Selasa, 09 Maret 2010

Pot Minimalis Sekarang Lagi Laris

Tukang Kebun Sukses Kembangkan Usaha Nursery

dscn1036Sinar matahari sudah lebih condong ke barat. Hari memang sudah sore, tapi Diki (29) masih sibuk mengaduk-aduk adonan semen untuk bahan pembuat pot. Seharian ini, ia sudah membuat hampir lima buah pot ukuran tanggung berbentuk minimalis.

Pot-pot seperti ini katanya sedang laris di pasaran. Bentuknya sederhana, tapi multi fungsi. Bisa dibuat untuk wadah tanaman, jadi hiasan di dalam rumah atau jika dibalik bisa berubah fungsi jadi tempat lampu taman.

Sore itu, usai mengaduk-aduk semen, Diki, juga sibuk merapikan pot minimalis yang berbentuk gerigi di bagian pinggirnya. Sesekali Yuyun, majikannya melihat hasil pekerjaannya. Ia langsung menegur pekerjaannya ketika dilihatnya tak rapi. Yuyun minta agar Diki merapikannya lagi.

Yuyun sang majikan, tidak hanya mengawasi Diki. Ada tiga anak buahnya yang lain juga sedang bekerja membuat pot seperti Diki. Selain punya usaha pembuatan pot minimalis, pria itu juga punya usaha kebun tanaman hias. Makanya, sore itu ia kelihatan mondar-mandir terus. Dari tempat produksi pot minimalis, ke lokasi kebun bunganya yang hanya berjarak beberapa meter saja. Sesekali, ia juga sibuk melayani pembeli yang datang ke Taman Bunga miliknya yang berada persis di belakang rumahnya di Anggrek Sari Batam Centre.

Area belakang rumah miliknya, memang telah disulap jadi tempat usaha sejak enam tahun silam. Awalnya, hanya membuka kebun tanaman hias. Sekarang karena trend pembuatan pot minimalis sedang booming, ia juga ikut menangkap peluang itu. Lokasi usahanya persis berhadapan dengan Pasar Mitra Raya di Batam Centre.

dscn1031Usaha pembuatan pot minimalis ternyata cukup menguntungkan. Peminatnya sebagian besar adalah kalangan menengah atas dan pemilik rumah minimalis di Batam. Semua pot-pot minimalis buatannya diproduksi secara manual dengan tangan. Mungkin itu juga yang jadi daya tarik lainnya, selain karena sedang trend serba minimalis sekarang ini.

Harganya pun bervariasi tergantung ukuran. Untuk satu pot minimalis dipatok sekitar Rp30 ribu-Rp200 ribu. Meski harganya mahal untuk kalangan biasa, tapi pembeli pot minimalis tak pernah sepi. Setiap hari ada saja pembeli pot minimalis di kebun Nursery Taman Air milik Yuyun Mahmud Yunus di Perumahan Anggrek Sari.
”Dalam sebulan bisa terjual 60-80 buah pot minimalis,” ujar Yuyun.

Omzet yang diraih Yuyun juga bisa mencapai Rp15 juta-Rp20 jutaan setiap bulan. Tapi omzet akan menurun ketika musim liburan sekolah tiba, yaitu hanya Rp5 juta saja. Dengan omzet yang lumayan besar, Yuyun pun mampu menggaji tiga karyawannya dengan Rp1,5 juta per bulan.

Kerja Santai, Uang Tetap Mengalir

Bosan mondar-mandir, ia pun duduk di kursi yang sengaja disediakan untuk beristirahat sejenak. Udara sejuk di kebun belakang rumahnya berhembus. Ketika Yuyun sedang duduk, anaknya bernama Napis yang baru berumur 1,5 tahun mulai rewel. Anak kecil itu mungkin ingin digendong. Yuyun pun mengulurkan kedua tangannya. Anaknya pun segera diangkat kepangkuan. Bocah itu akhirnya tidak lagi rewel.

”Kerjanya seperti ini, memang terlihat santai. Bahkan kita bisa bekarja sambil mengasuh anak,” katanya kepada Batam Pos yang berkunjung ke sana sore itu.

Dalam menjalankan bisnis pot minimalis dan tamanan hias, Yuyun tak perlu repot-repot mencari pembeli. Sejak usaha pot minimalis dirintis tiga bulan lalu, para pembeli pot minimalis datang sendiri ke tempatnya. Maklum tempat usahanya persis di pinggir jalan depan Mitra Raya Batam. Di jalan itu ratusan kendaraan lalu lalang setiap hari. Merekalah yang jadi calon konsumennya.

Saat Yuyun asyik menggendong anaknya dan ngobrol dengan Batam Pos, sebuah kijang berhenti di depan kebunnya. Ibu muda bersama anaknya berpakaian seragam SD turun dari mobil itu. Ia mendekat dan melihat pot-pot minimalis yang dipajang di bagian depan area kebun milik Yuyun.

Saat itu, seorang karyawan Yuyun bertubuh kurus langsung menyambutnya dengan ramah. Tapi, mungkin karena pembeli ingin nego harga, karyawan Yuyun tidak bisa memberi keputusan. Ia pun memilih melimpahkan pada pria itu.
Ibu muda itu ternyata menginginkan pot minimalis yang lebih ramping. Soalnya mau dipakai untuk menyimpan ranting-ranting di dalam rumah dan dijadikan pajangan untuk menghiasi rumahnya. ”Saya tertarik membeli ini karena cocok dengan model rumah saya, minimalis. pot-pot inikan modelnya minimalis,” kata wanita yang bernama Pipi pada Batam Pos.

Yuyun pun mengiyakan pesanan ibu muda itu. Untuk satu pot minimalis dengan ukuran tertentu sesuai dengan keinginan pembeli harganya lebih mahal. Ia mencontohkan sebuah pot minimalis ukuran lebih kecil dari panjang 30 cm x lebar 20 cm dan tinggi 60 cm, harganya Rp200 ribu. ‘Selesainya baru dua minggu ke depan,’ karena kita tidak punya cetakannya. Harus dibuat dulu cetakannya,” kata Yuyun.

Baru sebentar ibu muda itu pergi, sebuah mobil sedan lain berhenti. Yang keluar adalah seorang pria bertubuh tinggi besar bersama dan pria lain yang lebih kurusan. Keduanya ternyat mencari bunga kamboja.

”Ada pak tapi cuma dua. Tanamannya juga kurang bagus,’’ jawab Yuyun sambil menggendong anaknya.
Meski sudah dibilang bunga kambojanya kurang bagus, rupanya pria itu tetap ingin membeli. ”Saya ambil dua-duanya. Ini tinggal saya ganti potnya biar bagus,’’ katanya setelah melihat bunga kamboja yang dimaksud lebih dekat.Pria itupun akhirnya memborong beberapa tanaman hias lainnya dari kebun tanaman hias milik Yuyun. Ia juga membeli satu buah pot minimalis.

Menurut Yuyun, usaha yang digelutinya terus berubah sesuai dengan keadaan. Di situlah, seorang Yuyun dituntut harus memiliki ide kreatif untuk menciptakan hal-hal baru.

”Di sini kerjanya santai, tapi sebenarnya kalau otak jalan terus. Kita mikirin kira-kira besok apa yang mau kita buat. Kayaknya mikirnya jadi 24 jam,” kata Yuyun.

Usaha pot minimalis termasuk usaha baru bagi pria itu. Ia merintis sejak Oktober 2008. ”Sampai sekarang baru tiga bulanan. Usaha pot minimalis ini muncul karena Yuyun memperhatikan bentuk rumah-rumah di Batam. ‘’Di Batam saya melihat hampir 90 persen rumahnya berbentuk minimalis,” ujarnya.

Dari sanalah, ia terpikir untuk membuat pot-pot minimalis untuk menghiasi rumah-rumah yang juga minimalis. Model bentuk pot minimalis ia pelajari dari membaca buku. Prediksi Yuyun, pot minimalis akan banyak diminati ternyata tidak meleset. Selama tiga bulan, pot minimalisnya diserbu pembeli.

Belakangan karena banyak yang pesan, Yuyun sampai tidak punya banyak stok pot-pot minimalis di tempat usahanya. Sebagian besar pot minimalis yang dipajang ternyata merupakan pesanan orang. ”Kalau nanti yang pesan ambil, pot–pot minimalis ini habis,’’ katanya.

Hasil penjualan pot minimalis yang omzetnya mencapai Rp15 juta-Rp20 jutaan per bulan itu, belakangan jadi mengalahkan omzet hasil penjualan tanaman hias yang sudah ditekuni pria itu duluan. ”Kalau hanya jual tanaman hias saja, tidak bisa diandalkan sekarang ini,” katanya

Meski begitu, usaha tanaman hias yang ada dikebunnya tetap dijalankan. Soalnya selain menjual tanaman hias, Yuyun juga melayani jasa pembuatan taman rumah. Dengan memiliki tanaman hias sendiri, jasa pembuatan taman rumah yang ditawari Yuyun pun jadi bisa bersaing dengan jasa pembuatan taman rumah lainnya.

”Untuk jasa pembuatan taman rumah, biasanya konsumennya orang-orang menengah ke atas,” kata pria itu. Sampai saat ini sudah ratusan rumah pribadi yang taman rumahnya dikerjakan oleh Yuyun. Sebagian besar adalah rumah-rumah di Sukajadi dan Duta Mas.

***

Yuyun termasuk salah seorang wiraswasta yang cepat menyesuaikan dengan keadaan. Saat di Batam booming rumah minimalis, ia pun segera ambil peluang membuat pot-pot minimalis. Begitu juga sebelumnya, saat di Batam banyak rumah-rumah mewah yang butuh taman indah di halaman rumah, ia juga membuka jasa pembuatan taman rumah. Tidak ketinggalan, saat ia mulai tidak bersaing harga untuk jasa pembuatan taman, ia akhirnya menjadikan bisnis tanaman hias untuk menekan harga jasa pembuatan taman.

Kesuksesan bisnis pot minimalis yang ia miliki sekarang diperoleh melalui proses panjang. Yuyun ternyata seorang sarjana alumni Universitas Winaya Mukti Bandung. Jurusanya agronomi, jadi klop dengan usaha yang digelutinya sekarang. Untuk merintis usahanya, dulu ia juga rela jadi tukang kebun. ”Pertama kali kerja di Batam saya jadi tukang kebun, hari-hari kerjanya cuma merawat kebun di hotel Puri Garden,” ujarnya tanpa merasa malu.

Memasuki tahun 1994, karirnya pun menanjak. Ia diterima bekerja di sebuah perusahaan kontraktor Jepang, PT Sumitomo Densetsu. Saat itu ia bergaji dolar dan mengerjakan proyek taman hotel-hotel di Batam seperti taman Hotel Puri Jaya. Yuyun juga sempat pindah kerja ke PT Tiptanindo. Di perusahaan yang juga kontraktor taman itu, ia mengerjakan proyek pembuatan lapangan golf di kawasan Industri Lobam.

Setelah beberapa tahun bekerja di perusahaan kontraktor, pria ini akhirnya memutuskan mandiri pada tahun 1998. Proyek-proyek taman bernilai besar mulai berkurang karena terkena imbas krisis moneter tahun 1997. Beruntung, saat keluar dari perusahaan, Yuyun yang punya banyak pengalaman membuat taman-taman resort dan hotel serta lapangan golf diajak oleh temannya untuk membuat taman di Hotel Holiday INN.

Proyek-proyek taman dengan nilai kontrak lumayan besar pun akhirnya berdatangan. Yuyun membeli tanaman-tanaman hias dan bunga dari para pemilik usaha tanaman hias. ”Saya waktu itu tak ingin memiliki kebun tanaman hias sendiri. Saya ingin menghidupkan mereka yang punya tanaman hias,” katanya.

Sayangnya, lama-lama jasa pembuatan taman yang ia tawarkan tidak bisa bersaing lagi dari segi harga. Sebabnya, tanaman hias untuk taman, semuanya dibeli dari orang lain. Sementara kompetitornya memiliki kebun tanaman hias dan bunga sendiri.

Saat itulah Yuyun pun menilai bahwa prinsipnya ingin menghidupkan pemilik tanaman hias adalah salah. Soalnya untuk bisa bersaing dalam jasa pembuatan taman, satu-satu jalannya adalah harus memiliki kebun tanaman hias sendiri.
Sejak tahun 2003, pria itu akhirnya memutuskan untuk membuka usaha kebun sendiri. Kebun tamanan hias itu awalnya tidak dikelola dengan serius. ”Saya cuma memanfaatkan lahan di belakang rumah. Eh, sekarang jadi besar dan jadi kebun tanaman hias,” katanya sambil tersenyum.

Dari sisi omzet, menjual tanaman hias ini tak bisa diandalkan. Tapi usaha ini sangat mendukung jasa pembuatan taman yang ditawarkannya. Sekarang Yuyun memiliki tiga bidang usaha yang satu sama lainnya saling mendukung, yaitu pot minimalis, kebun tanaman hias dan jasa pembuatan taman rumah.

Awalnya hanya dikerjakan sendiri, kini dengan semakin besarnya usaha yang dimiliki, Yuyun jadi memiliki tiga anak buah. Karyawannya akan bertambah banyak ketika Yuyun mendapatkan proyek pembuatan taman dengan kontrak lumayan besar.

Dari ketiga usahanya itu, sekarang yang sedang berkibar adalah usaha pot minimalis yang dikerjakan secara tradisional. Dalam menjalani bisnis pot minimalisnya, Yuyun mengaku tidak mendapat banyak hambatan. ”Kendalanya paling cari karyawan yang ulet dan telaten. Soalnya buat pot minimalis ini membutuhkan keuletan dan ketelatenan. Selain itu tak sekedar membuat pot. Harus punya jiwa seni juga,” katanya.

Salah satunya adalah Diki. Karyawan Yuyun yang satu ini sudah dua bulan bekerja membuat pot-pot minimalis di tempat usaha miliknya. Setiap hari Ia kerja mulai pukul 08.00 WIB-17.00WIB. Sebelumnya, diki adalah kuli bangunan yang mengerjakan pembangunan sebuah apartemen di Batam Centre. ”Karyawan disini, sebelum kerja saya ajari dulu cara buat pot,” kata Yuyun.

Penghasilan bekerja membuat pot minimalis tergolong besar. Kata Diki, saat menjadi kuli bangunan ia dibayar sesuai target pekerjaan. Upahnya dibayar sesuai dengan pekerjaannya yang telah selesai. Tapi, ternyata pekerjaan yang ditargetkan kadang tidak selesai dalam sebulan. Bila sudah begitu, Diki pun susah hati karena tidak dibayar. ”Saya kan butuh uang untuk makan sehari-hari. Memang sih makannya di kantin. Tapi makan di kantin, kita harus bayar setiap 2 minggu sekali, tak boleh nunggak lagi,” ujarnya.

Beruntung, Yuyun sang Pemilik Usaha Pot Minimalis dan Nursery Taman Air di Depan Pasar Mitra Raya menerima Diki sebagai pekerjanya. Bagi Diki, bekerja membuat pot minimalis jauh lebih menguntungkan dan menyenangkan.
Setiap bulan, ia sudah pasti menerima upah Rp1,5 juta. Upah yang lumayan dibanding bekerja menjadi kuli bangunan atau bekerja di PT-PT dengan upah UMK Rp1.040.000 per bulan tanpa lembur. Mendapat upah bayaran yang pasti dan lebih besar dibanding menjadi kuli bangunan, membuat Diki jadi bekerja lebih semangat dan telaten. Apalagi untuk membuat pot-pot ini juga diperlukan kesabaran dan ketelatenan.

Maklum pot-pot minimalis itu dibuat secara manual. Untuk membuat satu buah pot minimalis tak langsung selesai dalam satu hari. Satu buah pot minimalis baru selesai dan siap dijual ke pasaran setelah melalui proses pembuatan selama tiga hari.

Hari pertama merupakan pembuatan pot dari adukan semen dan pasir yang kemudian dilapisi kawat supaya potnya lebih kuat dan tidak retak. Hari kedua, cetakan pot dari adukan semen dan pasir yang sudah dikeringkan sehari semalam itu kemudian dilapisi adukan semen murni. Lalu dibuat bergerigi dengan menggunakan gergaji supaya membentuk pot model minimalis.

Hari selanjutnya barulah proses finishing. Pot-pot minimalis itu dicat warna hitam. Baru di hari ke-empat pot-pot minimalis yang dibuatnya sudah siap untuk dijual ke pasaran. Selain harus dikeringkan, yang tidak kalah lamanya adalah merapikan gerigi di bagian samping potnya.

Diki harus merapikannya satu-persatu gerigi di bagian samping potnya. ”Dalam satu hari ini paling banyak bisa merapikan gerigi dari dua buah pot,” ujar Diki.

Semua pot-pot minimalis yang dibuat memiliki ukuran yang berbeda-beda. Ada pot minimalis ukuran 30 cm x 40 cm x15 cm, 50 cm x 30 cm x 60 cm hingga terbesar ukuran 60 cm x 70 cm x 30 cm.

Namun, tidak semua pot diproduksi dengan ukuran standar. Banyak juga pembeli yang memesan dengan ukuran khusus sesuai keinginannya. Bila sudah begitu, Diki pun bertambah pekerjaan yaitu membuat cetakan pot minimalis dari papan kayu yang dibentuk empat persegi panjang tak beraturan.

Kata Yuyun, 3 karyawan yang bekerja dengannya saat ini termasuk cukup bisa diandalkan. Apalagi, selain mengelola usaha pembuatan pot, ia juga harus mengurusi usaha tanaman hias dan jasa pembuatan tanaman. Untuk urusan pembuatan pot, sekarang ia hanya sesekali saja turun langsung. Selebihnya, dipercayakan kepada tiga anak buahnya. Konsentrasi pria itu dalam bidang usahanya sekarang memang tambah besar. Soalnya, ia harus mengelola tiga usaha yang saling berkaitan.

Design by infinityskins.blogspot.com 2007-2008