 20.000 tenaga sales di seluruh Indonesia.

Toko-toko sepatu di PIK Pulo Gadung juga menerapkan hal serupa, yaitu dengan menggunakan tenaga pemasar lepas (freelance) yang dibekali dengan brosur dan katalog gambar produk. Jadi, para pembeli tinggal memilih melalui katalog tersebut.

Contoh lain: perusahaan network marketing/MLM, kartu kredit Citibank, bahkan partai seperti Partai Keadilan Sejahtera juga menggunakan strategi pemasaran langsung (direct selling). Saat dalam Pemilu 1999 dengan 15.000 kader yang mentargetkan 1 orang menggaet 20 orang pemilih, partai ini berhasil mendapat 1.4 juta suara. Saat ini dengan sistim pendekatan yang sama telah terkumpul 400.000 kader. Berapa nanti perolehan suaranya di tahun 2004 bila 1 orang kader menggaet 20 pemilih?

*Menggunakan Tokoh atau Model*

Baterai ABC menguasai 90% lebih pangsa pasar baterai di Indonesia. Saat saya berkunjung ke pabriknya di Daan Mogot bulan Desember tahun lalu, Ibu Herlili Sumampouw, manajer periklanannya membuka rahasia bahwa salah satu faktor kalinya adalah dengan menggunakan orang-orang cebol dan petinju Evander Holyfield. Mereka menggunakan orang-orang cebol sejak tahun 70-an yang disuruh menari-nari di arena Pekan Raya Jakarta. Hasilnya, omset penjualan baterai ABC naik seperti roket, katanya.

Begitu juga saat memperkenalkan Baterai ABC Alkaline, tadinya ABC tidak dikenal sebagai produsen baterai alkaline sebelum menggunakan model iklan petinju kelas berat Evander Holyfield. Seorang model atau tokoh memiliki banyak penggemar, inilah faktor kalinya.

*Membuka Cabang Sebanyak Mungkin*

Untuk usaha eceran/retail, inilah faktor kalinya. Alfa Mart adala contohnya. alam waktu singkat bisa menyamai jumlah cabang Indomaret yang sudah lebih lama di bisnis ini. Dengan agresif mereka terus membuka cabang dengan cara waralaba yang lebih fleksibel daripada Indomaret. Caranya, bila si calon partner itu hanya punya lahan dan bangunan tanpa modal kerja, Alfamart siap mengisi barang. Faktor kali untuk usaha eceran tidak hanya itu, bisa juga dengan cara menitipkan barang di outlet-outlet.

*Menjual Secara Grosir*

Untuk usaha grosir, faktor kalinya tidak perlu dengan membuka banyak toko. Tapi dengan mencari banyak pedagang yang membeli dalam jumlah banyak secara berulang-ulang. Ini bisa dilihat di toko-toko di Tanah Abang, Pasar Anyar Bogor atau Cipulir. Rata-rata mereka memiliki pelanggan tetap yang secara rutin berbelanja.

Misalnya satu toko memiliki 20 pelanggan yang rata-rata berbelanja Rp. 2 juta per bulan, total per tahun menjadi Rp. 480 juta. Usaha grosir ini akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan usaha para pedagang langganan tersebut dan bertambahnya pelanggan baru. Adakah para pelanggan yang memiliki lebih dari satu toko? Tentunya ada, bahkan ada yang
memiliki 10 toko. Inilah faktor kalinya.

*Menggunakan Internet*

Jeff Bezos adalah salah orang terkaya di Amerika saat ini. Dia meraihnya dalam waktu kurang dari 10 tahun. Dia adalah pendiri situs belanja buku di internet Amazon.com yang menjual buku secara online kepada para pelanggan di seluruh dunia. Dalam waktu singkat Amazon telah mengalahkan toko buku terbesar di Amerika yang sudah berdiri puluhan tahun, Barnes and Noble. Saya pribadi juga telah menggunakan media ini sejak September tahun lalu.

Hasilnya di luar dugaan. Dalam waktu 3 bulan pengunjung yang datang diwebsite sudah hampir 1.000 orang dengan omset yang lumayan. Bahkan telah berhasil mendapatkan agen/distributor di beberapa daerah di Indonesia. Apa faktor kalinya? Karena saya berkawan dengan Mr. Tung Desem Waringin, seorang pembicara seminar yang telah berbicara di hadapan lebih dari 60.000 orang dan siaran talk show di radio Smart FM yang mempunyai jaringan di 7 kota di Indonesia.

Di setiap kesempatan dia selalu menyebutkan alamat situs internet kami. Di samping itu, internet diakses oleh orang di seluruh dunia, tanpa batas wilayah dan waktu. Perkembangan bisnis di internet ini patut kita antisipasi. Peluangnya sangat, sangat, sangat besar.

*Apakah faktor kali hanya untuk bisnis saja?*

Tidak. Penggunaan faktor kali tidak melulu untuk tujuan bisnis saja. Seorang dosen yang biasanya hanya bisa berbicara di depan mahasiswa bisa menggunakan media lain untuk meraih audiens yang lebih besar. Misalnya dengan menulis buku, mengadakan seminar, membuat kaset/CD, membuat situs internet, siaran di TV atau radio. Contohnya adalah Rhenald Kasali, Roy Sembel (dosen, ahli keuangan). Seorang atlit yang sebelumnya adalah atlit lokal bisa meningkatkan faktor kalinya dengan mengikuti pertandingan dengan skala nasional atau internasional. Seorang da’i seperti Aa Gym paling ahli memanfaatkan faktor kali ini. Dia membuat faktor kali melalui tabloid,radio, televisi, internet, buku, VCD dan lain-lain. Inul Daratista menjadi begitu fenomenal setelah tampil di televisi. Padahal sebelumnya dia hanya bernyanyi dari kampung ke kampung.

*Kesimpulan*

Dari beberapa contoh di atas, intinya adalah bagaimana dalam meningkatkan usaha kita selalu mencari faktor kali. Sekali lagi FAKTOR KALI. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi inspirasi bagi anda. Mohon maaf, bukan saya ingin menggurui, tapi ingin berbagi ilmu dan pengalaman yang tentu saja banyak kekurangannya. Mudah-mudahan tulisan ringan ini ada manfaatnya.

--
Wassalam,

Badroni Yuzirman, TDA 0000001-0106
www.manetvision.com

Mencuri Ide Bisnis, Apakah Dibenarkan?

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, mencuri ide bisnis adalah hal yang paling disukai oleh kita yang baru pertama kali memulai bisnis. Sampai-sampai ada istilah yang populer, ATM (Amati Tiru Modifikasi). Kita bisa mencuri ide bisnis dari orang yang sudah sukses dengan bisnisnya atau orang yang sudah lebih dulu memulai bisnisnya, walaupun dia belum sukses, tetapi sudah terlihat prospek yang bagus dari bisnisnya.

Paling tidak, mencuri ide bisnis menjadi begitu sangat menarik karena lima hal berikut:

1. Tidak perlu repot-repot menentukan bisnis apa yang akan dibangun
2. Tidak perlu susah menentukan target pasar
3. Tidak perlu sulit merumuskan program promosi
4. Tidak perlu menganalisa dari awal tentang kendala-kendala bisnisnya
5. Bahkan, kita bisa “kecipratan” nama besar dari bisnis yang kita curi

Secara umum mencuri ide bisnis terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Sebagian. Maksudnya adalah ide bisnis yang dicuri mungkin jenis bisnisnya saja, program promonya saja, pelayanannya saja, dan lain-lain. Misal: Kita melihat teman kita ada yang punya bisnis toko online produk-produk muslim, dan ternyata sukses. Kemudian kita mengikuti jejaknya dengan membuka toko online yang serupa, yaitu menjual produk-produk muslim. Dan kita lakukan ATM pada bisnis kta, kita modifikasi sedemikian rupa sehingga memiliki citra sara yang berbeda dari toko online teman kita. Ini contoh mencuri ide bisnis dari segi jenisnya.

2. Keseluruhan atau hampir keseluruhan. Nah, tetap dengan contoh yang sama. Apabila kita tidak melakukan ATM pada toko online kita, atau hanya sebagian kecilnya saja, bahkan, kita jiplak kata-kata yang ada di toko online teman kita, maka kita termasuk mencuri ide bisnis secara keseluruhan atau hampir keseluruhan.

Setelah kita mengetahui keuntungan dan jenis mencuri ide bisnis, kita juga harus pahami masalah etika dari mencuri ide bisnis. Tahukah kita bagaimana perasaan orang yang kita curi ide bisnisnya? Saya pribadi, jujur hal itu sangat menjengkelkan! Pasalnya, toko online saya e-Salim.com sudah dicuri idenya oleh beberapa toko online baru. Bagaimana tidak jengkel? Dengan tidak malu-malu mereka menjiplak kata-kata yang ada di e-Salim.com.

Dengan ini maka saya bisa simpulkan, jika mencuri ide bisnis hanya sebagian maka ini bisa ditolerir. Namun, jika sudah secara keseluruhan atau hampir keseluruhan maka ini yang tidak benar. Saran saya, jika ingin mencuri ide bisnis orang, jangan lupa lakukan ATM, Amati Tiru dan Modifikasi. Tunjukan pada dunia kalau kita mampu!

Apakah Anda pernah mencuri ide bisnis? Atau malah ide bisnis Anda pernah dicuri?

Design by infinityskins.blogspot.com 2007-2008